Rabu, 02 November 2016

PERAN ORANG TUA

Pepatah mengatakan, gagal mempersiapkan berarti mempersiapkan untuk gagal. Semua orang tahu itu. Tetapi apa yang terjadi dengan orang-orang yang malas berjuang? Bukan berarti mereka tidak sadar pepatah itu. Namun terkadang tekad untuk mencapai kesuksesan itu tidak lebih besar dari rasa pasrah menerima kegagalan.

Menjadi orang tua itu besar tanggung jawabnya. Ketika kita masih memegang tanggung jawab atas apa yang terjadi pada diri sendiri, kita bisa berkata dengan sedikit perasaan bersalah bahwa apapun yang terjadi pada orang lain melalui diri kita, bukanlah tanggung jawab kita sepenuhnya. Kita tahu bahwa seorang yang dewasa tidak dapat menyalahkan segalanya pada orang lain atas apa yang dialaminya. Ketika kita mendapat masalah, tidak serta merta kita menyalahkan sepenuhnya orang yang menjadi penyebab masalah itu. Ada faktor ketetapan Allah, ketidaktahuan orang tersebut, dll. Begitu pula sebaliknya, ketika orang lain mendapat masalah karena kita, sudah seharusnya orang tersebut tidak menyalahkan kita sepenuhnya, tetapi bukan berarti kita tidak merasa bersalah. Kita harus menempatkan diri seperlunya, ketika kita salah, kita mengakui, namun tidak menjadi penyesalan yang mendalam atau bahkan sampai terus menyalahkan diri sendiri atau menghukum diri sendiri. Jika kita orang dewasa, kita sudah sepatutnya mengerti bahwa tidak semua masalah harus dirasakan sebagai masalah.

Di sisi lain, ketika kita sudah menjadi orang tua yang memiliki anak, apa yang terjadi pada anak kita lebih besar porsinya karena kita. Meskipun ketika sang anak sudah besar dan lebih lama hidup di luar rumah bersama selain anggota keluarga, bukan berarti pengaruh orang tua menjadi kecil terhadap sang anak. Apel tak akan jatuh jauh dari pohonnya. Ketika seseorang sukses, maka sebenarnya yang sukses adalah orang tuanya. Kedua pepatah itu menunjukkan bahwa peran orang tua pada anaknya akan sangat berpengaruh besar bahkan sampai anaknya tua sekalipun. Seorang manusia lahir tanpa mengetahui satu hal pun. Dan orang yang pertama mengajarinya bagaimana ia harus menjalani hidup di dunia adalah orang tuanya. Beberapa tahun pertama kehidupan seorang manusia normal dilalui bersama orang tuanya. Segala memori, emosi, pengalaman didapatkan manusia tersebut dari interaksi bersama orang tuanya. Memori dan pengalaman itu akan menjadi bekal seorang manusia untuk kehidupan tahun-tahun setelahnya. Jika bekal itu memadai kebutuhan jiwa, raga, dan pikirannya, kesuksesan bagi manusia tersebut memiliki kemungkinan tinggi untuk diraih. Namun, bagaimana jika bekal itu tidak mencukupi kebutuhan jiwa, raga, dan pikirannya untuk mengaruhi lautan hidup? Banyak kemungkinan yang dapat terjadi. Bisa jadi ia merasa kekurangan sehingga bertekad untuk mengumpulkan bekal seorang diri. Bisa jadi ia tak tahu harus melakukan apa sehingga ia hanya bisa berdiam diri membiarkan dirinya diseret arus. Bukan berarti kesuksesan seorang anak selalu didapat dari luar biasanya orang tua mendidik anaknya dan bukan berarti kegagalan seorang anak selalu disebabkan oleh kegagalan orang tua dalam mendidiknya. Yang ditekankan di sini adalah betapa peran orang tua sangat berpengaruh besar terhadap anaknya. Yang mempengaruhi jalan hidup seseorang selanjutnya adalah ketetapan Allah yang tertulis sejak ruhnya dihembuskan ke dalam janin dan doa, usaha, serta tawakalnya.

Wallahu a’lam bishawaab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar