Senin, 19 Desember 2016

MENELUSURI INDAHNYA BELITUNG (PART 3)


Kamis, tanggal 5 Mei 2016. Hari ketiga petualangan kami di Belitung. Masih di Belitung Timur, target kami pagi ini adalah menyaksikan pemandangan matahari terbit alias sunrise! Sudah tepat sekali kami berada di paling Timur Pulau Belitung ini untuk menyaksikannya. Kami tidak pergi ke pantai yang kemarin sore kami kunjungi, kami memilih untuk pergi ke Pantai Nyiur Melambai karena paling dekat dari penginapan kami. Selepas sholat subuh, kami langsung berangkat ke pantai menunggu matahari menampakkan dirinya.

Pemandangan sunrise di Pantai Nyiur Melambai
Sekitar jam setengah 6 pagi matahari mulai menampakkan dirinya. Sayangnya pemandangan matahari terbit tidak dapat dilihat dengan jelas di pantai ini karena tertutupi oleh awan-awan tipis. Meski demikian, semburat warna kuning kemerahan yang muncul dari balik cakrawala sangat indah untuk dipandang. Kami pun tak lupa mengabadikan sunrise pertama kami di pulau ini dengan video timelapse.


Subuh-subuh bertandang ke Pantai Nyiur Melambai, seperti pantai-pantai sebelumnya, di sini sama sekali tidak ada orang lain hingga matahari meninggi ketika kami hendak pulang sehingga kami puas berlama-lama di pantai ini bermain pasir dan menikmati waktu berdua. Momen ini pun tak kami sia-siakan untuk berfoto siluet.

Romantisme berlatar matahari terbit

Ya sesekali nggak cuma siluet lah

Menopang matahari
Panorama Pantai Nyiur Melambai saat matahari telah meninggi

Tulisan 'Nyiur Melambai' menjadi penanda pantai ini

Tugu replika Batu Satam di Pantai Nyiur Melambai
Untuk mencapai pantai ini tidak perlu bingung, karena jika sudah sampai, akan ada tulisan besar “Nyiur Melambai” seperti pada foto di atas. Selain pantai yang indah dengan ombak yang tenang dan pasir yang lembut, di pantai ini juga ada replika Tugu Batu Satam seperti yang ada di pusat kota Tanjung Pandan, Belitung Barat. 

Menunjukkan pukul jam 7 pagi, kami kembali ke penginapan untuk sarapan. Saat tiba di penginapan, kami melihat sudah ada beberapa mobil yang baru terparkir, tandanya kami akhirnya tidak lagi hanya berdua di penginapan ini, haha. Sarapan di penginapan ini tidak seperti sarapan di hotel yang makanannya sudah tersedia dan kami tinggal ambil dengan metode prasmanan, tapi kami seperti makan di restoran ala warteg. Kami ditanya ingin makan apa lalu dimasakkan oleh Ibu Koki. Kami akhirnya memesan dua nasi goreng dan minuman dengan harga Rp 50.000,- untuk kami berdua. Karena tujuan kami sudah tercapai di Belitung Timur ini, setelah sarapan kami langsung melakukan perjalanan untuk kembali ke Belitung Barat.

Bismillah, menuju Belitung Barat

Jika ketika berangkat kemarin kami melewati jalan Utara dari Belitung Barat ke Belitung Timur, kali ini kami melewati jalan tengah yang lebih pendek jaraknya yaitu sekitar 81 km yang dinamai Jalan Tengah Tanjung Pandan – Manggar. Jalan yang kami lalui ini agak berbeda dengan jalan Utara. Jalanan yang kami lalui terdapat banyak lubang-lubang dan kerusakan sehingga sesekali kami harus menurunkan kecepatan. Karena itulah, meskipun luas jalannya sama, tetapi ternyata waktu perjalanan yang kami tempuh mencapai 2,5 jam padahal menurut maps, kami dapat menempuh jarak tersebut hanya dalam waktu 1,5 jam saja. Itu pun, kami tidak banyak mampir di perjalanan karena tidak banyak pemandangan yang dapat menjadi background foto. Di sepanjang jalan, yang kami temui adalah banyaknya hutan-hutan dan tebing. 

Oh iya, di pulau Belitung ini, SPBU masih sangat sedikit bahkan ketika di pusat kota, selebihnya bahan bakar biasa dijual eceran oleh warga, itu pun masih lumayan jauh jarak antarwarga yang menjual bensin eceran. Bensin yang dijual eceran oleh warga dihargai sedikit lebih mahal, sedangkan harga bahan bakar di SPBU sama dengan harga di Pulau Jawa. Oleh karena itu, pembaca yang berniat berlibur dan berkendara sendiri di Belitung sebaiknya memperhitungkan dengan matang jarak yang akan ditempuh dan berapa banyak bahan bakar yang diperlukan. Jangan sampai mogok di tengah jalan karena kehabisan bensin seperti yang kami alami di hari ketiga ini gegara rusaknya sensor kapasitas bensin sehingga kami tidak sadar bahan bakar sudah habis.


Pemandangan hutan di kiri dan kanan jalan
Alhamdulillah akhirnya sebelum tengah hari kami sudah sampai kembali di Kota Tanjung Pandan. Di sini, kami memesan penginapan yang berbeda dengan hari pertama kami di Belitung. Kali ini kami memesan hotel yang dekat dengan pantai yaitu Hotel Central City 2. Di hari terakhir ini kami sengaja memesan penginapan yang sedikit lebih tinggi levelnya dari dua hari sebelumnya karena kami masih punya sisa budget penginapan hehe. Sepertinya ini adalah hotel berbintang, tapi penulis tidak bisa memastikan hotel bintang berapakah ini. Tarif menginap per malam di hotel ini untuk pilihan Superior Room adalah Rp 287.693,- menurut website Traveloka yang tentunya sudah full facility yaitu AC, air panas, dan sarapan.

Interior Hotel Central City 2, benar-benar hotel kali ini hihi

Interior kamar Hotel Central City 2
Interior kamar mandi Hotel Central City 2

 
Ini penulis lagi ngapain ya? Haha

Setelah beristirahat sejenak dari perjalanan panjang, kami jalan-jalan mencari makan siang. Kami memutuskan untuk mencicipi kembali Mie Belitung yang khas itu, tetapi kali ini kami membelinya dari kedai yang berbeda dengan sebelumnya yaitu Kedai Mak Jannah yang lokasinya lebih dekat ke Tugu Batu Satam dibandingkan dengan Mie Belitung ‘Atep’.

Kenampakan muka Kedai Mak Jannah

Menu yang kami pesan adalah sepiring Mie Belitung Goreng plus sambal dan teh tarik! :D
Ketika melihat daftar menu, kami baru tahu kalau Mie Belitung ada versi yang digorengnya sehingga kami pesanlah. Ternyata Mie Belitung Goreng tidak kalah enaknya dengan yang biasa (mungkin yang biasa itu versi kuah atau ‘nyemek’). Secara umum, komposisi Mie Belitung di sini sama dengan Mie Belitung ‘Atep’, bedanya di sini ternyata telur ceplok dan bawang goreng ditambahkan sebagai topping juga dan porsi mie-nya lebih besar. Mmmmm, kami makan dengan lahap dan alhamdulillah kami kenyang! :D Untuk seporsi Mie Belitung Goreng dengan teh tarik sebagai minumnya, kami membayar Rp 30.000,-, memang lebih mahal dibandingkan dengan Mie Belitung ‘Atep’, tapi tentunya karena banyak perbedaannya ya hehe.

Setelah mengisi perut, kami menuju ke tempat oleh-oleh khas Belitung. Karena besok kami akan meninggalkan pulau nan indah ini, maka hari ini kami wajib berbelanja oleh-oleh. Bertanya pada penduduk sekitar di mana kami bisa membeli oleh-oleh Belitung yang dekat dari tempat kami makan, kami ditunjukkan dengan sebuah toko bernama Galeri KUMKM yang ternyata cukup dekat hanya 250 meter lurus menjauhi Tugu Batu Satam. Di sini kami membeli beragam oleh-oleh yaitu kaos bertuliskan Laskar Pelangi, magnet kulkas, kerupuk-kerupuk ikan mentah dengan bentuk yang unik, kerupuk ikan yang sudah digoreng, dan kue rintak (kue kering berbahan sagu). Tidak banyak yang kami beli sehingga kami hanya menghabiskan Rp 760.000,- saja.

Selesai berbelanja oleh-oleh, kami menuju ke Pantai Tanjung Tinggi yang merupakan salah satu pantai di Belitung yang diminati pengunjung untuk menyaksikan pemandangan matahari terbenam. Pantai Tanjung Tinggi berjarak 28 km dari penginapan yang menurut maps membutuhkan waktu tempuh sekitar setengah jam melalui Jalan Tanjung Pandan – Tanjung Kelayang. Baru sekitar 4 km dari penginapan, kami berhenti sejenak mengabadikan panorama Jembatan Kubu. Jembatan ini dibangun di atas sebuah teluk di sisi Barat Pulau Belitung sehingga dari atas jembatan ini terlihat panorama laut di kejauhan. 

Jembatan Kubu
Panorama di atas Jembatan Kubu

Setengah jam kemudian, sampailah kami di Pantai Tanjung Tinggi. Kali ini lebih terlihat tanda-tanda kehidupan karena akhirnya pengunjung pantai ini tidak cuma kami berdua saja haha. Ternyata memang pantas pantai ini lebih banyak diminati pengunjung dibanding pantai-pantai yang sebelumnya kami kunjungi. Suasana dan panorama pantai ini berbeda karena lanskapnya yang banyak mengandung bebatuan nan besar. Dipadukan dengan sedikit pohon-pohon, masih dengan ombak yang tenang dan pasir karang yang kasar menjadikan pantai ini memiliki atmosfir yang khas. Maka dari itu, untuk masuk ke Tanjung Tinggi ini ada biaya masuknya yang hanya Rp 2000,- saja.

Panorama yang indah dari Pantai Tanjung Tinggi

Bebatuan berwarna hitam kontras menemani pasir yang putih dan lembut

Pepohonan menghiasi pantai di kejauhan membuat udara terasa sejuk meskipun sedang berada di pantai

Ingin menyaksikan pemandangan matahari terbenam membuat kami datang ke pantai ini. Namun sayang, sama seperti di Pantai Nyiur Melambai sebelumnya, sunset di sini tak dapat dilihat dengan jelas karena langit yang berawan. Meski demikian, kami mengabadikan prosesnya melalui video timelapse dan di sana terlihat pergerakan awan bersama matahari yang kembali menuju peraduannya (abaikan bayangan fotografer yang seenaknya masuk frame kamera huft). Dan sambil merekam proses terbenamnya matahari, kami pun mendapatkan beberapa foto siluet yang bagus. Maklum, memang background matahari terbenam bagusnya dimanfaatkan untuk foto siluet hehe.


Gaya pendekar berkacamata

Menatap masa depan di kejauhan
Menunjukkan pukul 6 sore, hari sudah mulai gelap dan kami bergegas untuk pulang, mengingat kami harus menempuh jarak 28 km untuk sampai di hotel. Dengan kondisi hari yang sudah malam, jalanan yang gelap akan memperpanjang waktu perjalanan kami. Setelah sampai di hotel, kami beristirahat dan mengemasi barang-barang kami karena penerbangan pulang kami besok berangkat jam 7.30 pagi. Berkaca dari pengalaman penulis sebelumnya yang pernah ketinggalan pesawat karena terlambat check in, akhirnya kami bertekad untuk sampai di bandara minimal jam 6 atau 6.30 pagi. Oleh karena itu, kami memesan jasa antar bandara untuk menjemput kami di hotel jam 5 pagi. Jasa antar bandara yang kami pesan berasal dari agen yang sama dengan yang kami gunakan untuk island hopping dan sewa motor. 

Keesokan harinya, kami sudah siap untuk berangkat jam 5 pagi, kami bahkan sudah meminta pihak hotel menyediakan sarapan untuk kami jam 4 pagi, namun ternyata jemputan yang kami tunggu belum datang juga. Pihak agen tidak bisa dihubungi pula. Penulis sudah panik karena khawatir terlambat. Setelah terus mencoba akhirnya pada jam 5.30, pihak agen bisa dihubungi dan akan segera menjemput. Penulis tetap panik karena jemputan baru datang jam 6 lebih tapi hanya bisa pasrah saja semoga tidak terlambat. Ternyata pihak agen santai saja menjemput kami karena sudah tahu bahwa meskipun penerbangan jam 7.30, tetapi bandara baru buka jam 6.30 dan kondisi jalanan dari Tanjung Pandan ke bandara sama sekali tidak macet sehingga kami sampai hanya dalam waktu 30 menit. Alhamdulillah kami tidak terlambat. Kami bahkan masih bisa menyaksikan matahari terbit dari ruang tunggu bandara haha. Sebelum masuk ke bandara, kami membayar biaya sewa motor selama dua hari yaitu sebesar Rp 140.000,- dan biaya antar bandara untuk dua orang sebesar Rp 70.000,-. Kami cukup puas dengan pelayanan yang diberikan oleh agen tersebut. Akhirnya pesawat kami berangkat sesuai jadwal. kami sampai di Bandara Soekarno-Hatta sekitar satu jam kemudian dan kami sudah sampai kembali di Bekasi menggunakan Bis Damri sebelum tengah hari.

Tidak terasa sudah waktunya pulang

Selamat tinggal Belitung, semoga kami diberi kesempatan untuk mengunjungimu kembali 

Tamat


2 komentar: