Selasa, 13 Desember 2016

Lebih baik mana: Hidup penuh dinamika atau steady life?

Jika ditanya lebih baik mana antara menjalani hidup yang penuh dinamika atau hidup yang datar-datar saja dan adem ayem, aku tidak bisa menjawab. Pasalnya, meskipun secara bahasa keduanya seperti dua hal yang berkebalikan, nyatanya mau dipikir sebagaimanapun, sepertinya kedua hal ini tidak dapat dibandingkan. Bagi anak-anak muda yang masih idealis dan senang tantangan barangkali akan menjawab pilihan pertama tanpa ragu. Namun, bagi orang-orang dewasa yang sudah merasakan begitu banyak asam garam kehidupan, barangkali tidak terlalu sependapat dengan anak-anak muda ini. Menjalani keseharian yang penuh dinamika dikatakan lebih membuat seseorang merasa ‘hidup’, dapat meningkatkan kualitas diri dengan signifikan karena terus menerus belajar dari pengalaman sendiri, dan dapat selalu bersemangat dan bergairah dalam menjalani hidup. Sementara menjalani hidup yang datar-datar saja atau bisa disebut dengan steady life adalah hidup yang berputar pada rutinitas dengan jadwal yang teratur dan disiplin, tidak terlalu banyak tantangan, namun kehidupan menjadi lebih pasti. Tetapi di sisi lain, menjalani hidup penuh dinamika berarti harus siap dengan setiap gejolak, masalah, dan tantangan dalam keseharian yang jika tidak mampu diterima akan menimbulkan tekanan batin dan jiwa yang kuat. Sementara menjalani steady life berarti harus paham bahwa pasti ada kalanya semuanya terasa membosankan dan menjenuhkan, bahkan bisa jadi suatu hari akan lupa dengan tujuan hidup dan mengulang hari demi hari seperti robot yang sudah diprogram.

Karena kedua hal ini bukanlah hitam dan putih, mereka sama-sama punya kelebihan dan kekurangan, karena itulah aku tak bisa memilih. Pena telah diangkat dan tinta telah kering. Meskipun sekarang aku berangan-angan memiliki hidup yang seperti ini atau seperti itu, semuanya telah diatur oleh Yang Maha Kuasa. Allah telah merancang perjalanan hidup tiap manusia sedemikian rupa sehingga semuanya cocok untuknya. Seperti apa cobaan dalam hidupnya sehingga dapat mendewasakannya tanpa menghancurkannya dan sebesar apa kebahagiaan dalam hidupnya sehingga ia masih bisa ingat untuk bersyukur. Karena kapasitas tiap orang berbeda-beda, maka kita tak dapat memaksakan pilihan-pilihan kita kepada orang lain. Sama saja seperti menyuruh orang yang berbadan kecil memakai baju ukuran L. Kebesaran. Tidak cocok. Karena itulah aku hanya bisa berdoa supaya perjalanan hidupku adalah perjalanan yang penuh dengan dinamika yang mendewasakan dan meng’hidup’kan tanpa menghancurkan jiwa sekaligus hidup yang pasti, steady, tetapi tak sampai mengubahku menjadi robot yang lupa dengan tujuan hidup. Lalu pada akhirnya satu hal yang aku syukuri adalah Allah mengijinkan makhluk-Nya untuk mengintervensi takdir dirinya sendiri lewat doa-doa dan ikhtiar yang sungguh-sungguh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar