Jumat, 04 November 2016

Kepribadianku Apakah Sudah Takdirku?


Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Ini adalah tulisan dari tiga tahun lalu bersumber dari sebuah buku yang menjadi Best Seller oleh New York Times berjudul Quiet - The Power of Introverts in A World That Can't Stop Talking karangan Susan Cain. Buku ini saat itu sangat menginspirasi dan banyak mengubah pandangan saya. Saya ingin mem-publish lagi tulisan ini karena saya ingin banyak pembaca juga terinspirasi dengan kekuatan sebuah buku, terutama buku ini. Semoga isinya masih relevan dan dapat memberikan manfaat.

~0~


Ketika melihat kembali ke masa lalu, ketika diriku masih anak-anak hampir memasuki masa remaja, aku adalah seorang gadis kecil yang selalu bertanya-tanya. Tentang cara kerja suatu alat, tentang peristiwa alam, tentang diriku sendiri dan tentang orang lain, tentang segalanya. Aku menghabiskan waktu lebih banyak di balkon kamarku, di taman belakang sekolah, dan di tempat-tempat favoritku yang tenang dan damai. Aku melihat langit lalu aku mendapatkan inspirasi untuk menulis di buku catatan perjalanan hidupku. Aku suka dengan kehidupanku. Namun, ada saat-saat di mana aku tidak suka menjalani hidupku. Saat-saat ketika di sekolah, ketika harus maju ke depan kelas untuk presentasi atau tes menyanyi, ketika harus kerja kelompok, dan ketika harus mengikuti kegiatan ekskul. Aku menghindari obrolan kecil dengan orang lain dan aku pun sulit mengingat nama orang lain. Aku lebih memilih membaca buku sains di teras rumahku.

Aku tidak pernah bisa menjadi orang yang supel yang memiliki banyak teman dan menyenangkan untuk diajak mengobrol. Aku hanya punya satu atau beberapa teman dekat. Dulu aku selalu frustasi karena mempertanyakan diriku yang tidak seperti orang lain. Aku berusaha keras untuk menjadi orang supel yang berteman dengan banyak orang hingga harus membuang jati diriku sendiri. Namun, pada suatu hari aku merasa aku bukanlah aku yang dulu lagi sehingga aku menyerah, aku kembali menjadi diriku yang pemikir dan menikmati kesendirian.

Kini aku sudah dewasa. Aku tahu aku adalah seorang introvert yang lebih menyukai melihat ke dalam diri. Namun, apa yang kualami dulu masih menjadi pertanyaan dalam benakku. Apakah sifatku yang anti-sosial adalah takdirku? Apakah aku sudah seperti ini dari lahir? Ataukah karena lingkungan dan caraku dibesarkan? Dan kini aku menemukan jawabannya.

~0~

Apakah Temperamen adalah Takdir?

Nature, Nurture, and The Orchid Hypothesis

Dua cabang kepribadian besar yang kita ketahui yaitu introvert dan ekstrovert, memiliki sejarah penelitian yang panjang. Dimulai dari eksperimen yang dilakukan oleh seorang pakar psikologi, Jerome Kagan, beliau melakukan serangkaian tes kepada 500 bayi berumur 4 bulan. Berbagai stimulan diberikan kepada para bayi tersebut sehingga menghasilkan reaksi yang berbeda-beda. Hasilnya adalah dua puluh persen bayi menangis (golongan ini kemudian disebut golongan high-reactive), 40 persen tetap tenang (golongan ini kemudian disebut sebagai golongan low-reactive), sedangkan 40 persen sisanya berada di antara keduanya. Setelah tumbuh besar, bayi-bayi tersebut diuji lagi perkembangannya. Ternyata 20 persen bayi yang menangis tumbuh menjadi seorang anak yang cenderung pendiam, berhati-hati, dan pemikir. Bayi-bayi yang berada dalam golongan high-reactive cenderung untuk tumbuh menjadi pribadi yang introvert. Pertanyaan yang muncul berikutnya adalah faktor apa yang menjadikan seorang anak menjadi high atau low-reactive?

Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa kereaktifan seseorang dipengaruhi oleh kereaktifan sebuah organ di dalam otak yang termasuk dalam sistem saraf yang disebut amigdala. Anak yang terlahir dengan amigdala yang sensitif akan menjadi sensitif pula dengan stimulan-stimulan yang diterima inderanya. Seorang yang berada dalam golongan high-reactive cenderung menyukai ketenangan dan tidak nyaman berada dalam kerumunan orang atau berada dalam suatu tempat yang berisik. Hal ini disebabkan karena amigdalanya yang sensitif terhadap rangsangan suara yang berlebihan. Sering pula ditemui orang-orang dalam golongan ini yang mudah kaget ataupun tidak tahan dengan cahaya yang sangat terang. Seorang dalam golongan ini tidak dapat menerima stimulan yang berlebih karena amigdalanya yang sensitif dapat menjadi over-stimulated. Karena kesensitifannya, seorang high-reactive dapat melihat dan merasakan hal-hal di sekitarnya lebih banyak dibandingkan dengan orang-orang pada golongan low-reactive. Kewaspadaan, kehati-hatian, kepekaan terhadap lingkungan, dan kondisi emosional yang kompleks menjadi ciri khas mereka.

Ya, orang-orang yang termasuk ke dalam golongan high-reactive cenderung menjadi pribadi yang introvert. Namun, high-reactive hanyalah salah satu jalan menuju pribadi yang introvert. Seorang high-reactive pun dapat tumbuh menjadi pribadi yang ekstrovert.

Penelitian yang dilakukan pada dua anak kembar identik dan dua anak kembar tidak identik menunjukkan bahwa terdapat lebih banyak kesamaan sifat pada dua anak kembar identik dibandingkan dengan pada dua anak kembar tidak identik meskipun mereka dibesarkan dalam keluarga yang berbeda. Diperolehlah kesimpulan dan statistik bahwa sebanyak 40-50 persen sifat introvert atau ekstrovert dapat diturunkan dari orang tua pada anaknya.

Ya, kini aku tahu bahwa sebagian sifat introvertku diturunkan dari orang tuaku terutama ayahku. Namun, berapa persenkah sifat introvertku yang berasal dari keturunan dan berapa persenkah yang berasal dari pengaruh lingkungan?

Jerome Kagan menambahkan bahwa ciri-ciri seorang introvert yang terlihat dalam diri seseorang belum tentu menunjukkan bahwa orang tersebut merupakan seorang high-reactive ketika kecil. Banyak faktor yang menjadi penyebab munculnya ciri-ciri seorang introvert pada diri seseorang, lingkungan pun merupakan salah satu faktornya. Trauma sewaktu kecil dan masalah kesehatan dapat menyebabkan seorang anak lebih banyak melihat ke dalam diri. Aku yang sewaktu kecil selalu ditinggal bersama adik di rumah tanpa interaksi yang cukup dengan orang tua, hanya ditemani oleh pembantu rumah tangga yang berlagak seolah berada di rumah mereka sendiri, tanpa sepengetahuan orang tuaku, membuatku sedikit trauma sehingga timbul sifat pemberontak dalam diri. Sejak itu aku menjadi takut berinteraksi dengan wajah-wajah baru hingga aku mengalami social anxiety disorder.

Pada akhirnya, faktor keturunan dan lingkungan saling bekerja sama membentuk kepribadianku dengan porsi yang tak dapat ditentukan. Aku yang sekarang berasal dari aku dengan temperamenku waktu kecil dan hidup yang sudah kujalani sepanjang umurku. Kini pertanyaan tentang banyaknya kontribusi antara faktor keturunan dan lingkungan yang membentuk kepribadianku menjadi tak penting lagi. Kini pertanyaannya adalah bagaimanakah interaksi antara temperamenku dengan lingkungan dan tekadku dapat membentuk kepribadianku? Sampai pada batas manakah temperamenku menjadi takdirku?

Menurut teori interaksi gen dan lingkungan, seseorang yang memiliki sifat turunan tertentu cenderung mencari pengalaman hidup yang akan memperkuat sifat tersebut. Seorang dalam golongan high-reactive yang sejak lahirnya terlalu sensitif ketika menghadapi sesuatu hal yang baru, wajah-wajah baru, dan pengalaman yang baru, menjadi lebih memilih untuk mendiami dunia yang sudah sangat familiar baginya yaitu pikirannya, dunia dalam kepalanya. Karena itulah, seseorang yang berada dalam golongan ini cenderung untuk tumbuh menjadi seorang seniman, penulis, ilmuwan, atau seorang pemikir.

Seorang high-reactive sangat mudah terpengaruh oleh lingkungannya. Karena itulah muncul sebuah teori Orchid Hypothesis yang dicetuskan oleh David Doobs. Dinyatakan bahwa sebagian besar anak-anak adalah seperti bunga dandelion, dapat bertahan dan beradaptasi dengan lingkungan apapun. Namun tidak halnya dengan anak-anak dari golongan high-reactive, mereka seperti anggrek, mereka mudah sekali layu, tetapi dapat tumbuh kuat dan indah pada lingkungan yang tepat. Seorang high-reactive dapat terpengaruh oleh lingkungannya baik secara positif dan negatif. Mereka dapat dengan mudah mengalami trauma ketika mendapatkan tekanan, tetapi mereka dapat tumbuh hebat dalam lingkungan keluarga yang kondusif. Ya, kesensitifan mereka dan kekuatan mereka adalah satu. Keduanya berada dalam diri mereka. Dengan didikan orang tua yang tepat, mereka cenderung memiliki masalah emosional yang lebih sedikit dan memiliki kemampuan sosial yang lebih tinggi dibandingkan anak dari golongan low-reactive. Mereka dapat memiliki rasa empati, kasih sayang, dan mudah bekerja sama. Hati nurani mereka pun mudah terusik oleh kekejaman, ketidakadilan, dan ketidakterimaan. Mereka dapat sukses dalam hal-hal yang berharga bagi mereka.

Orang tua yang memiliki anak seorang high-reactive justru lebih beruntung karena didikan mereka dapat memberikan pengaruh besar pada anak mereka. Seorang high-reactive janganlah hanya dilihat kelemahan mereka yang rentan terhadap keberagaman. Ingatlah bahwa mereka itu lunak, sangat mudah untuk dibentuk, sangat mudah untuk berkembang jika dididik dengan cara yang benar. Dibutuhkan sosok orang tua yang ideal bagi seorang high-reactive untuk dapat berkembang dengan baik. Memahami isyaratku, menghargai kesendirianku, menaruh harapan dengan hangat dan lembut tanpa sikap yang kasar padaku, menumbuhkan rasa penasaranku, memberikan penghargaan pada keberhasilan akademisku, dan tidak mengabaikanku, itulah sosok orang tua yang ideal bagi seorang high-reactive.

Pengetahuan mengantarkanku pada keberterimaan diriku sendiri dengan apa adanya. Temperamen adalah ketetapan yang telah ditentukan untukku sejak sebelum aku lahir dan kehidupan yang kujalani hingga membentuk kepribadianku yang sekarang pun telah Allah tentukan dalam Lauh Mahfudz-Nya. Namun, aku yang kini sudah dewasa masih ingin mengubah diriku menjadi sosok yang kuidamkan. Bisakah aku melukis diri di masa depan dengan bayangan yang aku inginkan? Bisakah?


Sumber Teori dan Informasi Penelitian:


Quiet - The Power of Introverts in a World That Can't Stop Talking oleh Susan Cain
Part 2 - Your Biology, Your Self?
Bab 4 - Is Temperament Destiny?
Halaman 97-114


Bersambung ke Bab 5 - Beyond Temperament is The Role of Free Will

2 komentar:

  1. permisi mbak saya pingin nmpang komentar..aah jadi terharu bacanya, ini bner2 melukiskan perasaan saya juga:')..selama ini sya slalu brpikir knapa sya menjadi org yg terutup? stiap ada kegiatan sosial sya sgt sulit mengakrabkan diri dngan org lain. ini slah saya krn sya trlalu khawatir tntg tanggapan mereka tntg sya. saya takut dikecewakan sya takut mnjadi org yang tdak diinginkan bagi mreka.. nah perasaan ini yg selalu mghambat sya ketika ingin mulai brinteraksi atau mnjalin pershabatan... Terkdang sya sgt mnyesal knpa sya trlalu takut utk mncoba berteman dgn org lain.. Yah mmg bgtu sifat sya dari dulu..Tapi kini sya sdar stiap masalah psti ada jalan kluarnya kalau mw mencoba..sya gk ingin mengecewakan keluarga hnya dengan sifat pemalu dan tertutup, jadi sya bertekad sdikit dmi sdikit merubah sifat pemalu dan tertutup...maaf sbelumnya mbak saya jadi nyerobot dn kmentar trllu pnjng...salam saya wita

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga Mbak :)
      Nggak apa-apa Mbak, di sini bebas berpendapat dan berkomentar kok :)
      Waah, sy ikut seneng juga tulisan saya bikin terharu :)
      Nggak apa-apa Mbak, itu memang trait dari seorang introvert kok. Memang sulit bagi seorang introvert untuk hidup di sekitar orang-orang ekstrovert, apalagi jumlah mereka memang lebih banyak. Tapi dengan banyak membaca dan mencari tahu, insya Allah kita jadi tahu apa yang harus kita lakukan untuk membuat hidup kita jadi lebih baik :)
      Semoga segala keinginan Mbak tercapai ya, aamiin :)

      Hapus