Senin, 02 Februari 2015

Katarsis

Dalam psikologi, ada istilah yang disebut dengan katarsis, yaitu tindakan seseorang untuk menyaksikan media seperti menonton film atau mendengarkan lagu sebagai mekanisme penyaluran agresi, perasaan, hasrat. Cara menyalurkannya adalah dengan menidentifikasikan diri sebagai tokoh dalam film atau tokoh yang diceritakan dalam lagu. Contohnya, seorang yang senang mendengarkan lagu-lagu mellow ketika sedang sedih dan gundah; seorang yang senang mendengarkan lagu-lagu rock atau menonton film-film kekerasan ketika sedang stress dan depresi; atau bahkan aku yang senang menonton film yang bercerita tentang seorang yang berkelainan mental karena aku merasa aku pun demikian.

Mengapa orang melakukan katarsis? Semua itu karena manusia memiliiki primitive impuls (hasrat primitif seperti rasa lapar, keinginain seks, dan pemenuhan sensor kesenangan dalam otak), tetapi manusia hidup di lingkungan dengan norma-norma yang membatasi, memerintahkan manusia untuk mengendalikan semua primitive impuls tersebut. Karena hanya air yang tergenanglah yang kotor, maka air harus mengalir agar bersih. Begitu pula dengan desire, hasrat, perasaan manusia, tak mungkin dikekang dan dipendam karena dapat menyebabkan air jiwa menjadi kotor, membawa penyakit bagi pemilik tubuh. Katarsis menjadi solusi untuk menyalurkan air kotor tersebut.

Pemilik-pemilik media paham ilmu psikologi dan paham bagaimana caranya menghasilkan uang dengan memanfaatkan primitive impuls manusia. Menurut sumber tertulis, katarsis memiliki efek terapeutik dan dapat membuat orang move on dari hasratnya lebih cepat dengan cara mengeluarkan perasaan atau hasrat yang dirasakan sekaligus saat melakukan katarsis. Namun, pada kenyataannya katarsis yang pertama akan menyebabkan orang ingin melakukan katarsis yang kedua, dan begitu seterusnya. Jika katarsis seharusnya adalah jalan untuk seorang menyalurkan emosinya agar dapat kembali beraktifitas dengan prima di dunia nyata, maka kenyataan sepertinya tidak berkata demikian.

Bagiku, ternyata katarsis memiliki efek seperti rokok, alkohol, dan obat-obatan terlarang yang adiktif, menyebabkan orang yang melakukannya menjadi kecanduan. Ditambah lagi, katarsis melibatkan tindakan melarikan diri dari kenyataan dan memilih hidup dalam fantasi menyenangkan dalam kepalanya sendiri. Ketika bahan untuk melakukan katarsis itu habis, yang terjadi adalah perasaan kosong dan ingin kembali melakukan katarsis. Cermatilah orang-orang yang kecanduan drama Korea, drama Jepang, anime, atau seri drama lainnya, mereka sulit berhenti dari aktivitasnya karena kesenangan mereka berakhir ketika sudah sampai di menit terakhir episode terakhir lalu tetiba kesenangan menjadi berada di puncaknya ketika tahu ternyata ada season selanjutnya dari tayangan tersebut.

Satu hal yang mengerikan adalah pemilik-pemilik media sangat paham akan hal ini sehingga mereka dapat melayani dengan baik manusia-manusia yang dikuasai primitive impuls-nya, nafsunya, kemudian mereka menjadi budak media. Seperti film-film dan drama Jepang yang memfasilitasi para manusia yang banyak memikirkan kematian, menyukasi tindakan-tindakan psikopat dan okultisme, menyukai tayangan-tayangan kekerasan dan pembunuhan, untuk menyalurkan guilty pleasure-nya hingga akhirnya tindakannya membenarkan pemikiran dan perasaannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar