Rabu, 30 Mei 2012

Hikikomori: Penyakit Anak Muda Abad 21!


Waktu sedang iseng-iseng main ke kamar adek saya, saya ga sengaja nemu majalah yang dulu pernah saya beli trus saya kasihin ke dia. Dalam hati saya bilang, “Wah, udah lama ga liat majalah ini.” Lalu akhirnya saya balik-balik majalah itu dan mulai scanning. Ketika sampai pada halaman agak akhir, saya melihat kata yang tidak familiar sehingga membuat saya ingin membaca artikel itu lebih lanjut.

HIKIKOMORI

Ya, judul artikel itu adalah “Hikikomori”. Menurut artikel itu, hikikomori jika diterjemahkan secara gamblang adalah ‘kemunduran kehidupan sosial’. Hikikomori adalah suatu dilema besar yang terjadi dalam masyarakat Jepang ketika banyak remaja mulai menghilang dari masyarakat umum. Kebanyakan para remaja itu memilih berdiam diri di rumah, mengunci diri di kamar, dan tidak mau bergaul dengan dunia luar. Kebanyakan kegiatan mereka itu tidur sepanjang siang, terbangun ketika sore dan terjaga di malam hari hanya untuk menonton TV, main game, atau online. Kegiatan ini bisa berlangsung selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Beberapa dari mereka memiliki handphone, komputer, dan internet, tetapi sebagian besar tidak punya teman sama sekali karena mereka cenderung aktif di dunia maya sehingga hidup mereka di dunia nyata menjadi mati.

KOK BISA?

Menurut artikel, hikikomori terjadi karena perkembangan ekonomi Jepang yang luar biasa pada akhir abad ke-20 dan kemajuan teknologi serta industri. Karena kemajuan ekonomi, teknologi, dan industri itulah, kesibukan para orang tua di Jepang semakin meningkat sehingga tidak sempat meluangkan waktu untuk bercengkrama dengan anak-anak mereka yang butuh kasih sayang dan perhatian dari orang tua mereka. Di saat itulah mereka yang haus kasih sayang ini mencari pengganti orang tua mereka dengan kemudahan akses informasi dari internet dari gadget mereka seperti handphone dan komputer, mereka menjadikan dunia maya sebagai orang tua mereka.

ANALISIS

Menurut para ahli sosiologi dan antropologi, kondisi ini mungkin disebabkan oleh perubahan kultur sosial yang berlangsung dalam jangka waktu yang sangat pendek yaitu 2 sampai 3 generasi sejak revolusi Jepang. Perubahan ini menyebabkan kelainan minor pada kejiwaan orang Jepang yang tergolong pekerja keras dan individualistis, juga mendewakan industri dan teknologi yang baru muncul.

Akibatnya, generasi muda pun ikut mendewakan segala teknologi dan kemudahan akses ke dunia luar dengan segala teknologi yang ada seperti Playstation, DVD anime dan film, game online, toko online yang menawarkan segala kemudahan berkomunikasi dan bertransaksi. Tiap orang dapat melakukan segalanya tanpa harus keluar rumah sehingga mereka semakin malas untuk bergaul dan pergi ke dunia luar. Keadaan ini akan berakibat pada berubahnya kepribadian mereka menjadi lebih individualistis dan semakin tidak peduli pada masyarakat dan lingkungan sekitar.

TANDA-TANDA

Seorang yang menderita hikikomori akan merasa tersiksa bila harus berhubungan dengan orang lain dan masyarakat luas. Mereka lebih memilih dan lebih nyaman jika berada sendiri, hidup sendiri, dan melakukan segalanya sendirian. Mereka tidak suka terikat peraturan, tetapi mereka tidak punya kecenderungan berbuat kriminal. Mereka juga sulit diberi nasihat dan pengarahan karena mereka tidak mudah mempercayai orang lain, bahkan kerabat dekat mereka sekalipun.

BAGAIMANA DENGAN KITA? (MY OPINION)

Bagaimana dengan generasi muda di Indonesia? Apakah kita juga mengalami fenomena yang sama dengan generasi muda di Jepang?

Kemajuan teknologi dan informasi sudah terjadi di hampir seluruh belahan dunia, Indonesia pun tidak luput dari itu. Gadget-gadget bergengsi dan mewah sudah banyak ditenteng dan digenggam oleh bahkan anak SD sekalipun. Sekarang semua sudah bisa mengakses internet, semua sudah bisa mengetik SMS, dan sebagian besar rumah dengan ekonomi menengah ke atas sudah punya TV. Generasi muda Indonesia sekarang sudah dimanja oleh segala gadget-gadget ini.

Tahukan kalian kalau Indonesia adalah pengguna Facebook terbanyak ketiga setelah Amerika Serikat dan India? Dan siapakah kalangan masyarakat pengguna Facebook terbanyak? Ya, jawabannya adalah generasi muda, mulai dari anak SD hingga mahasiswa. Lalu, adakah mahasiswa yang seharusnya fokus pada masa depannya dan mulai serius menempuh pendidikan tapi malah kecanduan game online sehingga hampir di-DO dari kampus? Huehehe, banyak.

Sebelumnya, waktu saya membaca artikel di majalah itu, saya merasa ada indikasi hikikomori dalam diri saya dan adek-adek saya. Dulu saya merasa lebih suka mengerjakan segala sesuatunya sendiri, tidak suka kerja kelompok, apalagi berada di tengah-tengah komunitas besar. Adek saya yang pertama kecanduan main Playstation dan adek saya yang paling kecil menghabiskan waktu dari pulang sekolah sampai maghrib hanya untuk nonton Anime di chanel  anime TV berlangganan (pasti tau lah apa nama chanelnya =.=).

Nah, beberapa contoh di atas sudah merupakan indikasi masuknya fenomena ini ke generasi muda di Indonesia. Yang membahayakan dari fenomena ini adalah orang yang mengalaminya kemungkinan besar tidak akan punya kompetensi untuk menjalani kehidupan di dunia nyata seperti berorganisasi, membangun relasi, bahkan menikah! :O

Ditambah lagi, perilaku seorang hikikomori menurut saya sekarang hanyalah mengikuti hawa nafsu dan hanya menyemaikan sifat malas. Kita sengaja memenuhi diri dengan keinginan-keinginan egois dan menutup diri dari dunia luar padahal kita punya potensi untuk membangun peradaban. Malah, kalau kita lama-lama dalam perilaku ini dan tidak segera keluar, kita bisa merepotkan orang lain dan jadi budaknya setan,  hiii! Makanya saya cepat-cepat keluar dari lingkaran ini begitu tahu bahayanya.

Tapi jangan khawatir, supaya kita tidak terserang hikikomori, pola pikir kita harus diubah, kita harus sadar bahwa menyukai sesuatu secara berlebihan alias kecanduan itu tidak baik.  Jangan sampai kita kecanduan Fesbukan, Twitteran, Koprolan (tau kan ada social network yg namanya Koprol? :P) sampe-sampe lupa makan, lupa mandi, dan lupa memenuhi panggilan alam, hehe. Jangan mendewakan teknologi dengan lebay sampe-sampe kalau ada gadget baru keluar di BEC, harus langsung beli bagaimanapun caranya. Ingat, teknologi itu dibuat sebagai pesawat sederhana yang memudahkan urusan kita, bukan malah mengendalikan hidup kita. :P

Jangan sampai kita tidak punya rasa kepedulian terhadap orang-orang di sekitar kita terutama keluarga dan teman. Perbanyak aktivitas yang membutuhkan komunikasi dengan orang lain bisa jadi cara untuk menumbuhkan kepedulian terhadap orang lain. Belajarlah untuk sedikit menuntut dan memperbanyak memberi dan berkontribusi untuk kepentingan orang banyak. Dengan ini, insya Allah hikikomori tidak akan menyerang kita, hehe. :D

Sumber: Majalah Advance vol. 07/2005 hal. 70, Kompas.com

1 komentar: