Minggu, 20 April 2014

Cerita Tentang Seorang Anak Perempuan

Hai para pembaca, aku punya cerita. Ini adalah cerita tentang seorang anak perempuan yang berbeda, berbeda dari anak perempuan pada umumnya, atau mungkin berbeda dari anak-anak pada umumnya. Anak perempuan ini cerdas, memiliki rasa keingintahuan yang besar, mudah memahami pelajaran di sekolahnya bahkan yang sulit sekalipun, aktif, ceria, dan bersemangat tinggi di masa kecilnya. Meskipun demikian, anak perempuan ini adalah anak pemalu yang seringkali menghindari anak laki-laki dan orang-orang lebih tua yang tidak dikenalnya. Di masa kecil, anak perempuan ini belum menyadari bahwa dia ‘berbeda’. Saat anak perempuan ini sudah sedikit lebih tua menuju remaja awal, perubahan lingkungan sekolah membuatnya menyadari ada sesuatu hal yang berbeda padanya. Seperti ada suatu hal yang tidak dia miliki dari teman-temannya.

Anak perempuan ini terus mencari, mencari apa yang tidak dia miliki hingga dia menemukannya. Dia berusaha untuk menanamkan hal yang tidak dia miliki ini padanya namun usahanya selalu gagal. Dia tidak pernah bisa menjadikan dirinya sama seperti teman-temannya. Selama beberapa tahun, anak perempuan ini terus berusaha sambil berpikir mengapa dirinya berbeda. Akhirnya setelah memasuki jenjang remaja akhir, anak perempuan ini sedikit banyak telah mampu menyamai teman-temannya. Namun, setelah menjalani kehidupan yang berbeda dari dirinya yang biasa, anak perempuan ini merasa dia tidak menjadi dirinya lagi. Ah ternyata dirinya berubah terlalu banyak. Anak perempuan ini baru menyadari ternyata dia memang berbeda dari anak-anak lainnya dan tak ada hal yang salah menjadi berbeda. Anak perempuan ini pun akhirnya sudah lebih banyak mengenal dirinya sendiri hingga akhirnya dia mencapai tahap menerima dirinya sendiri setelah bertahun-tahun mempertanyakan. Anak perempuan ini sudah dewasa muda dan dia bisa mengatur jati dirinya sehingga dirinya nyaman sekaligus dapat diterima oleh lingkungannya.

Anak perempuan ini menjalani hari-harinya dengan bahagia melakukan hal-hal yang dia sukai dan mempelajari hal-hal yang dia minati. Seni dan ilmu pengetahuan menjadi pilihannya. Kemampuannya semakin terasah karena hobinya. Anak perempuan ini juga senang berbagi dan bergaul dengan anak-anak yang memiliki minat yang sama dengannya. Namun, suatu hari anak perempuan yang sudah dewasa dan telah sedikit merasa nyaman dengan hidupnya ini tiba-tiba dikejutkan oleh kehadiran anak lain yang terasa olehnya sedikit menggoyahkan keseimbangan hidupnya.

Anak perempuan ini paham bahwa hidup tidak mungkin mulus-mulus saja. Sebaik mungkin anak perempuan ini menganalisis masalah dan mencari jalan keluarnya. Segala usaha dan doa yang terpikirkan dan mampu dilakukannya telah dilakukan oleh anak perempuan ini. Mungkin waktu berpikir anak ini pun sudah banyak. Berkat masalah yang dialami anak ini bertahun-tahun lalu, anak ini menjadi memiliki kemampuan intuitif yang kuat. Berkat masalah itu pula, anak perempuan ini telah terbiasa menangani masalah dan menanggung resiko sendirian. Kemanakah keluarganya? Oh, bukannya tidak ada. Anak perempuan ini hanya memilih untuk tidak banyak bercerita pada mereka. Anak perempuan ini hanya takut merepotkan mereka yang sibuk sepanjang hari.

Berkat masalah itu, anak perempuan ini tahu dirinya sendiri. Dia memang tertutup dan lebih senang memikirkan jalan keluar atas masalahnya sendirian. Dia adalah pemerhati yang memahami dunia dalam diam melalui jendelanya. Anak perempuan ini bangga dengan kemampuannya dan pemikirannya yang kompleks. Ya, anak perempuan ini telah biasa melakukan semuanya sendirian. Dia tidak masalah jika harus sendirian dan justru lebih senang demikian. Namun, ternyata masalah anak perempuan itu kali ini datang dari celah itu.

Tidak banyak anak lain yang mencoba memasuki bola kaca ketenangan anak perempuan ini. Anak-anak lain kebanyakan menyapa dari luar dan hal tersebut sudah cukup menyenangkan hati anak perempuan ini. Ada kalanya sesekali anak perempuan ini membuka pintu untuk anak-anak tertentu dan hal ini tetap menyenangkan hatinya karena pintu itu dibuka atas kemauan anak perempuan ini. Ternyata ada pula saat di mana ada seorang anak yang ingin memaksa masuk. Anak perempuan ini ketakutan, tidak merasa nyaman, dan selalu merasa terancam karena hal tersebut. Anak ini terus berpikir dan berpikir. Lalu lambat laun anak perempuan ini kembali meragukan dirinya sendiri seperti saat dulu mengalami masalah di masa remajanya.

Orang lain mengatakan bahwa dia tidak boleh seperti itu. Dia harus membuka pintunya untuk siapa saja yang berniat baik. Ya, karena kemampuan anak perempuan ini, dia paham bahwa sebenarnya anak tersebut memiliki niat yang baik dan anak itu memang anak yang baik. Orang lain yang mengatakan bahwa dia tidak boleh menutup diri pun memiliki niat yang baik juga karena dia adalah orang tuanya. Dengan kemampuannya pula, anak perempuan ini tahu latar belakang orang-orang yang menggoyahkannya, mengapa mereka berbuat demikian. Anak perempuan ini kembali mempertanyakan, apakah dia seharusnya tidak seperti ini?

Anak perempuan ini bukannya goyah dengan tiba-tiba. Sebenarnya anak perempuan ini memiliki prinsip yang telah dipertahankannya selama beberapa lama hingga akhirnya bola kaca yang telah melindunginya pecah dihimpit tekanan dari dua arah. Baru kali ini anak perempuan ini menemui ada seorang anak yang bersikeras menghancurkan bola kacanya dan baru kali ini anak perempuan ini mendapati orang tuanya menyabotase dengan paksa bola kacanya. Anak perempuan ini ketakutan dan bertanya-tanya, tak bisakah mereka berdua mengetuk dengan lembut saja pintu anak perempuan ini? Dengan cara yang baik, anak perempuan ini pasti akan menyambut dengan baik juga. Anak perempuan ini terus bertanya-tanya manakah yang harus dia pilih? Kata hatinya ataukah kata-kata orang tuanya? Anak perempuan ini juga berpikir mungkin dia harus menyeimbangkan keduanya namun ternyata sulitnya bukan main.

Anak perempuan ini jelas ingin membahagiakan kedua orang yang sebenarnya berniat baik itu. Namun, anak perempuan ini tidak bisa melakukannya jika hal tersebut akan melukai dirinya sendiri. Anak perempuan ini pun sampai tidak dapat mengerti mengapa dirinya harus merasa sakit dan sulit untuk sekedar memenuhi keinginan orang lain. Ya, sejak beberapa waktu lalu anak perempuan ini sudah tahu dirinya berbeda dengan orang tuanya dan adik-adiknya. Berbeda secara genetik. Anak perempuan ini mengerti latar belakang mereka dan dia mengerti kebaikan keduanya. Namun, hingga saat ini, cara mereka tidak dapat diterima oleh anak perempuan ini. Anak perempuan ini hanya berusaha dan ingin berlaku baik pada mereka, tetapi anak perempuan ini selalu merasa sakit melakukannya. Dan di saat anak perempuan ini merasa sakit, keduanya tidak dapat mengerti anak perempuan ini dan malah memberikan perlakuan yang semakin membuat anak perempuan ini sakit. Sungguh, sebenarnya anak perempuan ini tak mampu berbuat jahat pada mereka berdua. Anak perempuan ini ingin sekali membalas kebaikan mereka berdua dengan kebaikan lagi. Namun, anak perempuan ini hanya tak bisa menerima cara mereka berdua. Tubuhnya yang secara spontan menolaknya karena dirinya merasa terancam.

Anak perempuan ini lelah menjadi dirinya sekarang yang serba salah. Dia berharap dapat menjadi anak lain, anak yang biasa pada umumnya dan memiliki orang tua yang biasa pada umumnya. Sampai saat ini, anak perempuan yang rentan tanpa bola kacanya ini telah menjalani kesehariannya seperti itu, tanpa pertahanan, tak mampu melawan, hanya dapat menghindar. Anak perempuan ini tidak mampu memutuskan. Bangun kembali bola kacanya yang dulu telah pecah atau hancurkan karakternya sekalian saat ini juga?



Tidak ada komentar:

Posting Komentar