Selasa, 06 Desember 2016

MENELUSURI INDAHNYA BELITUNG (PART 2)


Rabu, tanggal 4 Mei 2016. Hari kedua petualangan kami di Belitung, dari Belitung Barat, Kota Tanjung Pandan, tujuan kami selanjutnya adalah mengunjungi Belitung Timur, Kota Manggar, tempat yang terkenal dengan warung kopi Belitungnya dan Museum Kata Andrea Hirata, Laskar Pelangi. Untuk mencapai ke sana, kami memerlukan kendaraan dan kami sudah merencanakan untuk menyewa sepeda motor untuk tiga hari ke depan. Mulai hari kedua ini, kami sudah berpisah dengan dua teman saya dan kami menjalani petualangan di Belitung hanya berdua saja.

Berbekal informasi dari internet, katanya di Belitung, penginapan-penginapan biasanya banyak menyediakan jasa sewa motor. Jadilah kami mencoba menyewa motor dari hotel tempat kami menginap ini. Ternyata rencana tidak semulus yang kami kira, motor dari hotel ini hanya dapat disewakan khusus untuk tamu hotel yang akan kembali menginap di sini. Karena kami berencana akan ke sisi lain pulau Belitung dan akan menginap di sana, tentu kami tidak diperbolehkan menyewa. Mencoba mencari jalan keluar, kami mencoba mencari info penyewaan sepeda motor lain sambil menikmati jatah sarapan kami. Lagi-lagi ekspektasi penulis tentang sarapan adalah nasi dan lauk-pauknya dan ternyata yang disediakan oleh hotel hanya gorengan dan kue-kue basah. Penulis buru-buru mengingat tarif menginapnya yang murah supaya tidak jadi mengeluh hehe.

Di tengah pencarian jalan keluar itu, ternyata kami tidak sengaja menemui seorang tamu yang sedang sarapan juga di hotel, katanya Bapak tersebut punya sepeda motor yang dapat disewakan untuk kami. Alhamdulillah, kami bersyukur. Sambil menunggu motornya disediakan, kami mengobrol, tak sengaja kami mengetahui ternyata Bapak tersebut adalah pemilik agen tur pulau yang kami gunakan kemarin yaitu Pak Kusdian, suatu kebetulan yang menyenangkan. Kami sangat bersyukur mendapatkan motor sewaan dari Pak Kusdian yang bahkan dapat kami bawa menginap ke manapun di seluruh pulau Belitung ini tanpa jaminan apapun. Terima kasih, Pak!

Akhirnya dimulailah petualangan hari kedua kami di Belitung. Untuk mencapai Belitung Timur, ada banyak jalan utama yang dapat dilalui, tapi kami memilih lewat utara yaitu Jalan Raya Bandara-Manggar sepanjang kira-kira 90 km melalui Bandara H.A.S. Hanandjoeddin. Menurut maps, kami dapat mencapai tujuan hanya dalam waktu sekitar dua jam saja karena traffic yang hampir sepanjang jalan berwarna biru. Sebelum mulai perjalanan jauh, tidak lupa kami mengisi penuh tangki bahan bakar dan mampir ke minimarket untuk membeli makanan dan minuman perbekalan.

Bismillahirrahmanirrahiim, kami berangkat meninggalkan Kota Tanjung Pandan. Semakin jauh kami meninggalkan kota, jalanan semakin sepi pengendara. Hanya satu dua mobil atau motor datang dari arah berlawanan dalam satu waktu. Kami bahkan bisa berkendara dengan kecepatan mencapai 100 km/jam. Gara-gara itu, berkali-kali helm penulis hampir terbang hahaha. Padahal jalan rayanya cukup luas kira-kira bisa menampung hingga 4 ruas mobil. Sepertinya butuh waktu lama sekali hingga kemacetan menghampiri tempat ini haha.
Saking sepinya jalan raya, kami dapat berhenti di pinggir jalan sejenak dan selfie

Jalan raya yang kami lewati masih penuh dengan penghijauan di sisi kiri dan kanannya. Terkadang kami melewati daerah yang banyak berjejer pepohonan seperti hutan, kadang kami melewati padang rumput yang luas, kadang kami melewati sawah dan perkebunan. Jarang kami melihat rumah penduduk, ada namun jarang. Sampai-sampai saya bercanda mengusulkan untuk membeli tanah di sini, pasti dengan jumlah uang yang sama, kami bisa mendapatkan tanah yang lebih luas di sini dibanding di Jawa Barat. Cuaca di sini juga hampir mirip dengan Bandung, masih dingin dan sejuk. 

Sambil meneruskan perjalanan, sesekali kami berhenti untuk menikmati pemandangan dan mengambil foto, tentunya untuk melemaskan otot juga, lumayan pegal lama-lama duduk di atas motor. Akhirnya, ketika kami baru berkendara selama kira-kira 20 menit, kami menemukan padang rumput yang luas. Kami berhenti dan berfoto.
Ketika menemukan padang rumput yang luas, kami berhenti dan berfoto

Tak lama kami berhenti, kami sudah melanjutkan perjalanan lagi. Tapi setelah 30 menit perjalanan, kami menemukan sebuah lapangan luas berlatar belakang gunung. Karena pemandangannya sangat cantik, kami berhenti lagi dan berfoto haha.
Panorama gunung yang indah

Sepertinya lapangan itu biasa dipakai penduduk untuk main sepak bola. Sayangnya, karena kami hanya kebetulan saja menemukan tempat ini, kami pun tidak tahu apa nama gunung tersebut. Tempat ini kira-kira berjarak 25 km dari titik awal perjalanan kami. Lapang ini masih senasib dengan jalanan raya yang kami lewati, yaitu sepi banget, ngga ada orang sama sekali, saking sepinya kami lagi-lagi bisa puas foto-foto alay.
Awalnya gaya kalem dulu

Selanjutnya foto levitation yang hits, haha

Terbang mas ceritanya?

Oke, foto alaynya dicukupkan saja hahaha. Setelah berhenti dan berfoto cukup lama, kira-kira setengah jam, akhirnya kami kembali melanjutkan perjalanan. Lalu, Setelah melaju selama kira-kira setengah jam, kami menemukan lagi sebuah tempat yang cocok untuk foto-foto haha, kira-kira berjarak 38 km dari titik awal perjalanan kami.
Memandang cakrawala di kejauhan

Kali ini kami menemukan sejenis lahan yang tidak terurus. Pemandangan langit yang cerah membiru di sini sangat jelas dan indah.Tanpa terasa kami sudah menghabiskan waktu satu setengah jam padahal setengah perjalanan pun belum kami lewati. Maklum, kami berniat untuk santai saja dan menikmati waktu berdua hihi. 

Sebenarnya sambil melakukan perjalanan, kami juga mencari informasi kira-kira tempat wisata apa yang akan kami lewati, barangkali kami bisa mampir. Lalu kami menemukan di sekitar kami ada tempat wisata tambang timah yang sudah ditinggalkan yaitu Open Pit, Kelapa Kampit. Kami menemukan tulisan petunjuk jalan menuju ke sana, tapi setelah kami telusuri ternyata untuk mencapai lokasinya kami masih harus berjalan jauh karena tracknya tidak bisa dilewati kendaraan. Akhirnya kami tidak jadi mampir dan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju Kota Manggar.

Setelah melanjutkan lagi perjalanan selama setengah jam, kami akhirnya melewati tempat wisata bernama Bukit Pangkuan yang berjarak 52 km dari titik awal perjalanan dan kami pun memutuskan untuk mampir hehehe.
Wisata outbond dan waterboom Bukit Pangkuan

Sebenarnya, Bukit Pangkuan adalah tempat wisata outbond dan terdapat kolam waterboom di dalamnya. Tapi karena keadaan sangat sepi tidak ada orang, dan kami juga tidak berencana untuk outbond dan berenang, jadinya kami hanya melihat-lihat saja dan berfoto-foto. Sayangnya kami tidak memotret fasilitas outbond dan waterboomnya.

Kami kembali melanjutkan perjalanan. Setelah melaju selama 40 menit, kami beristirahat di sebuah saung petani dengan pemandangan sawah berlatar belakang pegunungan yang berjarak kira-kira 69 km dari titik awal perjalanan kami.
Gunung apa ya yang ada nun jauh di sana?

Apakah harus jadi petani untuk memandangi alam sawah dan gunung yang indah?

Sudah hampir tengah hari ketika kami sampai di sini dan kami masih harus menempuh perjalanan sekitar 20 km lagi untuk sampai ke Kota Manggar. Ayo Kak semangat nyetirnya! Hehe.

Satu jam kemudian, alhamdulillah, akhirnya kami sampai di Kota Manggar! Yang pertama kali terpikirkan oleh penulis setelah melihat tanda-tanda kehidupan adalah…cari makan! Dengan mengemudi pelan-pelan akhirnya kami memutuskan untuk mampir ke kedai yang menjual kelapa muda.
Makan es kelapa muda untuk menghilangkan dahaga dan sedikit menunda lapar haha

Satu batok kelapa muda utuh di sini dapat dibeli seharga Rp 10.000,-. Kami hanya membeli satu untuk berdua biar romantis (padahal sebenarnya biar hemat haha). Oh iya, ketika kami memesan es kelapa muda, penjualnya juga memberi kami kacang tanah goreng lengkap dengan garamnya. Katanya kalau di sini, minum kelapa muda enaknya bareng kacang goreng. Wah lumayan juga. 

Setelah dahaga terpuaskan, kami langsung menuju penginapan yang telah kami pesan sebelumnya lewat Traveloka yaitu Penginapan Bukit Samak yang lokasinya dekat dengan Pantai Nyiur Melambai. Karena lokasinya dekat dengan pantai dan berada di atas bukit, kami dapat melihat pemandangan pantai dari depan kamar kami. Di penginapan ini ternyata kamar yang kami pesan bukan sekedar kamar, tapi satu kamar yang memiliki bangunan sendiri, seperti bungalow. Padahal tarif menginap per malamnya hanya Rp. 155.541,- lebih murah dibanding penginapan kami hari sebelumnya. Kamarnya pun lebih luas dibanding Hotel Mustika Belitung, dan fasilitas juga lengkap dengan AC, TV, dan air panas. Namun, tarif tersebut tidak termasuk fasilitas makan malam dan sarapan.
Kenampakan kamar di Penginapan Bukit Samak

Kenampakan kamar di Penginapan Bukit Samak

Setelah berkendara selama 4 jam lebih, kami beristirahat sejenak di kamar sebelum melanjutkan petualangan untuk meluruskan dan melemaskan otot-otot. Berhubung kami belum makan siang, kami memutuskan untuk makan di penginapan. Melihat sekeliling, penginapan masih sepi pengunjung. Katanya sekarang memang masih sepi, tetapi besok sudah ada beberapa tamu yang memesan kamar karena tanggal merah berturut-turut dimulai besok dan lusa, tanggal 5 dan 6 Mei. 

Kami makan di atas meja makan yang telah disajikan berbagai lauk-pauk. Sistemnya seperti makan di restoran Padang. Lauk apa yang kami ambil, itulah yang kami bayar. Akhirnya kami makan nasi dengan sayur dan ikan, tak lupa dengan minumannya yaitu segelas jus buah untuk berdua. Total harga yang harus kami bayar adalah Rp 40.000,-.

Kami sudah makan, selanjutnya kami menuju ke tempat wisata utama kami yaitu Museum Kata Andrea Hirata. Museum Kata Andrea Hirata terletak di Jalan Laskar Pelangi, Kecamatan Gantung, berjarak sekitar 20 km dari penginapan Bukit Samak. Ketika kami sampai, ternyata sedang dilakukan renovasi dan perluasan museum di bagian depan, sayang sekali kami datang di waktu yang kurang pas sehingga tidak bisa mendapat foto bagian depan museum yang bagus.
Quote dari Shakespeare sejenak setelah memasuki museum

Laskar Pelangi ternyata telah diterjemahkan ke berbagai bahasa

Bagian dalam museum

Replika ruang kelas sekolah Laskar Pelangi

Bagian dalam replika ruang kelas sekolah Laskar Pelangi

Duduk bareng (gambarnya) Andrea Hirata

Dinding Museum Kata Andrea Hirata

Di bagian belakang museum terdapat kedai minum kopi khas Belitung. Kita juga dapat membeli oleh-oleh bubuk kopinya saja. Kedainya sangat tradisional dan kopi pun disajikan masih dengan cara tradisional. Karena saya dan suami kurang begitu suka minum kopi, jadilah kami hanya membeli bubuk kopinya saja sebagai oleh-oleh. Ya kata penjualnya, belum afdhol pergi ke Manggar kalau belum beli kopi Belitung haha. Kami membeli 4 kantong bubuk kopi yang masing-masing beratnya 250 g beserta goodie bag kecil bertuliskan Kupi Kuli seperti tulisan pada bungkus kopinya yang totalnya seharga Rp 100.000,-. Sebenarnya Belitung tidak memiliki perkebunan kopi sendiri, jadi kopi Belitung terbuat dari biji kopi yang dikirim dari daerah lain di dalam negeri yang digiling, diolah, dan disajikan secara tradisional khas Belitung. 

Kota Manggar, selain dikenal sebagai kota kelahiran penulis buku Laskar Pelangi, Andrea Hirata, juga dikenal sebagai kampung halamannya Gubernur DKI Jakarta saat ini yaitu Ahok. Tidak jauh dari Museum Laskar Pelangi, hanya berjarak 350 meter, juga terdapat Kampoeng Ahok. Mumpung dekat, kami mencoba ke sana, tapi setelah dilihat sepertinya itu bukan tempat wisata hehe kelihatannya hanya sebuah rumah besar, khawatir salah tempat akhirnya kami mampir saja ke sentra oleh-oleh di seberangnya.
Sentra oleh-oleh bernama Galeri Daun Simpor

Kami mampir hanya melihat-lihat saja karena ternyata sebagian besar isinya adalah kain, baju, dan souvenir yang harganya cukup mahal, selain itu kami juga kurang tertarik membelinya. Akhirnya di sini, kami langsung melanjutkan perjalanan ke pantai untuk melihat matahari terbenam. Sebelumnya di penginapan kami sudah bertanya pada ibu yang memasakkan kami makan siang tadi, katanya di Pantai Nyiur Melambai, pantai yang terdekat dengan penginapan, kita tidak dapat melihat matahari terbenam, tapi kita bisa melihat matahari terbit. Namun, ada satu pantai lagi yaitu Pantai Serdang di mana pantainya itu bentuknya menjorok sehingga mungkin bisa terlihat matahari terbenam di sebelah Barat.

Akhirnya kami mencoba pergi ke Pantai Serdang yang berjarak sekitar 23 km dari sini. Jam sudah menunjukkan pukul setengah 5 sore dan kami harus bergegas ke sana karena setidaknya perjalanan memakan waktu setengah jam. Akhirnya jam 5 lebih kami sampai Pantai Serdang kami masih memiliki waktu untuk bermain pasir dan air sebelum matahari terbenam.
Panorama Pantai Serdang

Sejak hari pertama kami melakukan island hopping, pantai-pantai yang kami temui selalu berpasir putih dan lembut, begitu pula dengan pantai ini. Angin pun sedikit yang berhembus sehingga ombak di laut hanya berupa riak-riak. Beda sekali dengan pantai-pantai di Bali seperti Kuta, Dreamland dan Sanur yang anginnya kencang dan ombaknya tinggi. Pantai Sanur pun pasirnya kasar karena merupakan pantai karang, di Sanur kita tidak dianjurkan untuk berenang. Ternyata yang menjadikan pantai di Belitung dan di Bali berbeda adalah pantai di Belitung tidak berhadapan langsung dengan samudra sedangkan Bali berhadapan langsung dengan samudra. Dari samudra lah asal angin yang kencang dan ombak yang tinggi.

Pantai ini, seperti tempat-tempat sebelumnya, benar-benar kosong, tidak ada orang sama sekali selain kami berdua. Hanya ada kapal-kapal nelayan yang menemani kami. Private Beach lagi! Akibatnya kami bisa sedikit alay dan membuat tulisan-tulisan alay di pasir, haha!
Pantai Serdang yang sepi dan damai

Hanya wangi angin dan laut yang menemani

Tulisan yang kami tinggalkan di sini, biarlah ombak yang menghapusnya

Sedikit jepretan bergaya fotografi

Setelah menunggu hingga waktunya matahari terbenam, ternyata benar dugaan kami bahwa di sini tidak akan kebagian pemandangan matahari terbenam, maklum kita benar-benar ada di ujung Timurnya Belitung. Di sini kami hanya kebagian gradasi warna matahari terbenamnya saja haha. Meski demikian, pemandangannya indah ternyata. Gradasi warna ungu kemerahan menghiasi langit berawan pas sekali disandingkan dengan pemandangan perahu-perahu nelayan yang sedang tertambat.
Pemandangan matahari terbenam di Pantai Serdang

Tak mendapatkan pemandangan matahari terbenam di sini, kami memutuskan untuk mendapatkan pemandangan matahari terbit saja esok hari. Akhirnya kami pun pulang, lalu tiba-tiba saja pemandangan matahari terbenam itu ada di hadapan kami, di ujung jalan pulang yang kami lewati.
Sunset di ujung jalan

Karena hari sudah malam, di perjalanan pulang suasana jalan raya benar-benar gelap karena minimnya lampu jalan. Ditambah baterai HP yang sudah sekarat, sedangkan kami membutuhkan aplikasi maps untuk bisa pulang. Kami akhirnya berkendara dengan pelan sambil berdoa agar sampai ke tujuan dengan selamat. Sampai di kota, kami mampir sejenak ke sejenis minimarket untuk membeli keperluan lalu mampir ke kedai mie baso untuk makan malam. Dua mangkuk mie baso dan dua gelas teh manis kami santap dengan membayar Rp 16.000,- saja. Sesampainya di penginapan kami langsung bebersih dan beristirahat agar dapat melanjutkan petualangan kembali esok hari.

Bersambung ke Part 3...

2 komentar:

  1. Wah, jadi mau ke Belitong....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo mas ke Belitong, salah satu tempat terindah di indonesia buat berlibur, daripada ke luar negeri, masih banyak yg bagus di negeri sendiri hehe, tiketnya juga murah kok kalau pesan jauh2 hari :D

      Hapus