Kamis, 20 Agustus 2015

Perjuangan Seorang Jobseeker: Prologue

Sekian lama tidak bersua dengan kertas tulis elektronik ini. Media sosial yang banyak digandrungi anak-anak muda jaman sekarang sepertinya tidak terlalu cocok denganku. Kurang hepi gitu makenya. Bahkan pakai Tumblr pun tidak semenyenangkan Blogger. Ternyata aku lebih cocok dengan media blogging konvensional kayak gini hehe.

Kali ini aku sudah resmi lulus dari perguruan tinggi tempat aku menuntut ilmu, tempat yang sangat aku syukuri aku diberi kesempatan berkembang di sana. Meskipun sudah lulus, aku masih senang berkunjung ke kampusku itu, ya sedikit ada saja yang ingin dikerjakan, meski tidak ada pun juga terkadang berkunjung saja. Lalu suatu hari ayahku berkata bahwa sebenarnya alumni itu sudah tidak diterima lagi oleh almamater. Yang masih menerima alumni itu sebenarnya para mahasiswanya, bukan almamaternya. Awalnya kupikir alumni ditolak dengan arti negatif tapi ternyata ayah menjelaskan bahwa alumni itu disuruh untuk pergi ke seluruh penjuru negeri dan menebar manfaat. Ya memang benar, masa-masa belajar di zona nyaman itu sudah berakhir, sekarang saatnya menunaikan apa yang menjadi alasan kita berkuliah. Kedengarannya barangkali cakep, tetapi apa yang sebenarnya terjadi di dunia nyata setelah dunia kampus itu jauh dari ideal.

Ketika masih kuliah, beberapa orang pasti sudah memiliki bayangan ingin menjadi apa setelah lulus, atau bahkan beberapa orang punya banyak keinginan setelah lulus seperti bisnis, eh atau bahkan ada pula yang masih terus galau ingin jadi apa. Ada yang idealis, ada yang oportunis, atau realistis. Aku sebenarnya adalah tipe yang idealis. Ah dan ternyata orang-orang dengan tipe idealis seperti ini diberi cobaan hidupnya berupa mengalami suatu keadaan dimana kita sangat tak mampu menjadi ideal. Meskipun memang tidak mungkin bisa menjadi ideal di dunia ini. Tapi cobaan ini benar-benar bisa sampai membuat seorang idealis menjadi realistis atau bahkan pesimis. Wah bahasannya jadi ke psikologi, bisa panjang ini. Dibahas lebih lanjutnya di postingan yang lain saja yah hehe.

Nah, aku sendiri adalah tipe yang, ah barangkali sudah banyak orang yang tahu, adalah yang tidak memiliki ambisi tertentu dan berkeras untuk mengejarnya, tetapi memilih untuk melakukan yang terbaik di manapun diri ini ditempatkan. Misalkan saja, pasti sudah banyak yang tahu bahwa di antara para mahasiswa yang berkuliah di seluruh perguruan tinggi di Indonesia ini entah seberapa bagiannya adalah mahasiswa yang tidak masuk ke jurusan pilihan pertamanya. Atau bahkan ada mahasiswa yang tidak bisa memilih jurusan yang diinginkannya karena tidak disetujui oleh orang tua atau walinya. Jika kedua jenis mahasiswa ini tetap bisa berprestasi baik di jurusannya meskipun tidak sesuai dengan minatnya, kemungkinan besar mahasiswa-mahasiswa ini sejenis dengan penulis.

Mungkin barangkali mahasiswa-mahasiswa ini bukannya tidak punya ambisi yang ingin dicapai, hanya saja ya sama seperti penulis lagi, tipe idealis yang kalau dihadapkan pada kondisi sangat tidak ideal maka akan menjadi realistis bahkan pesimis. Maksudnya jadi menyerah dan ikut arus saja. Mungkin kelihatannya kita ini hebat atau apa sampai beberapa teman sering mengatakan, "Nggak niatnya aja udah cumlaude, apalagi kalau niat ya! Bisa 4,5 barangkali IPKnya!" Padahal yang namanya manusia itu ada kurang dan lebihnya. Kurangnya orang-orang kayak saya ini ya jadinya nggak ada ambisi. Istilah jelasnya sih, tidak ada rencana jangka panjang yang membuat jantung berdebar untuk mencapainya. Atau istilah lainnya lagi adalah passion. Ya semuanya itu menurutku sama aja, atau setidaknya berhubungan. Mengapa orang-orang seperti saya ini bisa maksimal di bidang yang tidak diminati? Ya karena kita tidak ada atau sudah lupa dengan passion kita. Itu fatal lho! Karena emosi berperan lumayan besar dalam pengambilan keputusan, terutama keputusan mengenai diri sendiri. Jadi jangan merasa iri dulu sama orang-orang kayak kita ini ya wahai mahasiswa-mahasiswa ambisius (bukan mahasiswa ambis belajar yah), karena kita juga tidak memiliki apa yang kalian punya.

Banyak artikel dan buku yang mengatakan bahwa mahasiswa-mahasiswa seperti saya ini adalah hasil dari sistem pendidikan perguruan tinggi di Indonesia. Tanpa ingin menyalahkan siapapun ya sebenarnya banyak faktor yang membuat seseorang menjadi dirinya yang sekarang. Pertumbuhan manusia dipengaruhi oleh faktor keturunan dan juga lingkungan, istilahnya Nature dan Nurture. Karena menyalahkan orang lain tidak bisa menjadi solusi, maka dari itu pilihan satu-satunya hanyalah mengubah nasib kita sendiri karena Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai mereka mengubahnya sendiri.

Tulisan selanjutnya akan bercerita tentang kisah hidup penulis setelah lulus dan beberapa hikmah, pengetahuan, dan kenyataan yang baru disadari penulis setelah menginjakkan kakinya di dunia nyata.

Bersambung ke Perjuangan Seorang Jobseeker: Part 1

Tidak ada komentar:

Posting Komentar