Jumat, 28 Juni 2013

BALI Journey: Day 1

Sebelumnya saya beritahukan bahwa saya suka menuliskan rincian perjalanan ini dengan sangat detail karena tiap kejadian yang kami alami menurut saya mengandung makna dan mungkin berguna bagi para pembaca sekalian juga. Tulisan ini tentunya saya jadikan juga sebagai dokumentasi terbaik yang bisa saya buat dengan menuliskannya sedetail mungkin :D

Sabtu, 22 Juni 2013

Melihat dari travel itinerary dari situs Air Asia yang kami cetak, penerbangan kami dijadwalkan pada jam 20.20. Sebelum berangkat ke Bandara Internasional Husein Sastranegara, di sore harinya tidak lupa kami melakukan check in secara online agar penerbangan yang kami pesan terverifikasi dan tidak hangus. Setelah melakukan check in secara online, kami sedikit santai karena jika check in online sudah dilakukan, kami tidak perlu terburu-buru sampai di bandara satu jam sebelum waktu keberangkatan. Setelah shalat magrib, kami memasukkan barang-barang ke dalam mobil dan mengamankan keadaan rumah. Setelah memastikan tidak ada urusan yang terlewat, kami langsung berangkat menuju bandara. Keadaan jalan malam ini terbilang cukup lancar dan perjalanan kami menuju bandara terasa sangat damai.

Di depan pintu masuk bandara
Di depan counter check in baggage

Di depan pintu masuk, kami beserta barang-barang diturunkan. Papa tetap di dalam mobil untuk membawa mobilnya ke parkiran bandara untuk dititipkan selama 3 malam. Untuk lebih mengamankan mobilnya, papa tidak lupa untuk menempelkan kertas koran di jendela bagian dalam mobil. Sebelum memasuki pemeriksaan bandara dengan metal detector dan x-ray-nya, tiba-tiba aku khawatir dengan sunblock dan lotion yang aku bawa, apakah kalau ketahuan akan dibuang seperti waktu di LCCT Kuala Lumpur International Airport dulu? Akhirnya aku berusaha sekuat tenaga menyembunyikan sunblock dan lotion itu di balik tumpukan mukena dalam tas (ini gara-gara gak mau kehilangan si sunblock sih -_-). Setelah papa kembali, akhirnya kami melalui metal detector dan x-ray tahap satu lalu masuk ke lobby bandara untuk melakukan check in baggage dan membayar pajak penerbangan sehingga mendapatkan code bar terverifikasi di boarding pass kami. Melihat sekilas ke boarding pass kami, ternyata departure time-nya pukul 20.45, berbeda dengan yang tertera di travel itinerary yaitu 20.20. Setelah sedikit berbelanja makanan sebagai cemilan di dalam pesawat, kami melalui metal detector dan x-ray tahap dua dan memasuki ruang tunggu. Setelah sampai ruang tunggu, yang notabene merupakan pemberhentian terakhir sebelum memasuki pesawat dan tak akan ada lagi metal detector dan x-ray, aku heran, kok tasnya gak digeledah? Ternyata jawaban yang datang dari mulut papa adalah “Ini kan penerbangan domestik, jadi nggak ada penggeledahan tas, nggak seperti di LCCT KLIA dulu, itu kan penerbangan internasional.” Alhasil aku yang asalnya udah was-was dan ribet-ribet menyembunyikan sunblock dan lotion jadi merasa lucu sendiri hahaha.

Penerbangan kami yang dijadwalkan pada pukul 20.45 pada kenyataannya sedikit terlambat karena justru open gate-nyalah yang pukul 20.45. Setelah masuk ke dalam pesawat dan duduk dengan manis, akhirnya pesawat lepas landas sekitar pukul 9 malam lebih. Aku yang baru kali ini menaiki penerbangan malam baru mengetahui bahwa ternyata pada penerbangan malam hari, pesawat mematikan lampu ketika lepas landas. Segera setelah roda pesawat terpisah dari landasan, gemerlap kota Bandung terlihat dari jendela di sebelah tempat dudukku. Gemerlap itu semakin lama semakin padat, semakin terang, dan kemudian kabut-kabut yang tipis muncul dari atas tanda bahwa kita sudah naik semakin tinggi menembus awan. Lampu pesawat tidak selamanya dimatikn ketika perjalanan ternyata, lampu dinyalakan kembali ketika pesawat sudah stabil di atas awan. Yah, gemerlap dunia di luar sudah tidak terlihat lagi karena kalah oleh cahaya dari dalam pesawat. Tak ada pemandangan di luar yang bisa dilihat, aku melakukan hal-hal remeh seperti membaca petunjuk keselamatan, katalog souvenir, dan menu makanan yang biasa terdapat di kantung depan kursi.

Suara awak pesawat yang terdengar di speaker mengumandangkan bahwa sebentar lagi kami akan mendarat di Bandara Internasional Ngurah-Rai Bali. Lampu pesawat kembali dipadamkan dengan alasan keselamatan. Apa yang sampai pada retina mataku adalah gemerlap kota di ujung sana, sementara di bawahku, di bawah pesawat ini nampak gelap tak ada satu cahayapun dari bawahnya. Itu adalah… tepian laut! Apa yang ada di bawahku saat ini adalah laut, yang gelap, yang tenang, tak ada cahaya terpantul, seperti berada di luar angkasa, apa yang ada di bawahku saat ini seperti kegelapan tanpa ujung di luar angkasa. Ya, informasi dari papa mengatakan bahwa memang landasan Bandara Ngurah-Rai itu menjorok ke laut. Hehehe, kita sudah sampai. Pendaratan berlangsung mulus, Alhamdulillah. Kami menempuh perjalanan selama 1 jam 20 menit, lebih cepat dari yang diberitakan awak pesawat sebelum berangkat tadi yang mengatakan perjalanan ini memakan waktu 1 jam 45 menit. Karena Bali sudah memasuki daerah WITA, maka waktu di sini lebih satu jam dibandingkan dengan ketika di Bandung (WIB).

Di dalam bis yang mengantar kami dari landasan ke bandara

Turun dari pesawat, kami disambut dengan sebuah bis bertuliskan “Air Asia” yang interiornya mirip dengan MRT. Tiba-tiba semua penumpang pesawat masuk ke dalamnya, kami pun mengikuti. Aku bertanya-tanya, “Ini bis apa?”, “Bis ini membawa kita sampai mana?”, “Apakah ini seperti bis di LCCT KLIA yang membawa kita langsung ke tengah kota? Setelah kupikir dan kucari sendiri jawabannya, jelas ini bukan bis seperti di LCCT KLIA karena kita naik bis ini dengan gratis sementara naik bis di LCCT KLIA dulu bayar. Lalu setelah menunggu sedikit lebih lama, akhirnya bis ini berhenti di depan gate bandara. Oh akhirnya terjawab juga bahwa ini adalah bis yg memberikan pelayanan dengan membawa penumpang dari landasan sampai bandara. Di bandara, seperti biasa, mengambil trolley dan mengambil baggage. Keadaan gedung bandara tidak seperti yang kami bayangkan, lantainya tidak diberi keramik dan terlihat seperti sedang dalam perbaikan. Tidak lama kemudian, kami sudah berada di luar bandara, mencari taksi untuk membawa kami ke hotel. Para supir taksi banyak yang berjaga di sana, mereka mendekati satu per satu pendatang yang baru keluar dari bandara. Mereka menawarkan taksi pada kami. Papaku minta untuk 7 orang. Kata mereka harus dengan 2 taksi. Sampai hotel di Jalan Bakung Sari, tarifnya? Seratus ribu per taksi. Apa? Tidak mungkin! Dari sini ke hotel hanya berjarak 3 km! Papa menawar dengan wajah yang berekspresi datar. Akhirnya tarif yang disepakati adalah seratus lima puluh ribu untuk dua taksi. Kalian tahu? Tarif itu sangat mahal. Kemungkinan para supir taksi itu memberikan tarif mahal karena tahu kami adalah pendatang yang sangat membutuhkan taksi untuk sampai ke hotel di malam hari.

Resepsionis

Hotel yang kami pesan dari situs agoda.com terletak di daerah Kuta, tepatnya Jalan Bakung Sari. Untuk mencapai pantai Kuta, hanya perlu jalan kaki selama 5 menit, bahkan 3 menit jika jalannya cepat, sangat dekat! Kuta Beach Club adalah nama hotelnya. Bagian dalam hotel ini sangat khas budaya Bali dengan nuansa remang-remang di malam hari, patung-patung, dan aroma kemenyan. Sebelum sampai di sini, kami diperingatkan untuk tidak membicarakan apapun tentang aroma kemenyan dan segala hubungannya dengan budaya-budaya gaib di Bali. Karena budaya Hindu dan Budha-nya yang sangat kental, kita tidak bisa mengharapkan akan mendengar suara adzan selama di sini dan kami harus bisa menjaga diri terutama di malam hari. Beberapa saat kemudian kami mendapatkan kunci kamar kami dan sedikit informasi tentang penyewaan mobil. Posisi kamar kami agak jauh dari resepsionis dan kami harus berjalan sekitar 200 meter untuk mencapai kamar hotel kami tiap kali pergi dan pulang. Pada awalnya kami diberi dua kamar yang letaknya agak jauh, tetapi melihat kamar sebelah yang ternyata kosong, kami meminta tukar kunci dengan kamar yang kosong agar kamar kami berlima dan eyang berdua bersebelahan. Sebenarnya terjadi sedikit obrolan yang tidak mengenakan saat kami berjalan menuju kamar tadi. Mama terus-menerus membicarakan bagaimana mengerikannya tempat ini di malam hari dan bagaimana kami harus mengalahkan keberadaan makhluk-makhluk yang mungkin ada di sekitar kami dan di dalam kamar yang akan kami tempati. Aku sudah tahu dan mencoba bersikap biasa saja, tetapi apa yang mama bicarakan malah membuatku berpikiran negatif.

Suasana kolam renang dan jalan tepat di depan kamar, indah
Di depan kamar kami berpose

Kamar bertipe superior yang kami pesan di hotel berbintang tiga ini terbilang mewah untuk ukuran bintang tiga. Cukup luas untuk kami berlima meskipun kami harus memesan satu extra bed karena double bed-nya hanya cukup untuk 4 orang. Tarifnya adalah Rp 1.875.000,00 selama 3 malam. Sekitar Rp 625.000,00 semalam. Hm, standar lah ya untuk ukuran bintang tiga. Oh, tapi extra bed yang kami pesan sangat mahal! Rp 250.000,00 untuk satu malam beserta breakfast! Untuk 3 malam berarti harus mengeluarkan uang sebesar Rp 750.000,00 padahal biasanya hotel di Bandung hanya meminta Rp 100.000,00 semalam untuk satu extrabed beserta breakfast. Oh ternyata, setelah dilihat lagi arsip dari agoda.com, hotel yang kami pesan memberikan diskon sebesar 50%, itu berarti tarif yang sebenarnya jelas lebih mahal lagi (-__-). Memang standar tarifnya pulau Dewata yang tinggi, bukan extra bed-nya yang kemahalan.

Setelah segala urusan beres dan kami dapat menempati kamar dengan tenang, kami membersihkan diri dan beristirahat, bersiap untuk liburan yang sebenarnya esok hari (sebenarnya nanti pagi, melihat sekarang sudah pukul 01.30 WITA)! Apa yang aku bayangkan saat mengingat bahwa sebentar lagi liburan akan dimulai? Tentu saja PANTAI! Yeah! Selamat tidur :D

Continue to BALI Journey: Day 2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar