Postingan

Menampilkan postingan dengan label Jurnal

High Arched Palate: Diagnosa Anak Kedua

Saat sedang bebersih berkas dan isi lemari, saya menemukan surat dokter untuk cuti kuliah di tahun 2019 karena suatu kondisi anak kedua saya yang saat itu sedang memerlukan perhatian khusus. Saya saat itu berpikir anak saya hanya punya kondisi khusus saja dan dengan berbekal sabar dan ikhtiar insya Allah sembuh. Setelah sedikit browsing, ternyata tidak sesederhana itu juga kala melihat diagnosa dokter yang tertulis dalam surat. High arched palate, itu diagnosa yang dituliskan untuk anak kedua kami di 3 bulan usianya setelah saya mengalami kesulitan menyusui sejak hari pertama ia mau menyusu. Hari ini, alhamdulillah anaknya sudah jadi balita yang insya Allah sehat, aktif, dan supel. Mengingat usianya sebentar lagi akan menginjak 2 tahun, sudah waktunya akan disapih, tapi mengingat perjuangan saya dulu untuk bisa memberinya banyak ASI kok rasanya tidak tega. Saya merasa hanya baru-baru ini saja ia menikmati proses menyusui setelah berbulan-bulan lamanya berjuang dan menderita sebagai bay...

Hello Again My Blog

Gambar
Tak ada angin tak ada hujan (eh ada deng, sekarang sedang musim hujan), tetiba dapat DM dari seseteteh anggota Mamah Gajah Ngeblog dan diajak gabung, diri ini merenung sejenak. Sudah lama gak nulis di blog karena nulis-nulis (yg gak seberapa) panjang sudah beralih ke IG, khawatir gak bisa memenuhi ekspektasi sebagai anggota komunitas. Eh tapi ternyata tetehnya sedang nyari anggota. Yowes bismillah, semoga dengan gabung jadi lebih istiqomah menulis. Toh memang sebetulnya lebih enak, lebih bebas, dan lebih rapih nulis di blog sih. Cuma karena merasa kurang interaksi dengan pembaca jadinya pindah ke IG.  Pertama kali gabung dengan komunitas ngeblog rasanya amaze. Di sana dikasih list tema tantangan menulis tiap bulan dan semua membernya wajib saling blogwalking dan komentar. Setidaknya blognya terjamin bakalan lebih rame pengunjung. Dan saya sebagai pembaca juga ga bingung lagi harus ke mana untuk membaca tulisan-tulisan menarik. Ya memang kadang ingin lebih aktif baca-baca tulisan se...

Didikan Langit

Gambar
Ada suka dukanya mengasuh anak-anak bersama orang tua/mertua (alias numpang). Sukanya adalah ada bala bantuan dan senang melihat cucu disayang eyangnya. Dukanya..hmm..complicated. Semua ibu pasti ingin dinomorsatukan anaknya, dalam kondisi apapun itu. Tapi, mengasuh anak bareng orang tua mengajarkan hal lain. Bahwa anak-anak itu memang adalah titipan, bukan milik. Tak akan pernah kita selalu menguasai mereka, memerintah mereka. Tak ada tempat bagi egoisme orang tua untuk diagungkan anak. Bahwa anak-anak itu memang adalah titipan. Mengasuh dan mendidik mereka adalah kewajiban orang tua. Tapi hasil adalah hak prerogatif Allah semata. Tak ada tempat bagi egoisme orang tua menjadikan anak ini dan itu agar hebat di mata orang. Bahwa mendidik anak adalah ujian keikhlasan. Memberikan yang terbaik saat mereka bersama kita. Namun tidak merasa berat saat mereka berpisah dari kita. Ternyata, mendidik anak bersama orang tua adalah didikan langit. Apakah itu duka?

Algoritma Ujian

Gambar
Pernah merasa dapat masalah/ujian/cobaan hidup di ranah yang sama terus? Pernah berharap seandainya kita diciptakan berbeda dari kita yang sekarang supaya tidak mengalami masalah tersebut? Aku pernah. Ternyata algoritma ujian hidup itu luar biasa. Allah pembuatnya. Ya Allah sudah bilang bahwa setiap orang beriman akan diuji. Allah juga bilang kita akan diuji tidak melebihi batas kemampuan kita. Tapi ternyata kita juga tidak akan diuji di hal-hal yang tidak akan menjadi ujian untuk kita. Makanya ujian orang berbeda-beda. Jika kita kenali diri kita sendiri dan sadari bahwa saat ini sedang terjadi ujian untuk kita, maka kita akan tahu harus apa.    Kalau pakai konsep TM, misalnya orang yang bakat includernya tinggi akan diberi ujian dengan rasa kesepian karena tidak bisa berkumpul dengan kawan-kawan, hal ini tidak menjadi ujian untuk yang bakat includernya rendah. Lalu kalau orang yang bakat maximizernya tinggi akan diberi ujian dengan dorongan bakatnya itu untuk mengurusi segala...

Talents Mapping: Input, Intellection, dan Activator (Si Kolektor, Si Haus Ilmu, dan Si Gercep)

Gambar
Di masa covid ini akhirnya semua seminar dan kuliah dilakukan secara daring. Bagi beberapa orang hal ini sangat menguntungkan karena bisa meniadakan jarak dan memudahkan seseorang ikut seminar/kuliah tertentu. Hmm sayangnya bagi seorang yang berbakat input dan intellection, tapi tidak berbakat activator, semua seminar daring ini menjadi bumerang. Pasalnya bakat intellectionnya itu selalu kehausan tiap kali melihat iklan seminar ini itu yang hanya perlu beberapa klik saja untuk mengikutinya. Belum lagi bakat inputnya yang selalu berbisik 'kayaknya belum punya ilmu mumpuni tentang ini deh, eh kayaknya perlu tahu lebih dalam tentang itu deh, eh ini kayaknya menarik dan perlu dipelajari deh'. Hmmm sebenarnya bakat ini bagus sih tapii dengan skor bakat activator yang rendah, semua ilmu itu berpotensi hanya akan mengendap di kepala! Apalagi kalau saking banyaknya informasi dan ilmu yang masuk malah jadi banjir informasi! Semakin banyak informasi malah semakin tenggelam dan tidak b...

Pengenalan Diri Menurut Johari Window

Gambar
  Kata Pak Dandi, pengenalan diri menurut Johari Window ada 4 area yaitu, Open Area, saya dan orang lain tahu tentang diri saya. Hidden Area, saya tahu tapi orang lain tidak tahu. Blind Area, orang lain tahu tapi saya tidak tahu. Unknown Area, saya tidak tahu, orang lain juga tidak tahu. Prinsipnya adalah open area harus diperbesar, hidden, blind, dan unknown area harus diperkecil. Untuk memperkecil hidden area, kita harus memberitahukan diri kita pada orang lain, istilahnya menjadi pribadi yang asertif, yang mau mengungkapkan pada orang lain maunya kita apa. Nah, kalau untuk memperkecil blind area caranya banyak-banyak ambil feedback dari orang lain yang mengenal kita, berarti harus berani terima kritikan dari orang lain. Terakhir, untuk memperkecil unknown area, caranya adalah dengan pergunakan tools seperti psikotes dan TM. Nah, dalam usaha memperbesar open area, saya mau sharing hasil TM yaa hihihi πŸ˜„

Mereka Anak-anakku, Tapi..

Aku tahu aku ibu mereka, tapi bukan berarti aku memiliki raga dan hati mereka. Aku tahu aku ibu mereka, tapi bukan berarti aku bisa mengatur segalanya mereka. Mereka adalah anak-anakku, tapi mereka bukan milikku. Mereka adalah bagian dariku, tapi mereka bukan diriku. Mungkin mereka membuatku mengerahkan seluruh tenaga dan waktuku untuk mereka. Mungkin mereka membuatku menjadi banyak peran dalam sehari. Mungkin mereka membuatku tak lagi menemukan diriku sendiri. Mungkin mereka membuatku menjalani hari hanya sekedar untuk bertahan. Mereka ingin aku mengerti mereka sepenuhnya, namun aku masih belajar. Mereka pikir aku akan selalu ada untuk mereka, namun aku hanyalah manusia biasa bahkan lemah. Mereka ingin segalaku untuk mereka, namun ada kalanya aku tak mengenal mereka. Mereka ingin perhatianku hanya pada mereka, namun tak jarang aku mengabaikan mereka. Mungkin ada kalanya mereka lebih memilih bersama orang lain selain ibunya, namun aku tidak masalah. Ingin dinomorsatukan anak hanyalah e...

Tak Bisa Memberi Makan Ego

Si Kakak, di umur hampir 3 tahun ini sudah keliatan makin mirip ibunya. Terutama sifatnya. Memang sekarang sedang umurnya mengekspresikan ke-ego-annya. Tapi dia lebih, ya lebih keras kepala dan tidak mau diatur, harus semuanya sekehendak dia sendiri. Dia juga mulai terlihat senang memerintah, mengatur, dan memanipulasi orang lain. Di sisi lain, hatinya sangat sensitif sehingga tidak bisa mendengar omelan nada tinggi. Ya, dia memang mirip saya. Dulu sebelum menikah, saya sempat berpikir bagaimana ya nanti kalau saya punya anak yang sifatnya sangat mirip dengan saya. Akhirnya saya banyak membaca dan bertekad akan memberikan pada anak saya apa yang tidak saya dapatkan dulu dari orang tua saya. Melihat kelakuannya terkadang membuat saya sebal, sebal dengan diri saya sendiri betapa dulu saya sangat merepotkan. Tapi membiarkan dia melepaskan emosinya, membiarkan dia mencoba hal-hal yang penasaran ingin dilakukannya, membiarkan dia melakukan hal-hal besar sendiri, membiarkan dia memiliki kend...

UJIAN

Di workshop Chronic Fatigue kemarin dan juga sering saya dengar di manapun, "Kalau punya masalah, janganlah mengeluh dan mengadu pada Allah, 'Ya Allah, masalahku sangat besar', tapi katakanlah pada masalah itu, 'Hei masalah, aku punya Allah yang Maha besar'." Menurut saya, pernyataan itu kurang pas karena sepemahaman saya, masalah adalah nama lain dari ujian/cobaan/tantangan dan ujian itu datangnya dari Allah. Manusia diciptakan memang untuk diuji dan tentunya kita sebagai manusia ingin lulus, bukan? Jadi pernyataan yang lebih pas dikatakan adalah sebagaimana pernyataan kita ketika diberi tantangan, yaitu "Ya Allah, saya terima dengan ikhlas tantangan/ujian-Mu. Terima kasih ya Allah. Engkau yakin saya bisa melaluinya. Tunjukilah saya jalan solusinya. Jadikanlah saya golongan orang yang bersabar." Pernyataan ini buat saya sedikit banyak bisa meredakan hati yang bergejolak sesaat setelah terjadi masalah. Ketika masalah datang, saya harus beri jeda seje...

Senna's VBAC Story

Alhamdulillahi rabbil'alamiin Marhaban yaa Ramadan Alhamdulillah telah lahir anak ke-2 kami Senna Ramadan FN pada hari senin 1 Ramadan 1440 H pukul 02.59 WIB dengan berat 2.9 kg dan panjang 49 cm. Semoga menjadi anak yang soleh, qurrata a'yun, dan bermanfaat di dunia dan akhirat. Tito & Nurul Birth story: VBAC jarak kehamilan 16 bulan. Berawal dari tamu bulanan yang tak kunjung datang, tapi test pack negatif. Mungkin telat karena baru sibuk kuliah. Beberapa hari kemudian periksa ke obgyn dan hasilnya memang tidak hamil. Setelah telat sebulan, saya merasa mual, kembung, dan pusing. Ditunggu sembuh sendiri 2 hari ternyata belum sembuh. Feeling langsung mengarahkan untuk test pack, ternyata positif. Saat itu perasaan saya campur aduk karena saya baru saja mulai kuliah dan menunda punya anak hingga lulus, apalagi riwayat sesar anak pertama yang jaraknya belum 2 tahun. Saya berencana punya anak lagi setelah anak pertama berumur 3 tahun supaya rencana saya untuk bisa melahirkan n...

VBAC Bukan Modal Nekat

Gambar
VBAC hanyalah satu jalan yang Allah sediakan untuk saya sebagai mahasiswa biokimia untuk mengaplikasikan apa yang selama ini sudah dipelajari. Ya, selama ini saya tahu bahwa jika saya memilih untuk mempelajari biokimia, suatu saat pasti akan terpakai dalam kehidupan sehari-hari. Dan kesempatan untuk VBAC ini adalah salah satu kesempatan yang Allah berikan untuk saya jalankan. Dalam biokimia terdapat 3 hal pokok yang selalu dipelajari, yaitu fungsi dan struktur biomolekul, bioenergetika dan metabolisme, dan sistem informasi genetika. Kuliah bagi saya tidak hanya untuk mengejar nilai dan gelar, tapi selalu ada sesuatu dari dalam kelas yang bisa dibawa ke dunia nyata. Salah satunya jika kita menguasai materi bioenergetika dan metabolisme. Metabolisme adalah rangkaian reaksi dalam satu jalur reaksi yang terjadi dalam tubuh, sedangkan bioenergetika adalah sistem penyediaan energi untuk berbagai reaksi dalam tubuh. Dari sini dapat diketahui bahwa tubuh manusia sungguh luar biasa. Bahwa segal...

Aliran Rasa MIIP Batch #4 Bandung #5

Bertemu dengan IIP rasanya seperti mimpi jadi nyata. Kenapa? Karena dari duluu banget dari sebelum nikah saya selalu berpikir bahwa menjadi istri dan ibu itu benar-benar pekerjaan yang luar biasa tapi sayangnya ga ada sekolahnya. Setelah nikah eh alhamdulillah tiba-tiba aja dipertemukan dengan IIP dengan sangat mudah bahkan tanpa susah payah mencari. Setelah masuk kelas MIIP, masyaa Allah rasanya degdegan terus baca materi-materinya yang jlebb, apalagi tugas-tugasnya yang bukan cuma bikin putar otak, tapi juga putar hati. Seiring berjalannya waktu, NHW yang ditugaskan juga semakin bikin galau, mempertanyakan dan merenungkan tentang perjalanan pernikahan saya yang baru seumur biji. Malah di beberapa NHW terakhir saya benar-benar ga ada ide mengerjakannya karena beberapa hal. Yang pertama, saya masih menumpang dengan orang tua dan mertua bergantian sehingga saya belum bisa membaca maksud Allah menempatkan saya di lingkungan ini dan yang kedua, saya bingung dengan tujuan dan cita-cita say...

[NHW #8] MIIP Batch #4: Misi Hidup dan Produktivitas

Bunda, setelah di materi sesi #8 kita belajar tentang bagaimana pentingnya menemukan misi hidup untuk menunjang produktivitas keluarga. Maka saat ini kita akan lebih menggali bagaimana menerapkannya secara teknis sbb : a. Ambil salah satu dari ranah aktivitas yang sudah teman-teman tulis di kuadran SUKA dan BISA (lihat NHW#7) Dalam NHW #7 saya masukkan 3 hal penting dari NHW #6 karena saya suka melakukannya dan berharap saya bisa untuk terus melakukannya. Saya ambil untuk NHW ini yaitu membersamai anak. b. Setelah ketemu satu hal, jawablah pertanyaan “BE DO HAVE” di bawah ini : 1. Kita ingin menjadi apa ? (BE) Saya ingin menjadi ibu yang baik dan pantas untuk anak saya. 2. Kita ingin melakukan apa ? (DO) Saya ingin mendampingi tumbuh kembangnya dan mendidiknya sesuai dengan ilmu parenting terbaik berbasis fitrah. 3. Kita ingin memiliki apa? (HAVE) Dalam jangka pendek saya ingin memiliki kemampuan untuk mendidik anak sesuai fitrahnya. Dalam jangka panjang saya ingin memiliki keahlian kh...

[NHW #7] MIIP Batch #4: Tahapan Menuju Bunda Produktif

Gambar
Bunda dan calon bunda yang masih semangat belajar sampai NHW #7. Selamat, anda sudah melampaui tahap demi tahap belajar kita dengan sabar. Setelah kita berusaha mengetahui diri kita lewat NHW -NHW sebelumnya, kali ini kita akan mengkonfirmasi apa yang sudah kita temukan selama ini dengan tools yang sudah dibuat oleh Abah Rama di Talents Mapping. Segera cocokkan hasil temu bakat tersebut dengan pengalaman yang sudah pernah teman-teman tulis di NHW#1 – NHW #6 Semua ini ditujukan agar kita bisa masuk di ranah produktif dengan BAHAGIA. πŸ€ Ketahuilah tipe kekuatan diri (strenght typology) teman-teman, dengan cara sbb : masuk ke www.temubakat.com isi nama lengkap anda, dan isi nama organisasi : Ibu Profesional jawab Questioner yang ada disana, setelah itu download hasilnya Amati hasil dan konfirmasi ulang dengan apa yg anda rasakan selama ini. Lampirkan hasil ST30 (Strenght Typology) di Nice Homework #7 πŸ€ Buatlah kuadran aktivitas anda, boleh lebih dari 1 aktivitas di setiap kuadran Kuadran...

[NHW #6] MIIP Batch #4: Belajar Menjadi Manajer Keluarga Handal

Bunda, sekarang saatnya kita masuk dalam tahap “belajar menjadi manajer keluarga yang handal. Mengapa? karena hal ini akan mempermudah bunda untuk menemukan peran hidup kita dan semoga mempermudah bunda mendampingi anak-anak menemukan peran hidupnya. Ada hal-hal yang kadang mengganggu proses kita menemukan peran hidup yaitu RUTINITAS Menjalankan pekerjaan rutin yang tidak selesai, membuat kita _Merasa Sibuk_sehingga kadang tidak ada waktu lagi untuk proses menemukan diri. Maka ikutilah tahapan-tahapan sbb : Tuliskan 3 aktivitas yang paling penting, dan 3 aktivitas yang paling tidak penting Waktu anda selama ini habis untuk kegiatan yang mana? Jadikan 3 aktivitas penting menjadi aktivitas dinamis sehari-hari untuk memperbanyak jam terbang peran hidup anda, tengok NHW sebelumnya ya, agar selaras. Kemudian kumpulkan aktivitas rutin menjadi satu waktu, berikan “kandang waktu”, dan patuhi cut off time ( misal anda sudah menuliskan bahwa bersih-bersih rumah itu dari jam 05.00-06.00, maka pat...

[NHW #5] MIIP #4: Belajar Bagaimana Caranya Belajar

Setelah malam ini kita mempelajari tentang “Learning How to Learn” maka kali ini kita akan praktek membuat *Design Pembelajaran* ala kita. Kami tidak akan memandu banyak, mulailah mempraktekkan "learning how to learn" dalam membuat NHW #5. Munculkan rasa ingin tahu bunda semua tentang apa itu design pembelajaran. Bukan hasil sempurna yg kami harapkan, melainkan "proses" anda dalam mengerjakan NHW #5 ini yg perlu anda share kan ke teman-teman yg lain. Selamat Berpikir, dan selamat menemukan hal baru dari proses belajar anda di NHW #5 ini. Salam Ibu Profesional, /Tim Matrikulasi IIP/ NHW #5 ini jujur bagi saya merupakan NHW tersulit dari NHW-NHW sebelumnya. Sebabnya bukan karena soalnya susah, melainkan justru karena saya tidak terbiasa mengerjakan tugas seperti ini. Ya, tiba-tiba saya langsung terbayang betapa di sekolah dulu saya selalu di atas rata-rata jika mengerjakan soal eksak yang jawabannya pasti hanya satu dan jarang saya kesulitan mengerjakannya. Saya hanya...

[NHW #4] MIIP Batch #4: Mendidik dengan Kekuatan Fitrah

a. Mari kita lihat kembali Nice Homework #1, apakah sampai hari ini anda memilih jurusan ilmu tersebut di Universitas Kehidupan ini? Atau setelah merenung beberapa minggu ini, anda ingin mengubah jurusan ilmu yang akan dikuasai? Pada NHW #1 saya tidak menuliskan dengan jelas jurusan ilmu yang ingin saya kuasai di Universitas Kehidupan ini. Namun, intinya dari NHW #1 tersebut saya ingin menguasai ilmu Pernikahan dan Parenting dan sampai saat ini saya masih tetap memilih untuk menguasai ilmu tersebut. Jaman yang kian berubah hingga manusia kian jauh dari fitrahnya dan menghilangnya pendidikan dari orang tua pada anaknya untuk menjadi orang tua membuat orang tua di jaman ini harus berusaha keras untuk kembali pada fitrahnya dan mempelajari ilmu menjadi suami/istri dan orang tua. Tentunya masih ada ilmu lain yang ingin saya pelajari, hanya saja ilmu Pernikahan dan Parenting akan menjadi prioritas pertama karena inilah misi hidup saya diciptakan sebagai perempuan yaitu untuk menjadi istri d...

[NHW #3] MIIP Batch #4: Membangun Peradaban dari Dalam Rumah

Memasuki materi yang ketiga, NHW MIIP semakin sulit dan menantang hingga sejak soal diberikan hingga H-1 mengumpulan, sebagian besar waktu saya gunakan untuk memahami soal dan sebagian kecilnya mencari jawaban. Karena saya sudah menikah maka soal untuk saya di NHW #3 ini adalah sebagai berikut. Bagi anda yang sudah berkeluarga dan dikaruniai satu tim yang utuh sampai hari ini. a. Jatuh cintalah kembali kepada suami anda, buatlah surat cinta yang menjadikan anda memiliki "alasan kuat" bahwa dia layak menjadi ayah bagi anak-anak anda. Berikan kepadanya dan lihatlah respon dari suami. b. Lihatlah anak-anak anda, tuliskan potensi kekuatan diri mereka masing-masing. c. Lihatlah diri anda, silakan cari kekuatan potensi diri anda. Kemudian tengok kembali anak dan suami, silakan baca kehendak Allah, mengapa anda dihadirkan di tengah-tengah keluarga seperti ini dengan bekal kekuatan potensi yg anda miliki. d. Lihat lingkungan di mana anda tinggal saat ini, tantangan apa saja yang ada...

[NHW #2] MIIP Batch #4: Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan

Materi ​awal sebelum NHW ini adalah tentang Ibu Profesional itu sendiri. Peran seorang ibu diawali dari individu perempuan itu sendiri. Sebagai perempuan, jujur saya belum pernah memandang diri sebagai seorang yang profesional, mungkin karena pengalaman berkarir setelah lulus kuliah belum banyak. Namun ternyata di institut ini, kita sebagai perempuan dituntut untuk menjadi profesional dan menjadi profesional bukan semata-mata julukan yang kita dapatkan dari orang lain, melainkan adalah kebiasaan yang kita bangun sehingga menjadi karakter profesional. Berikut adalah deskripsi dari tugas tersebut. πŸ“šNICE HOME WORK #2πŸ“š Bunda, setelah memahami tahap awal menjadi Ibu Profesional, Kebanggaan Keluarga. Pekan ini kita akan belajar membuat πŸ“✅“CHECKLIST INDIKATOR PROFESIONALISME PEREMPUAN”✅πŸ“ a. Sebagai individu b. Sebagai istri c. Sebagai ibu Buatlah indikator yg kita sendiri bisa menjalankannya. Buat anda yang sudah berkeluarga, tanyakan kepada suami, indikator istri semacam apa seben...

[NHW #1] MIIP Batch #4: Adab Menuntut Ilmu

Gambar
Semenjak melahirkan, saya baru benar-benar sadar bahwa menjadi ibu itu benar-benar tugas yang sangat tidak main-main. Dan yang lebih mengherankannya adalah tidak ada sekolah atau jurusan untuk belajar menjadi ibu yang benar. Jika tidak banyak mencari tahu, baik membaca lewat buku atau browsing melalui internet, pasti sebagian besar perempuan hanya belajar lewat pengalaman ketika sudah mempunyai anak. Namun, semakin saya banyak membaca semakin saya sadar bahwa menjadi ibu tidak bisa hanya learning by doing karena sudah pasti saya akan menjadikan anak pertama sebagai bahan percobaan cara pengasuhan saya sebagai ibu baru. Alhamdulillah, saya dipertemukan dengan komunitas Institut Ibu Profesional ciptaan Ibu Septi Peni Wulandari. Jadilah saya lulus dari Institut Teknologi Bandung sebagai sarjana Kimia, lalu menikah dan menjadi ibu, masuk lagi ke Institut Ibu Profesional. Jadi mahasiswa lagi. Ternyata benar ya, setelah beres menempuh pendidikan formal, baru terasa perjuangan di kehidupan y...