Selasa, 13 Desember 2016

Puisi: Terjebak Dalam Pola; Tersesat Dalam Takdir

Membuka mata dan menyaksikan kegelapan digantikan oleh berkas cahaya.
Semua perjalanan hidup diawali dengan kebahagiaan.
Kelahiran, kebebasan, perjalanan, dan pertemuan adalah kebahagiaan.
Kebahagiaan yang cerah, indah, merekahkan senyum, dan menggelitik hati.
Mengagumi tiap peristiwa yang terjadi dan mengindahkan tiap detik yang terlewati.
Namun, kebahagiaan tidak ditakdirkan untuk terus berlangsung selamanya.
Ketika cahaya sudah tidak bersinar sama seperti kita membuka mata dulu.
Ada yang berbeda, ada yang terasa salah.
Ruang dan waktu terasa sempit.
Nafas tercekat, pandangan terkuantisasi.
Semua bentuk kehidupan seakan menghimpit dari berbagai arah.
Dan tiap langkah maju yang ingin diambil mengandung ragu.
Tak tahu apa yang akan menanti di depan.
Itulah ketakutan.
Tak mampu berpikir banyak, harus mampu tetap bergerak.
Apa yang kau tahu tentang ketakutan?
Bahwa menghadapinya akan menjadikan kita kuat.
Bahwa sesungguhnya ujian diberikan di titik kelemahan kita.
Dapatkah kita lulus dalam satu kali ujian? Ataukah kita harus lulus pada remedial yang ke-sekian?
Ambil langkah diiringi doa, tenangkan diri dan yakinkan semuanya dapat terlewati.
Mempelajari pola, mencari jawaban, menelan perih dan pahit.
Tak berdaya; melepaskan pertahanan diri membiarkan diri terkulai lemah.
Lalu..
Tanpa terasa aku telah sampai di depan pintu setelah melalui sekian kali remedial.
Berpikir untuk sesaat bahwa mungkin di balik pintu ini adalah kebebasan.
Tapi.. ada yang aneh.
Ini bukan pintu keluar, melainkan pintu masuk menuju banyak pilihan yang dapat kau ambil.
Kebingungan. Pilihan mana yang harus kau ambil?
Terburu-buru mengambil keputusan mungkin juga tidak baik.
Ini hanya waktu istirahat. Ujian masih belum berakhir.
Masih banyak waktu. Kata siapa? Waktu habis secepat kau mengerjapkan mata.
Semua gelap. Masihkah ada harapan? Apakah benar kita dapat memilih sendiri tindakan yang harus kita lakukan?
Ataukah kita hanya ditakdirkan mengambil jalan yang bercahaya di balik punggung?
Who knows?
Jalan ini.. terasa familiar, terasa hangat, seperti pernah dilalui sebelumnya.
Mungkin sedikit demi sedikit aku telah diakui untuk lulus.
Namun ada yang berbeda, ada yang tak hadir di sini.
Senang telah sampai pada tahap ini, telah berhasil melewati jalan-jalan sebelumnya.
Namun, apakah aku memang menginginkan ini?
Mencari jati diri dari eksistensi kekosongan ini.
Mungkinkah ini rasanya terjebak?

6 komentar:

  1. Wow kak, puisinya bagus,,, kok bisa ya kakak merangkai kata2 jadi sebagus itu,,, minta tips dari ka2k boleh ,,?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau kata orang mah seorang pujangga hanya bisa merangkai kata ketika jatuh cinta dan patah hati. Menurut sy kalimat itu mksdnya seorang hanya bisa merangkai kata2 indah (seperti pujangga) ketika lagi merasakan suatu emosi. Nah sy sendiri ketika menulis ini saat itu istilahnya lagi 'galau' dan tiba2 aja ingin menulis dan jadilah seperti ini. Kalau tipsnya bisa dg lebih sering mendengarkan suara pikiran dan hati utk ide menulis yg terlintas, kalau untuk keindahan bahasa, coba banyak baca karya tulis yg demikian, sy juga suka baca soalnya hehe, semoga membantu yaa, trimakasih sudah mampir :D

      Hapus
    2. Hehehe,, :-) bisa sama yah templatenya ?? :-)

      Iya kak, makasih infonya

      Hapus
    3. Hehe iya templatenya ada di opsi bawaannya blogger sih

      Sip sama2 ya :)

      Hapus
  2. Heheh,, kakak skrng kuliah apa kerja ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Udah kerja nih hehe, memangnya kenapa? Hehe

      Hapus