Jumat, 29 Juli 2011

Handwriting Analysis (Analisis Tulisan Tangan/Grafologi) Bagian 1



Grafologi adalah ilmu yang mempelajari tentang tulisan tangan. Tulisan tangan sama halnya dengan sidik jari, tidak ada dua orang yang memiliki tulisan tangan yang sama. Dari tulisan tangan ini kita bisa mengetahui kepribadian, kondisi emosi, bahkan kekuatan dan kelemahan seseorang. Berikut ini adalah sebelas hal utama yang harus diperhatikan dalam menganalisa tulisan tangan:
  1. Margin (jarak pinggiran tulisan)
  2. Spasi (jarak antarkata atau antarbaris tulisan)
  3. Baseline (garis dasar tulisan)
  4. Size (ukuran tulisan)
  5. Tekanan penulisan
  6. Zona penulisan
  7. Kemiringan tulisan
  8. Tipe tulisan
  9. Kecepatan penulisan
  10. Huruf-huruf unik
  11. Tanda tangan

I. MARGIN (JARAK PINGGIRAN TULISAN)

Secara sekilas, margin menceritakan tentang pandangan dan hubungan seseorang dengan konsep ruang dan waktu. Margin atas dan kiri mewakili masa lalunya sedangkan margin bawah dan kanan mewakili masa depannya. Berikut adalah kepribadian dan kondisi emosi orang yang memiliki tulisan:

1.       Margin kiri dan kanan ideal (kiri 1,5-2,5 dan kanan 0,5-1,0)


Penulis memiliki kondisi emosi dan mental yang baik, bisa mengatur emosinya, memiliki harga diri yang sehat. Penulis lebih mementingkan isi dibanding penampilan, tahu di mana dia berada, seberapa bidang yang tersedia baginya untuk kemudian dimanfaatkan semaksimal mungkin.

2.       Margin rata di kedua sisi (justified)


Penulis adalah orang yang sangat terkontrol, rapi, dan terencana. Penulis lebih mementingkan penampilan dibanding apapun. Penulis sangat suka bersolek dan merasa harus melakukan apapun demi menghasilkan penampilan yang baik.

3.       Margin kiri yang sangat lebar


Margin kiri diasosiasikan sebagai masa lalu seseorang. Orang yang menulis dengan margin kiri yang lebar memiliki masa lalu yang suram atau kelabu. Penulis sangat tidak ingin berbicara hal-hal yang berhubungan dengan masa lalu.

4.       Margin kanan yang sangat lebar


Margin kanan disimbolkan sebagai masa depan seseorang. Orang yang menulis dengan margin kanan yang sangat lebar merasa tidak yakin dengan masa depannya. Penulis merasa ragu, tidak siap, tidak layak, tidak percaya diri dengan masa depannya. Ciri khas penulis adalah bersemangat di awal tetapi lalu loyo di tengah-tengah dan bahkan berhenti.

5.       Tidak ada margin


Penulis adalah orang yang efisien, hemat, memiliki isu tentang hidup susah uang seret. Penulis adalah orang yang sangat percaya diri, selalu ingin memenuhi ruang, mottonya adalah “Aku harus eksis!”. Penulis sulit percaya dengan orang lain karena merasa tidak ada orang yang sehebat dirinya.

6.       Melebihi garis margin kiri dan/atau kanan


Penulis adalah orang yang tidak suka aturan, tatanan dan keterbatasan. Penulis merasa tidak perlu mematuhi aturan karena dialah peraturan itu. Penulis punya caranya sendiri untuk menjalani hidup, lebih kepada sa’enak ‘e dewe (seenaknya aku), dan mau menang sendiri. Tapi positifnya, penulis adalah orang yang kreatif dan mampu berpikir out of the box.

7.       Margin lebar pada keempat sisi tulisan


Penulis suka mengisolasi diri, menjauhkan diri dari berbagai hal. Penulis tidak suka membangun hubungan dekat dengan orang lain, alergi berdekatan dengan orang lain, dan cenderung bekerja sendiri. Bagi penulis, orang lain bisa saja mengancam dan membuatnya merasa tidak aman.



II.  SPASI (JARAK ANTARKATA, ANTARHURUF, DAN ANTARBARIS)
Spasi mencerminkan kenyamanan penulis berinteraksi dengan orang lain dan kenyamanannya dengan apa yang dituliskannya, apakah jujur dan spontan atau ragu-ragu.

1.       Spasi ideal dan konsisten (ukuran spasi berkisar 1-3 huruf)
Penulis adalah orang yang spontan, bahagia, stabil secara emosional, dan nyaman dengan dirinya sendiri.

2.       Spasi antarkata lebar
Spasi yang lebar ini terjadi karena penulis menunda untuk menulis karena memikirkan kata yang akan ditulisnya. Semakin lama berpikir, semakin lebar jarak antarkatanya. Penulis yang memiliki spasi antarkata yang lebar berarti penulis tersebut ragu-ragu terhadap apa yang akan ditulisnya. Hal ini juga berarti penulis tidak nyaman dalam berintraksi dengan orang lain atau dengan lingkungan.

3.       Spasi antarkata sempit dan huruf berhimpitan


Hal ini mencerminkan masalah dalam diri penulisnya. Penulis sedang merasa tertekan dan tegang. Penulis memiliki sifat tertutup dan berpandangan sempit.

4.       Spasi antarkata lebar dan huruf berhimpitan


Hal ini menunjukan bahwa penulis sedang mengalami pergolakan batin yang luar biasa. Penulis tegang, merasa terhimpit, tertekan, tertutup, sekaligus sangat takut berdekatan dengan orang lain. Penulis mempunyai kecenderungan untuk memiliki ketakutan yang luar biasa (paranoia).

5.       Spasi bervariasi dan tidak jelas polanya


Penulis memilki mental yang tidak stabil. Kemampuan berpikir logikanya terganggu, berpikirnya tidak sistematik. Emosi penulis terganggu sehingga tidak mampu  menjaga pola dan ritme hidupnya. Penulis memiliki masalah secara fisik, bisa penglihatannya atau tangannya.

6.       Jarak antarbaris sangat lebar


Penulis cenderung boros dan suka menjaga jarak dengan orang lain. Penulis menolak hubungan persahabatan dengan orang lain karena menurutnya sahabat itu tidak ada dan orang lain tidak bisa dipercaya.




III. GARIS DASAR PENULISAN (BASELINE)
Baseline adalah garis imajiner yang tercipta ketika kita menguhubungkan bagian bawah tiap huruf atau kata. Baseline diumpamakan sebagai jalan penulis untuk mencapai cita-cita. Awal kalimat adalah masa lalu, tengah kalimat adalah masa kini, dan akhir kalimat adalah masa depan.

1.       Baseline lurus


Penulis adalah orang yang bersih, rapi, terkontrol dan diplomatis. Penulis adalah orang yang tidak ingin orang lain melihat kelemahannya, penulis selalu ingin terlihat rapi dan teratur.

2.       Baseline super lurus


Penulis dengan tipe menulis seperti ini adalah orang yang selalu ingin menutup rapat-rapat sesuatu yang ada pada dirinya, terutama kelemahannya. Yang ada dalam pikiran penulis adalah pendam kejelekan sedalam-dalamnya dan tunjukkan kebaikan sebaik-baiknya. Baginya, kesempurnaan adalah keharusan.

3.       Baseline menaik


Penulis memiliki sifat optimis, aktif, dan selalu berusaha untuk mencapai cita-citanya. Sembilan puluh persen orang sukses adalah orang dengan tipe menulis seperti ini. Penulis selalu memiliki hal-hal yang membuatnya takjub sehingga penulis tidak mudah kehilangan semangatnya.

4.       Baseline menurun


Penulis dengan tipe ini memiliki sifat yang bertolak belakang dengan yang menulis dengan baseline menaik. Penulis selalu melihat segala hal dari sisi negatifnya. Penulis sering merasa sinis pada lingkungan sekitar, merasa menjadi korban keadaan, dan selalu kecewa.

5.       Baseline cembung


Penulis sekilas Nampak seperti orang yang optimis dan antusias karena garis tulisan awal yang menaik. Namun, jika melihat ujungnya yang menurun, penulis tanpa sadar memproklamirkan dirinya sebagai orang yang gampang menyerah. Sama seperti penulis dengan baseline menurun, penulis pada awalnya bersemangat, namun menyerah di tengah-tengah.

6.       Baseline cekung


Ini adalah kebalikan dari penulis dengan baseline cembung. Pada awalnya, penulis bersemangat. Ketika di tengah, penulis akan kehilangan semangat. Namun, penulis tidak memutuskan begitu saja untuk menyerah. Penulis biasanya mampu bangkit kembali dengan segala cara asalkan ada orang yang mendampingi perjalanannya.

7.       Baseline putus asa


Yang dimaksud dengan baseline putus asa ini adalah jatuhnya kata atau huruf pada ujung kalimat di pinggir sebelah kanan. Huruf atau kata tersebut terlihat seperti kehilangan pegangan dan jatuh. Hal ini menunjukkan adanya potensi kehilangan pegangan atau putus asa pada saat tertentu.

8.       Baseline yang naik turun semaunya


Penulis adalah orang yang moody. Penulis kadang tampak bersemangat dan ceria tetapi bisa tiba-tiba loyo bahkan menangis tersedu-sedu. Penulis adalah seseorang dengan pengendalian diri yang buruk dan keadaan emosi yang tidak stabil.

9.       Baseline yang ngaco (tidal jelas arahnya)


Penulis memilki mental yang kacau. Penulis kemungkinan berada diambang kehancuran secara sosial. Orang yang memilki tulisan seperti ini sebaiknya segera dibawa ke psikolog untuk disembuhkan mentalnya.



IV. UKURAN TULISAN
Ukuran tulisan merepresentasikan harga diri, kepercayaan diri, dan kecerdasan sosialnya. Tidak ada angka pasti tentang ukuran tulisan meskipun beberapa ahli memberi patokan besar huruf yang ideal adalah 8-9 mm (untuk kertas HVS) karena ukuran tulisan tangan sangat bervariasi. Karena itu, cara paling mudah adalah dengan mengandalkan feeling Anda untuk menentukan apakah ukuran tulisan besar atau kecil.

1.       Ukuran tulisan ideal / medium


Penulis adalah orang yang nyaman dengan dirinya dan kehidupan sosialnya. Di mana pun dia berada, baik di antara banyak orang maupun saat sendirian, dia akan tetap merasa nyaman dengan hidupnya.

2.       Ukuran tulisan besar


Penulis cenderung ekstrovert, menjangkau dan tertarik dengan dunia luar, serta tidak terlalu menyukai detil. Hal ini juga menandakan bahwa penulis ingin dirinya dianggap penting sehingga dirinya selalu mencari perhatian. Baiknya, orang dengan tipe tulisan ini bisa saja hangat terhadap dunia luar dan menyukai aktivitas di luar ruangan (outdoor).

3.       Ukuran tulisan kecil


Penulis adalah orang yang introvert. Ketertarikannya dengan urusan orang lain lebih kecil daripada dengan apa yang terjadi pada dirinya sendiri. Penulis cenderung menyendiri dan menutup diri. Orang yang memiliki tulisan kecil biasanya adalah peneliti, pemikir, dan para pemegang pembukuan di bidang keuangan karena kelebihan mereka yang teliti dan memilki konsentrasi tinggi.

4.       Ukuran tulisan super kecil


Tulisan super kecil menandakan perasaan introvert yang ekstrem. Penulis sangat suka mengasingkan diri dari lingkungan sekitarnya. Penulis memiliki ketelitian yang luar biasa dan baginya semua detil dan pernak-pernik harus berada pada tempat yang seharusnya. Namun, jika tulisan sangat kecil dan tidak bisa dibaca, maka penulisnya sakit secara mental dan emosional.


V. TEKANAN TULISAN
Tekanan tulisan menunjukkan (1)seberapa semangatnya Anda menulis, (2)seberapa kuat intensitas Anda dalam keinginan dan cita rasa, (3)perasaan dan seberapa besar perasaan Anda terhadap hal yang Anda tulis.

1.       Tekanan Medium


Orang yang menulis dengan tekanan medium, menulis dengan perasaan bahagia, nyaman, dan damai. Penulis nyaman dengan kehidupan sehari-harinya, ramah, dan mampu mengelola emosinya dengan baik dan tidak memendam kemarahan.

2.       Tekanan Berat


Ketika menulis, penulis mengerahkan seluruh perasaannya. Semakin berat tekanan penulisannya, semakin dalam pula perasaan penulis tentang materi yang ditulisnya. Penulis yang menulis dengan tekanan berat punya kemauan kuat untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, tegas, dinamis, aktif, bersemangat, sering menonjolkan diri, tegang, mudah marah, suka memaksakan kehendak, dan punya cita rasa yang bervariasi.

3.       Tekanan Super Berat


Penulis sedang dalam kondisi frustasi sampai-sampai si penulis tidak merasa bahwa tangannya menekan kertas sedemikian dalamnya. Hal ini menunjukkan satu hal, yaitu ketidakmampuan penulis dalam mengelola emosinya.

4.       Tekanan Ringan


Penulis cenderung menunggu, tenang, lebih mengarah ke spiritualitas dibanding sikap agresif, dan mau menang sendiri. Penulis cenderung bersikap sebagai pengikut dibanding pemimpin. Penulis biasanya hanya menyukai satu hal saja, misalnya mi baso saja atau warna hitam saja, karena penulis memang tidak menyukai variasi. Penulis lebih suka di jalan yang aman, tidak memiliki inisiatif dan keberanian yang kuat.

5.       Tekanan Tidak Merata


Penulis sedang dalam keadaan cemas ataupun gelisah. Semakin cemas si penulis, semakin tidak merata tekanan tulisannya.



VI. ZONA PENULISAN




            Pembagian zona dalam penulisan huruf:
            A.      Zona atas (upper zone)
            B.      Zona tengah (middle zone)
            C.      Zona bawah (lower zone)

1.       Dominan Zona Atas


Penulis lebih memperhatikan aspek-aspek spiritual dalam hidupnya. Penulis suka melakukan kegiatan berpikir, menemukan ide, merancang sesuatu, dan memikirkan apa yang ingin dilakukan di masa depan. Penulis lebih mengandalkan otaknya dibanding ototnya.

2.       Dominan Zona Tengah


Penulis lebih mementingkan kehidupan saat ini, penampilan diri, jabatan saat ini, hubungannya dengan orang lain, dan materi. Penulis sulit untuk membuat visi kehidupan jangka panjang. Penulis cenderung mudah bosan, mudah puas, mudah kecewa, dan kalau menginginkan sesuatu ingin segera terpenuhi. Mottonya adalah “Today is just for today.”

3.       Dominan Zona Bawah


Penulis lebih mementingkan aspek kehidupan mendasar seperti action, uang, keluarga, kesehatan, gambaran masa lalu, dan tampilan bentuk tubuh. Penulis lebih mengandalkan ototnya dibanding otaknya, kebalikan dari orang zona atas. Mottonya adalah “Just do it.”


(Bersambung ke bagian 2)

Sumber: Grapho for Success - Bayu Ludvianto





2 komentar: