Rabu, 30 November 2016

(Soon) to be mom

Baru saja kontrol dari dokter kandungan di salah satu rumah sakit swasta di Bandung, ternyata hari ini aku mendapatkan motivasi dan ilmu baru. Berawal dari aku yang curhat bahwa aku masih mengalami mual padahal kandungan sudah memasuki usia bulan ke-7. Ketika ditanya kira-kira sebabnya apa, aku sendiri tidak begitu yakin karena terkadang mualnya datang bisa kapan saja. Lalu tiba-tiba saja dokternya bicara tentang pengaruh kepribadian/psikologi terhadap gejala kehamilan. Biasanya orang-orang berkepribadian introvert plus melankolis yang kecenderungannya terhadap perfeksionisme tinggi ini merasa lebih banyak mengalami mual karena orang-orang seperti ini sangat sensitif terhadap keadaan dirinya. Sedangkan orang-orang berkepribadian lain misalnya plegmatis cenderung santai dan dibawa hepi saja proses kehamilannya, kalau koleris malah ada yang mual dan muntah tapi setelah itu langsung kembali makan untuk menggantikan makanan yang keluar.

Lucunya adalah ketika dokternya bilang demikian rasanya langsung jleb kok bener banget ya haha. Mencoba membela diri aku bilang meskipun mual tapi sejak hamil kebiasaan makan jadi banyak berubah ke arah lebih baik, sekarang sudah nggak sering jajan yang aneh-aneh lagi misalnya yang berpengawet, berpecin, berpemanis buatan, dll. Dokternya bilang itu bagus, tapi bagaimana mindset kita ketika makan itu? Tentunya baiknya adalah mindset kita selalu berpikiran positif. Jadi bukan hanya sekedar makan karena terpaksa, tapi harus hepi dan berkata bahwa aku makan ini demi janinku supaya sehat. Eh jleb lagi deh soalnya aku memang makan karena terpaksa, karena kalau nggak makan makin mual, kalau nggak makan nanti lapar, dan sering banget ngeluh mual. Dokternya bahkan bilang jangan mengeluh sejak di dalam kepala karena apa yang ada di dalam pikiran mempengaruhi tubuh dan tentunya si janin.

Kehamilan itu sebenarnya bukan tentang si ibu, tapi tentang si anak, kita ingin anak kita jadi seperti apa itulah yang harus diusahakan ketika sedang hamil karena kalau tidak diusahakan, ketika lahir anak kita akan menjadi seperti kita ketika sedang hamil itu. Ternyata aku baru paham inilah yang sebenarnya dimaksud dengan pendidikan anak sejak dalam kandungan. Jika baca-baca buku dan artikel, banyak saran-saran kegiatan yang harus dilakukan si ibu untuk mendidik anak dalam kandungan seperti stimulasi suara, cahaya, gerakan, dll. Sudah sering kita baca juga bahwa perempuan-perempuan Yahudi biasa mengerjakan soal matematika supaya anaknya cerdas kelak. Namun, selama ini aku hanya mempraktekkan cara-caranya saja, sekedar dilakukan karena menurut bacaan memberikan manfaat tertentu. Padahal yang terpenting adalah mindset selama melakukannya dan pikiran yang senantiasa positif.

Kita ingin anak kita menjadi apa, berubahlah sekarang juga menjadi demikian. Misalkan ingin anak kita ramah, maka sekarang kita jadilah ramah ke semua orang. Ingin anak kita senang membaca, maka banyaklah membaca. Ingin anak kita senang makan sayur, maka perbanyak juga makan sayur. Kita ingin anak kita shaleh/ah, maka banyak-banyak mendekatkan diri pada Allah dan belajar ilmu agama. Tapi yang terpenting dari semuanya adalah selalu berpikiran positif. Lakukan apapun agar pikiran selalu positif. Karena perjuangan untuk mengandung, melahirkan, dan menjadi ibu setara dengan jihadnya laki-laki, bahkan tak ada lagi celah seorang perempuan untuk mementingkan egonya di atas anak-anaknya, maka tak berlebihan jika dibilang bahwa kehamilan dan persalinan adalah proses perubahan paling kuat dalam diri seorang perempuan secara fisik dan emosional. Jika proses ini dijalani dan diusahakan dengan maksimal oleh semua calon ibu, maka dari rahim-rahim kita semualah lahir generasi-generasi baru pengubah peradaban.

Teruslah berjuang, para perempuan tangguh!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar