Rabu, 14 Desember 2016

Makna Kebahagiaan

Ini adalah tulisanku di tahun 2015 yang dimuat dalam buku Happiness Laboratory karangannya Mba Urfa. Semoga dapat menjadi inspirasi bagi insan-insan pencari kebahagiaan di manapun kalian berada :')




~0~

Ketika mencoba mencari tahu makna kebahagiaan, saya teringat beberapa momen ketika saya merasa bahagia. Contohnya ketika menemukan film baru yang dibintangi oleh aktor idola, ketika bertemu dengan teman-teman dekat dan bercanda tawa sepanjang hari, dan ketika memiliki uang yang cukup untuk membeli barang yang diinginkan. Namun, ternyata rasa bahagia itu hadir ketika aktivitas tersebut saya lakukan. Rasa bahagia itu hilang ketika filmnya berakhir, ketika sudah waktunya pamit pulang pada teman-teman, dan ketika saya sudah bosan dengan barang tersebut. Ternyata kebahagiaan yang ini adalah jenis kebahagiaan yang tidak kekal.

Lalu saya mencoba mencari tahu lagi, dan saya teringat beberapa momen lain ketika saya merasa bahagia. Contohnya ketika mengeluarkan sebagian uang bulanan ke infaq masjid dengan harapan akan membantu sesama, ketika mengajarkan ilmu agama dan ilmu dunia dengan harapan akan menjadi amal jariyah, dan ketika berbakti pada kedua orang tua dengan harapan akan mendapatkan ridha Allah, serta ketika mengalami sebuah cobaan yang pada akhirnya Allah tunjukkan bahwa semua cobaan itu adalah untuk mendewasakan saya. Saya sadar, ternyata ini kebahagiaan yang berbeda dari sebelumnya. Kali ini, kebahagiaan ini tidak berakhir ketika uang itu masuk ke kotak amal, tidak berakhir ketika sesi belajar mengajar sudah berakhir, tidak berakhir ketika terlalu banyak keinginan dari orang tua, pun tidak berakhir meskipun saya telah menderita cukup lama dan kehilangan banyak hal. Ternyata inilah bahagia yang sesungguhnya bagi saya. Bahagia yang kekal. Berkah namanya. Seperti yang saya baca di buku Lapis-lapis Keberkahan karya Salim A. Fillah.

“Ialah berkah; nikmat yang menerap, berkekal, bertumbuh, dan bertambah. Ialah berkah; berakar, tumbuh, dan mekarnya karunia Allah hinga kembang iman semerbak melangit dan buah taqwa lezat melegit. Ialah berkah; kebahagiaan yang tumbuh dari bimbingan Allah untuk mentaati-Nya di setiap keadaan.”

Pada akhirnya, saya sadar bahwa bagi saya seorang INFJ, kebahagiaan itu bukan sesuatu yang menggembirakan sampai ingin membuat jantung copot, melainkan lebih ke sesuatu yang menenangkan, damai, dan memenuhi kebutuhan jiwa sekaligus. Contohnya ketika berkumpul dengan kerabat, bukan canda tawa bersama kerabatnya yang membahagiakan, melainkan rasa tenang dan damai berada di tengah-tengah orang yang kita tahu mereka mencintai kita. Rasa itu membuat kita tersenyum simpul bahagia. Berkorban untuk orang-orang yang saya cintai karena Allah juga adalah kebahagiaan karena kebahagiaan mereka adalah kebahagiaan saya juga. Kebahagiaan saya pun termasuk ketika merasakan malam hari yang lelah setelah memanfaatkan waktu di siang hari dengan produktif tanpa sia-sia berharap dapat selangkah mendekat menjadi salah satu orang yang dicintai Allah.

Lalu yang tak kalah pas momennya adalah saat saya membaca kata-kata ini dari Billy, salah satu tokoh game Android popular berjudul Happy Street.

“The only things you need in life are: a home and the company of people who love you.”

Dan kembali saya sadar, ternyata kebahagiaan bagi saya cukup 3 hal: cinta Allah, cinta orang-orang yang mencintai saya, dan kehangatan rumah. :’)

4 komentar:

  1. Suka pada kesimpulannya, Bahagia = Cinta Allah, Orang" yg mencintai kita dan hangatnya rumah ! Setujuuuu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe, terima kasih Mba sudah mampir, semoga menginspirasi untuk menemukan kebahagiaanmu sendiri :))

      Hapus
  2. sory.....kritik boleh kan mbak?
    cerpen ini masih terlalu ke"diary"an...seolah-olah penulis asyik bercerita kepada diri sendiri.... tidak melihat kepadaa pembaca yang mungkin merasa tidak nyaman dengan bahasa sipenulis tersebut...but...that is good story....kita jadi tahu bahwa kebahagiaan not abstract thing...thanks

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih Mba sudah mampir, hehe ini memang bukan cerpen sih Mba, ngga ada alur dan konfliknya di sini, ini bentuknya lebih ke menulis bebas aja untuk memotivasi :)

      Hapus