Senin, 09 Januari 2017

Menjadi Penulis (yang Mendekati) Berbakat

Ternyata benar apa kata pepatah, pikiran manusia itu seperti teko. Jika tekonya diisi teh, maka hanya teh yang akan keluar. Jika diisi kopi, maka hanya kopi yang akan keluar. Pun jika tekonya tidak diisi, ya tidak bisa mengeluarkan apa-apa. Sama seperti seorang penulis yang tidak banyak memasukkan sesuatu ke dalam pikirannya, ia tak akan bisa menghasilkan apa-apa.

Menjadi seorang penulis itu mutlak harus banyak membaca, banyak menginput informasi bermanfaat ke dalam pikirannya, agar dapat menghasilkan tulisan. Tak mesti melulu membaca buku yang berat-berat bahasannya, buku yang ringan pun bisa. Tak pula mesti membaca buku, membaca artikel pun bisa. Bahkan tak pula mesti membaca; mendengar, melihat, atau menonton pun bisa. Namun, yang terpenting dari itu semua adalah bagaimana caranya kita mengolah informasi yang masuk dari seluruh indera kita menjadi suatu ide yang dapat ditulis.

Ada seorang penulis yang telah banyak membaca, tetapi sulit rasanya menghasilkan satu tulisan pun. Namun, ada juga penulis yang hanya mengobservasi lingkungannya ditambah kontemplasi sejenak sudah dapat menghasilkan tulisan yang bagus. Untuk menghasilkan tulisan yang bagus pun diperlukan kepekaan jiwa dan penghayatan agar dapat menyadari berbagai hal penting yang masuk dari seluruh indera kita. Karena itulah penulis yang ulung pasti memiliki kepekaan jiwa yang baik dan kita biasa menyebutnya dengan penulis berbakat.

Banyak hal yang mempengaruhi seorang penulis untuk menghasilkan tulisan, tetapi bagi yang merasa tidak berbakat pun tentu masih bisa mendekati predikat berbakat. Salah dua caranya adalah dengan banyak membaca / menginput informasi bermanfaat dan melatih kepekaan jiwa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar