Jumat, 04 November 2016

Beyond Temperament is The Role of Free Will

Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Masih dari tulisan tiga tahun lalu, ini adalah bahasan bab lanjutan dari Kepribadianku Apakah Sudah Takdirku? masih dari buku yang sama yaitu Quiet karya Susan Cain. Semoga bermanfaat dan menginspirasi.

 ~0~

"Darah memang lebih kental daripada air. Sampai kapanpun kau tidak akan pernah bisa melarikan diri dari takdirmu."



Semua ini bermula dari penelitian yang dilakukan oleh Dr. Carl Schwartz, anak didik Prof. Kagan, yang meneruskan penelitian gurunya tepat di bagian terakhir yang diteliti oleh gurunya. Bakal sifat introvert dan ekstrovert dapat terlihat dari temperamen seorang anak ketika lahir. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, apakah manusia akan tetap memiliki temperamennya sewaktu kecil dan tak berubah sama sekali? Ataukah manusia dapat berubah total 180 derajat karena lingkungannya? Temperamen dan lingkungan adalah dua faktor pembentuk kepribadian yang porsinya tak akan dapat ditentukan bahkan dengan rumus integral serumit apapun.

Namun, penelitian yang dilakukan oleh Dr. Schwartz memberikan bukti bahwa meskipun seorang anak telah menjadi dewasa, dirinya tidak kehilangan jejak temperamennya sewaktu kecil. Seorang anak yang high-reactive yang merupakan bakal sifat introvert akan tetap memiliki jati diri seorang introvert mau bagaimanapun ia terlihat tumbuh sebagai remaja yang supel dan ceria. Darah memang lebih kental daripada air. Sampai kapanpun, data yang tersimpan dalam kode genetik setiap orang akan mempengaruhi hidup mereka, akan menjadi pilot utama yang mengarahkan hidup mereka.

Kalau begitu, apakah sudah takdir jika aku harus seperti ini? Apakah aku tak dapat berubah? Tidak. Temperamen tidak dapat berubah, tetapi kepribadian dapat kita bentuk dengan memberikan gaya yang disebut kemauan dan tekad. Manusia dengan sepaket kode genetiknya ibarat sebuah karet gelang yang tidak diberi gaya. Dengan kemauan dan tekad yang kuat, manusia dapat berkembang pesat seperti karet gelang yang merenggang jauh. Namun, kemauan dan tekad hanya dapat membawa kita sampai ujung batas genetik kita. Karena jika lebih dari itu, maka karet gelang ini akan putus.

Penelitian telah membuktikan bahwa kita tak akan bisa menjadi orang lain sekeras apapun kita berusaha karena tak ada dua manusia di dunia ini yang dilahirkan dengan paket kode genetik yang sama dan takdir perjalanan hidup yang sama. Terimalah diri kita apa adanya. Tak perlu mencari standar manusia normal yang sudah jelas tak ada di dunia ini. Tiap manusia itu istimewa, tak ada yang sama! Jika kamu tak merasa puas dengan dirimu sendiri, merengganglah hingga kamu menjadi dirimu yang terbaik. Mampukah? Ya! Kamu mampu dan akan selalu mampu. Hargai dan cintailah dirimu karena tak ada yang menginginkan kebaikan untukmu melebihi dirimu sendiri.


Sumber Teori dan Informasi Penelitian: 

Quiet - The Power of Introverts in a World That Can't Stop Talking oleh Susan Cain
Part 2 - Your Biology, Your Self?
Bab 5 - Beyond Temperament is The Role of Free Will
Halaman 115-129

Tidak ada komentar:

Posting Komentar