Rabu, 17 Mei 2017

[Nice Home Work #1] Matrikulasi Institut Ibu Profesional Batch #4: Adab Menuntut Ilmu

Semenjak melahirkan, saya baru benar-benar sadar bahwa menjadi ibu itu benar-benar tugas yang sangat tidak main-main. Dan yang lebih mengherankannya adalah tidak ada sekolah atau jurusan untuk belajar menjadi ibu yang benar. Jika tidak banyak mencari tahu, baik membaca lewat buku atau browsing melalui internet, pasti sebagian besar perempuan hanya belajar lewat pengalaman ketika sudah mempunyai anak. Namun, semakin saya banyak membaca semakin saya sadar bahwa menjadi ibu tidak bisa hanya learning by doing karena sudah pasti saya akan menjadikan anak pertama sebagai bahan percobaan cara pengasuhan saya sebagai ibu baru.

Alhamdulillah, saya dipertemukan dengan komunitas Institut Ibu Profesional ciptaan Ibu Septi Peni Wulandari. Jadilah saya lulus dari Institut Teknologi Bandung sebagai sarjana Kimia, lalu menikah dan menjadi ibu, masuk lagi ke Institut Ibu Profesional. Jadi mahasiswa lagi. Ternyata benar ya, setelah beres menempuh pendidikan formal, baru terasa perjuangan di kehidupan yang sesungguhnya. Dan ternyata sangat salah jika waktu sekolah dulu saya berharap untuk segera beres sekolah supaya bisa santai, eh ternyata setelah beres sekolah justru saya harus lebih kuat perjuangan belajarnya karena saya telah masuk ke dalam universitas kehidupan. Sekarang saya malah ingin tidak pernah berhenti belajar.

Tulisan ini dibuat untuk memenuhi Nice Home Work #1 Matrikulasi Institut Ibu Profesional Batch #4 tetapi saya jadi teringat cita-cita saya di masa lalu waktu masih pelajar SMA yang cupu. Waktu kecil saya memiliki masalah psikologis sehingga saya banyak membaca dan mencari tahu tentang masalah tersebut dan bagaimana cara menyembuhkannya. Dari sana saya jadi berpikir bahwa anak-anak harus tumbuh menjadi orang dewasa dengan mental yang sehat dan saya tidak ingin anak saya mengalami hal yang sama. Tentunya mengalami masalah psikologis bukanlah hal yang mengenakkan, menurut saya yang masih anak-anak waktu itu sih menderita ya. Jadilah dulu saya ingin menjadi konsultan pendidikan anak usia dini yang sebenarnya jika diterjemahkan di jaman sekarang menurut versi saya yang anak-anak adalah praktisi parenting.

Meskipun setelah dewasa sekarang saya tak terlalu ingin menjadi konsultan, tetapi keinginan untuk memberikan pengasuhan dan pendidikan yang baik dan benar itu masih ada terutama untuk anak sendiri. Ya, saya ingin terus menekuni ilmu-ilmu parenting terutama pada bagian perkembangan psikologis dan mental anak. Dulu saya berpikir bagaimana cara untuk melakukannya, saya banyak membaca tapi semuanya masih menjadi ide-ide yang berserakan. Sekarang ketika saya sudah umur 20-an, ternyata sudah banyak penggiat-penggiat parenting berdasarkan ilmu psikologi dan sebagainya. Tentunya saya tak perlu lagi menyusun kurikulum sendiri. Membaca-baca dan mencari tahu, akhirnya saya menemukan beberapa ilmu parenting yang sudah ada kurikulumnya dan ternyata sesuai dengan keinginan saya. Namun, semua itu saat ini masih berupa ide-ide yang berserakan karena saya masih hanya senang membaca-baca saja. Saya masih belum serius. Oleh karena itu, saya harus menentukan strategi ke depannya untuk mendalami keilmuan ini, diantaranya adalah dengan membaca dan mencari lagi dengan seksama kurikulum pengasuhan dan pendidikan anak, mengikuti seminar parenting, dan mungkin aktif dalam komunitas parenting.

Mengikat ilmu dengan menulis, akhir-akhir ini saya jarang melakukannya. Padahal dulu sering sekali ketika saya penasaran akan suatu hal, saya benar-benar mencari sumber-sumber bacaan kemudian menyusun semua ide menjadi satu tulisan yang runtut. Lalu ketika saya membaca teori-teori parenting saya berpikir bahwa materi sebanyak ini tak mungkin mudah dihapal, belum lagi ketika saya berada dalam kondisi harus praktek, apakah saya masih ingat? Jadilah saya berpikir bahwa saya harus mengumpulkan semua materi dan mencetak modul atau bahkan menempelkannya di dinding kamar dan rumah supaya saya bisa membacanya berulang-ulang sampai ingat. Ya, tapi semua itu belum saya lakukan karena saya sadar saya masih belum serius, saya masih moody-an. Apalagi saya sadar bahwa masih ada beberapa kebiasaan yang harus saya lakukan mulai saat ini supaya nanti bisa dicontoh anak saya misalnya lebih sering lagi membaca buku. Setelah ikut perkuliahan pertama kali di MIIP, ternyata saya baru tahu kebiasaan saya ini adalah sikap yang kurang baik dalam materi adab menuntut ilmu. Alhamdulillah setelah mengikuti materinya saya jadi tahu bahwa adab ini sangat penting sebelum amal. Ya, sebelum saya bisa mempraktekkan ilmu-ilmu parenting (amal), adab saya terhadap ilmu ini harus benar, bukan hanya sekadar membaca. Bismillah..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar