Kamis, 29 Desember 2011

Hafalan Shalat Delisa (Review Film)

Kemarin aku baru saja menonton sebuah film Indonesia di bioskop bersama dengan anak-anak DKM AI tercinta dan aku ingin berbagi dengan pembaca semua. Film Indonesia ini termasuk salah satu film-film Indonesia yang bagus seperti Laskar Pelangi. Film ini diadaptasi dari novel laris karya Tere Liye berjudul Hafalan Shalat Delisa, film yang sangat mengharukan tetapi penuh makna dan kesan.




Film ini berlatar di Lhok Nga, Aceh, pada saat kejadian 26 Desember 2004 lalu. Film ini bercerita tentang seorang anak bernama Delisa. Delisa adalah seorang anak yang cerdas, aktif, dan banyak bicara. Delisa sangat rukun dengan keluarga dan kakak-kakaknya, Fatimah dan Zahra. Namun, dia tidak terlalu akur dengan satu kakaknya yang jarak usianya paling dekat dengannya, Aisyah. Aisyah dan Delisa selalu bersaing dalam segala hal.

Delisa belajar di sebuah sekolah sederhana dan diajar oleh seorang ustadz yang bernama Rahmat. Suatu hari, Ustadz Rahmat memberitahukan pada seluruh anak muridnya jika mereka mengatakan “Aku mencintai Abi/Ummi karena Allah “ maka mereka akan diberi hadiah. Delisa sangat menyukai hadiah, karena itu dia mengikuti apa kata ustadznya. Dia mengatakan kalimat itu pada ibunya yang dipanggilnya Ummi, Ummi Salamah, hingga umminya menangis karena terharu karena ia mengira Delisa mengatakannya dengan tulus. Delisa sangat suka dengan hadiah sehingga umminya membelikan kalung emas berliontin huruf D untuk membuat Delisa semangat menghapalkan bacaan shalat.

Pada tanggal 26 Desember 2004, Delisa akan mengikuti ujian praktek shalat. Hari itu, Delisa memaksanya umminya untuk memberikan kalungnya sekarang agar ia bisa memakainya. Namun, umminya baru ingin memberikan kalung ini pada Delisa ketika ia sudah lulus ujian. Ketika Delisa dan umminya akan pergi ke sekolah, tiba-tiba terjadi gempa yang sangat keras mengguncang rumah mereka. Namun, gempa itu hanya sebentar sehingga mereka bisa pergi ke sekolah setelah gempa itu berhenti.

Delisa yakin akan lulus ujian dan akan mendapatkan kalung itu. Dia ingat dengan perkataan ustadz Rahmat tentang shalat khusyuknya para sahabat nabi. Fokuslah pada bacaan shalatmu dan jangan pedulikan suasana di sekitarmu. Akhirnya, mulailah giliran Delisa mempraktekkan gerakan shalat. Namun, ketika Delisa sedang membacakan doa Iftitah, tiba-tiba bumi kembali bergoncang hingga genting sekolah berjatuhan. Semua murid dan guru di dalam ruangan segera keluar kecuali Delisa. Delisa tetap melanjutkan bacaan shalatnya tanpa mempedulikan keadaan di sekitarnya meskipun ibunya berkali-kali memanggilnya. Tidak lama kemudian, gelombang besar tsunami datang dari arah pantai dan menghantam bangunan sekolah. Delisa terus mengeraskan bacaannya meskipun berada di dalam air. Namun, lama-lama mulut Delisa sudah tidak bisa mengeluarkan bacaan shalat, ia akhirnya tenggelam karena kehabisan napas. Dalam keadaan tidak sadarkan diri, Delisa melihat ibu, kakak-kakak, dan teman-temannya pergi menuju sebuah pintu yang bercahaya. Dia merasa seolah dia ditinggal sendirian.

Setelah kejadian naas itu, seluruh stasiun TV segera menayangkan berita hingga sampai ke ayah Delisa yang saat itu sedang bekerja sebagai pelaut di kapal tangker minyak asing yang jauh dari kampung halamannya. Setelah melihat berita, ia segera menelepon tetapi tidak ada jawaban. Dengan segera, Abi Usman, ayah Delisa pergi ke kampung halamannya di Lhok Nga. Sesampainya di sana, yang dilihat Abi Usman hanyalah rumah hangat mereka yang sekarang sudah rata dengan tanah. Abi Usman hanya bisa menangis meratap keluarganya yang sekarang entah bagaimana kabarnya.

Abi Usman berusaha mencari tahu nasib seluruh anggota keluarganya. Ia pergi ke tempat pengungsian dan mendapati kabar bahwa ketiga mayat anaknya, Fatimah, Zahra, dan Aisyah telah ditemukan dan telah dikuburkan. Sementara istrinya dan putri bungsunya belum diketahui kabarnya.

Beberapa hari setelah kejadian naas itu, Delisa akhirnya bangun dari pingsannya dengan tubuh lemah. Tanpa mengetahui tempat ia berada, ia melihat tubuh Tiur, sahabatnya, tergeletak di sebelahnya tak bernapas. Setelah bertahan selama beberapa hari, seorang prajurit marinir AS bernama Smith menemukan Delisa yang lalu dibawa ke rumah sakit tempat para korban dirawat. Delisa selamat, tetapi kaki kanannya harus diamputasi karena luka yang sudah berhari-hari terbuka sehingga membuat kakinya infeksi dan membusuk.

Selama di rumah sakit, Delisa selalu ditemani oleh Om Smith , begitulah Delisa memanggilnya, dan Kak Sophie, suster baik hati yang bekerja di sana. Smith sangat simpati terhadap Delisa karena ia teringat anaknya yang sudah meninggal ketika melihat Delisa. Smith pun sempat ingin mengadopsinya jika Delisa tidak punya kerabat lagi. Namun, Abi Usman mendapatkan kabar bahwa Delisa masih hidup dan sekarang sedang berada di rumah sakit darurat karena melihat tulisan tangan Delisa. Abi Usman segera pergi dan akhirnya berhasil bertemu kembali dengan buah hati yang tertinggal satu-satunya.

Setelah bertemu dengan Delisa, Abi Usman kembali pulang dan membangun kembali rumah mereka dengan sederhana. Mereka kembali berkumpul bersama tetangga mereka yang selamat dari bencana. Delisa bahkan kembali bermain sepak bola dengan ceria meskipun sekarang dia hanya punya satu kaki. Ustadz Rahmat yang sangat sedih dengan kejadian ini bertanya-tanya mengapa hal ini harus terjadi. Namun, suster Sophie yang saat itu ada di sebelahnya berkata, “Mengapa tidak kau tanyakan pada Delisa? Lihatlah, dia kehilangan ketiga kakaknya dan ibunya, bahkan sebelah kakinya. Namun, dia masih dapat tersenyum dan bermain bola”. Delisa adalah anak yang tegar, bahkan dia beranggapan bahwa kakinya yang hilang adalah karena terbawa air. Karena ketegarannya, para pengungsi belajar dari sikapnya menghadapi bencana ini dan mulai bangkit dari keterpurukan.

Meskipun Delisa dapat tetap tersenyum dan menghadapi keseharian seperti biasa, Delisa sering menangis karena merindukan ummi dan kakak-kakaknya, dia merindukan kehidupannya dulu ketika seluruh keluarganya ada di sisinya. Dia selalu sedih dan kesal ketika mengingat semua orang yang meninggalkannya. Dia bertanya-tanya mengapa orang-orang pergi meninggalkannya. Dia semakin sedih dan kesal ketika dia harus berpisah dengan Smith dan Kak Sophie yang harus kembali ke negaranya. Saat itu, Ustadz rahmat mengajarinya tentang keikhlasan. Ketika hati terasa berat untuk melakukan kebaikan ataupun melepas sesuatu yang hilang dari kita, itu adalah perasaan tidak ikhlas. Oleh karena itu, ikhlaslah dan terimalah apa yang Allah berikan pada kita.

Delisa kembali menghapal bacaan shalatnya untuk bersiap mengikuti ujian praktek shalat lagi. Malam itu, sebelum hari praktek shalatnya, Delisa ditawarkan hadiah jika besok ia lulus ujian praktek shalat oleh abinya. Namun, Delisa berkata bahwa Delisa tidak butuh hadiah, Delisa hanya ingin shalat dengan benar agar bisa mendoakan umminya dan kakak-kakaknya. Esoknya, Delisa lulus ujian dengan nilai sempurna dari Ustadz Rahmat. Abi Usman sangat bahagia dan bangga pada Delisa.

Ketika akhirnya Delisa sudah bisa ikhlas kehilangan ummi dan kakak-kakaknya, Delisa melihat sesuatu yang kuning berkilauan di tengah pantai ketika sedang berjalan-jalan di sana. Delisa menghampiri dan melihat bahwa benda berkilau itu adalah kalung berliontinkan huruf D di sana. Kalung yang menjadi hadiah jika ia lulus ujian praktek shalat. Kalung itu tersangkut di tangan seseorang yang sudah sangat Delisa kenal. Kalung itu tergenggam di tangan Ummi Salamah, umminya, yang tubuhnya sudah kaku dan dingin. Delisa langsung memeluk tubuh umminya dan menangis. Namun, Delisa sudah ikhlas, Delisa dapat melihat umminya pergi menuju pintu yang berkilauan dengan senyum. Delisa pun tersenyum, mengambil kalung itu dan memakainya dengan tatapan penuh kenangan.

Film ini adalah salah satu film Indonesia yang berkualitas. Namun, jika melihat dari penulis novelnya, kita pasti sudah tahu bahwa ini adalah film yang patut ditonton, apalagi jika sudah membaca novelnya. Film ini tidak semata-mata membuat kita menangis karena melihat penderitaan yang harus dialami oleh para tokoh di sana. Tidak seperti sinetron-sinetron melodrama yang memang hanya menjual kesedihan, film ini mengajarkan bagaimana caranya untuk tegar dan ikhlas menerima kehilangan. Banyak pesan yang bisa diambil baik yang ditunjukkan secara eksplisit seperti perkataan-perkataannya Delisa maupun yang ditunjukkan secara implisit. Film-film seperti inilah yang dibutuhkan bioskop-bioskop di Indonesia. ^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar