Sabtu, 08 Juni 2013

Not All Chemist Wear White Coats

Ditulis oleh Nurul Nanda Khoiriyah, Muhamad Fikri Amrulloh, Alfi Taufik Fathurahman, dan Muhsin Ali Hadi
Mahasiswa Kimia ITB 2011

Dewasa ini, pandangan masyarakat sudah mulai terkikis dengan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan. Hal ini ditunjukan dengan pemikiran masyarakat mengenai lulusan setiap jurusan yang bekerja sesuai sektor keahlian masing-masing. Sebagian masyarakat memandang bahwa ketika seseorang lulusan dari jurusan tertentu bekerja maka yang dikerjakan secara maksimum adalah bidang yang dikuasainya (bidang jurusannya). Hal ini tidak sepenuhnya salah, hanya saja perkembangan pandangan masyarakat semakin sempit dengan memandang bahwa ketika lulusan dari jurusan tertentu bekerja di bidang yang bukan ia kuasai maka hasil yang akan diberikannya tidak akan lebih baik dari orang yang menguasai bidang tersebut.

Puncaknya, ketika pandangan ini menerpa mahasiswa kimia. Tidak sedikit mahasiswa kimia yang bingung dengan apa yang akan dilakukannya ketika lulus nanti. Hal ini terjadi karena pandangan mahasiswa tentang dunia kerja yang akan dihadapinya kurang sehingga menimbulkan pemikiran bahwa karirnya setelah lulus hanyalah menjadi seorang ilmuwan yang berdiam di dalam laboratorium. Selain itu, kurangnya pengetahuan mahasiswa kimia tentang relasi antara ilmu pengetahuan yang telah dipelajari dan dunia kerja yang dapat di jalankannya adalah menjadi faktor utama penyebab penyempitan pandangan ini. Sebagian besar mahasiswa sudah terkotak-kotakkan dengan pemahaman mengenai karir yang dapat dijalaninya. Padahal, jika mahasiswa kimia mengenal hakikat sebenarnya dari seorang kimiawan, bahwa seorang kimiawan dapat bekerja di luar bidang yang dikuasainya, maka mereka akan tahu bahwa tidak semua kimiawan mengenakan jas putih. Pernyataan tersebut merupakan kutipan dari The Royal Society of Chemistry yang bunyi awalnya ialah “Not all chemist wear white coats”. Yang ingin ditekankan pada pandangan ini adalah ketika mahasiswa kimia lulus nanti, apa yang ia kerjakan bukan hanya pekerjaan yang berhubungan dengan jas putih saja, melainkan ia dapat bekerja sesuai keinginannya asalkan mahasiswa ini memiliki tekad yang kuat dan bekerja keras untuk menggapai pekerjaan yang diinginkannya. 

Not all chemist wear white coats. Pernyataan yang banyak dikenal di kalangan mahasiswa kimia ini seakan mengisyaratkan bahwa bukan hanya bahan kimia dan ruangan laboratorium saja yang akan dihadapi oleh lulusan kimia di dunia kerja. Pada saat mahasiswa kimia memasuki dunia kerjanya nanti , kenyataan yang didapat adalah mereka harus mampu menjawab tantangan profesionalisme yang berkaitan dengan bidang yang multidisiplin. Pengalaman hidup yang dituturkan oleh Pak Syauki, seorang lulusan kimia yang kini menjabat sebagai CEO dan founder PT SISKEM—perusahaan kimia nasional yang terkemuka di Indonesia—merupakan salah satu bukti yang nyata.

Karirnya dimulai ketika beliau diterima menjadi mahasiswa kimia ITB. Beliau menjadi salah satu mahasiswa yang sangat aktif dan produktif dalam berkarya. Latar belakang pendidikan kimia menjadikan beliau dapat mendirikan perusahaan kimia yang mampu berkembang pesat dalam waktu hanya belasan tahun. Kehidupan kuliah banyak diwarnai kegiatan kemahasiswaan di luar kegiatan akademis. SEF, AMISCA, Permaja, PAS, Menwa, dan Labmen adalah kegiatan kemahasiswaan yang beliau jalani. Pengalaman-pengalaman yang beliau dapatkan dari kegiatan-kegiatan tersebut memupuk potensi beliau untuk menjadi seorang pemimpin dan pemberi arah bagi perusahaan yang beliau bangun. Pelatihan militer yang dirasakannya di Menwa dan kemampuan bahasa inggrisnya yang terasah berkat keanggotaannya di SEF adalah sekelumit dari banyaknya pelajaran yang beliau peroleh selain dari kegiatan perkuliahan.

Setelah lulus dari Program Sarjana Kimia tahun 1992, beliau langsung ditawarkan untuk menjadi production supervisor dan marketing manager di Sankyong, sebuah perusahaan kimia Korea yang mendirikan cabang di Indonesia. Namun, beliau pada akhirnya mengundurkan diri dari jabatan tersebut karena merasa tidak nyaman dengan lingkungan kerja yang cenderung diskriminatif. Setelah itu beliau mendapatkan tawaran lagi untuk bekerja di salah satu perusahaan Amerika yang bernama NALCO. Namun, kali ini beliau harus memulai dari posisi yang relatif rendah dibandingkan dengan pekerjaan sebelumnya, yaitu sebagai service engineer. Pekerjaan ini sebenarnya memiliki latar belakang keilmuan yang berbeda, yaitu teknik kimia. Seorang kimiawan lebih fokus untuk mengembangkan dan menerapkan ilmu kimia yang bersifat teoritis, sedangkan seorang engineer lebih fokus untuk mengaplikasikan ilmu kimia secara teknis dalam hal produksi bahan kimia. Hal inilah yang dihadapi oleh Pak Syauki saat penugasan pertamanya. Beliau harus mempelajari ilmu teknik kimia dari dasar supaya beliau dapat bekerja dengan baik dalam posisinya sebagai teknisi. Ini tentu bukan sesuatu yang mudah bagi siapapun, namun berkat usaha dan kerja keras, beliau pun dapat beradaptasi dengan lingkungan industri dan mendapat promosi jabatan yang lebih tinggi.

Dari titik inilah terbersit hasrat beliau untuk mendirikan perusahaan kimia berstandar internasional seperti tempatnya bekerja saat itu. Selain itu, beliau pun melihat peluang yang besar dari kondisi krisis moneter yang melanda Indonesia saat itu, yaitu sekitar tahun 1998. Harga dolar yang melonjak naik dilihatnya sebagai kesempatan besar untuk dapat berkembang pesat melalui penjualan bahan kimia antar negara. Pada awalnya orang-orang di sekelilingnya skeptis terhadap gagasan beliau untuk mendirikan perusahaan baru di era krisis moneter, namun beliau tetap yakin dan terus maju untuk mewujudkan impiannya tersebut. “Pada saat orang lain bilang tidak mungkin, justru disitulah letak kemungkinannya,” tutur beliau saat menceritakan pengalamannya.

Perusahaan yang beliau rintis hanya bermodalkan 70 juta rupiah hasil dari penggabungan modal dari rekan-rekannya yang ikut mendirikan perusahaan di sebuah ruko kecil yang mereka sewa di Jakarta. Pada mulanya pengembangan pasar sangat sulit, selain disebabkan oleh krisis, beliau pun belum memiliki hubungan marketing dengan target beliau semula, yaitu perusahaan internasional. Tahun pertama melakukan usaha, beliau pun merugi hingga 200 juta rupiah.

Namun segalanya berubah saat beliau dihubungi oleh salah seorang alumni kimia yang bekerja di sebuah perusahaan minyak multinasional. Sejak saat itu perusahaan beliau mendapat langganan tetap dan hubungan dengan banyak perusahaan asing, terutama untuk bahan-bahan kimia yang digunakan untuk keperluan eksplorasi dan penelitian sekitar minyak bumi. Produk yang beliau produksikan dapat menggeser produk impor untuk keperluan yang sama. Semenjak itulah PT SISKEM terus berkembang hingga memiliki empat anak perusahaan pendukung hanya dalam kurun waktu yang relatif singkat. Kini omzet gabungan perusahaan per tahun dapat mencapai 200 miliar!

Berdasarkan paparan tokoh lulusan kimia di atas, dapat kita ketahui bahwa beliau memiliki karir tidak hanya sebagai kimiawan yang memakai jas putih, tetapi beliau sukses menjadi seorang pengusaha di bidang yang mereka kuasai. Apapun yang mereka usahakan semata-mata bukan hanya karena mendalami kimia secara akademis saja, butuh satu hal penting bernama softskill untuk meraihnya. Keilmuan yang dimiliki setelah lulus menjadi modal awal untuk memulai karir. Ilmu yang dibekalkan pada lulusan kimia bermanfaat dalam membentuk pola pikir dasar yang tentunya akan terpakai ketika menjalani karir apapun. Saat menjalani karir tersebut, bukan lagi hanya kelimuan yang berperan besar dalam menentukan performa karir, tetapi perkembangan softskill pun menjadi penting dalam menentukan karir. Berani, cepat belajar, optimis, pandai melihat peluang, dan berjiwa pemimpin adalah beberapa softskill yang dimiliki Pak Syauki. Pada akhirnya, tidak hanya mahasiswa lulusan kimia, mahasiswa lulusan jurusan apapun akan dapat meraih sukses layaknya Pak Syauki jika mereka mengembangkan kelimuan sesuai bidang mereka ditambah dengan mengaplikasikan softskill yang dibutuhkan di dunia kerja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar