Rabu, 14 November 2012

Tentang Mahasiswa ITB



Seorang dosen kimia fisik yang mengajar kelasku hari ini berkata bahwa ada pengamat dari perancis datang ke ITB dan mengamati kinerja mahasiswa dan dosen di sini. Setelah lama berkeliling dan mengamati, akhirnya dia membuat kesimpulan bahwa ITB adalah kampus yang sangat aktif mengadakan kegiatan, seluruh massa kampusnya mulai dari mahasiswa maupun dari dosennya sangat aktif. Hal tersebut dinilai baik oleh pengamat tersebut. Namun, melihat aktifnya kampus ITB itu, pengamat tersebut berkata, "Dosen dan mahasiswa ITB sangat aktif sampai-sampai tidak ada waktu untuk berpikir dan mengerjakan riset!"

Riset! Itulah yang menjadi permasalahan kampus ITB sekarang ini. Semua mahasiswa dan dosennya berlomba-lomba membuat acara dan tak ada waktu bagi mereka untuk sekedar duduk diam dan berpikir. Universitas-universitas lain di Indonesia membuat banyak riset dan paper sementara di ITB, papernya dapat dihitung jari. Jumlah mahasiswa yang mengirimkan proposal untuk turut serta dalam PKM pun masih terbilang sedikit. Lebih jauhnya lagi, jumlah paper yang Indonesia sumbangkan untuk dunia pun terhitung sangat sedikit. Jika kampus nomor satu di Indonesia saja masih terhitung jumlah papernya, tak heran ITB tak dapat menjadi kampus teknik berskala dunia yang dapat disandingkan dengan MIT ataupun Todai.

Ketika baru memasuki dan merasakan dunia kampus, para freshmen alias mahasiswa baru sering mendengar bahwa menjadi mahasiswa sebaiknya jangan hanya kupu-kupu alias kuliah-pulang kuliah-pulang. Mahasiswa harus aktif dalam kegiatan kemahasiswaan karena mahasiswa merupakan harapan masyarakat dan bla-bla-bla. Dari kata-kata tersebut dan dari suasana kampus yang memang sudah terlihat aktifnya para mahasiswa mengadakan berbagai kegiatan yang berpusat pada masyarakat seperti pengmas, mind set para maba itu akhirnya terkunci bahwa, "ooh, sebagai mahasiswa, kita harus ikut berbagai kegiatan kemahasiswaan dan jangan melulu urusan akademik".

Ada pula mahasiswa yang sejak SMA sangat suka berorganisasi sampai-sampai ketika di universitas, mereka bertekad untuk lebih mengembangkan kemampuan berorganisasi mereka sehingga mereka berambisi untuk memegang amanah yang besar ataupun amanah yang banyak. Bagi mereka, kehidupan kampus sangat terasa pada keorganisasiannya. Kalau mahasiswa nggak ikut organisasi, rasanya seperti tubuh tanpa jiwa, gitu lebaynya mah.

Namun, ada satu fenomena yang biasa terlihat dari sebagian mahasiswa yang sangat aktif berorganisasi. Fenomena tersebut adalah jebloknya nilai-nilai ujian mereka alias menurunnya kinerja mereka di bidang akademik. Hal tersebut biasanya terjadi karena para mahasiswa yang kinerja akademik mereka kurang baik beranggapan bahwa di dunia kerja nanti, akademik bukanlah faktor utama karir mereka, yang menjadi faktor penentu adalah pengalaman organisasi mereka. Sayangnya, pemikiran mereka akan berakibat pada kurang pedulinya mereka terhadap kegiatan akademik yang menyebabkan anjloknya IP mereka. Padahal, ada yang kurang tepat dari pemikiran mereka. Memang akademik bukan satu-satunya penentu karir, tetapi 'kan untuk bisa lolos seleksi berkas ke perusahaan-perusahaan negara, dibutuhkan nilai IP yang memadai. Sebagian besar malah meminta di atas 3. Setelah lolos, baru dari seleksi melalui wawancara akan terlihat kemampuan berkomunikasi dan bahkan berorganisasi seseorang tersebut. Kalau IP belum cukup, untuk lolos seleksi berkas saja jelas belum bisa, apalagi lolos seleksi wawancara, hehee.


Adapun mahasiswa yang meskipun aktif di berbagai kegiatan, himpunan, dan kemahasiswaan, kinerja akademiknya masih memadai bahkan memuaskan. Hal tersebut hanya bisa terjadi pada mahasiswa yang benar-benar dapat mengatur waktu dan sangat mengerti prioritasnya sendiri sehingga tak mungkin dia akan melalaikan apa yang sudah menjadi prioritasnya, dan mahasiswa yang seperti ini tentunya bisa dihitung dengan jari.

Selain itu, ada mahasiswa yang merasa kuliah itu sangat berharga sampai-sampai tak mungkin menggeser prioritas kuliah untuk berada di selain nomor satu. Kuliah adalah untuk belajar dan untuk mendapatkan nilai yang memuaskan sehingga setelah lulus nanti, mereka berharap akan mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang menyejahterakan.

Untuk mahasiswa yang mementingkan akademik dan menjadikan akademik sebagai prioritas utama ataupun mahasiswa yang dapat mengatur kinerja akademiknya tetap baik, mahasiswa tipe ini ada dua jenis. Yang pertama yaitu mahasiswa yang hanya bertekad untuk mendapatkan gelar kelulusan cumlaude dengan IPK 4,0 ataupun IPK "memuaskan" agar dapat bekerja di perusahaan BUMN dan mendapatkan gaji yang besar, lalu mereka berharap akan mendapatkan tunjangan hari tua dan dapat menghabiskan masa tua mereka dengan bahagia. Bagi mahasiswa tersebut, belajar adalah untuk memenuhi tuntutan ujian. Bagaimanapun cara belajarnya, saat ujian nanti, nilai ujiannya harus bagus. Jenis yang kedua adalah mahasiswa yang kuliah untuk memenuhi rasa ingin tahunya, untuk lebih memahami ilmu-ilmu alam semesta. Baginya, belajar merupakan kesenangan hati dan dia menikmatinya. Dia tak hanya belajar untuk ujian, dia membaca buku-buku teks kuliah itu kapanpun ia mau. Performanya di kelas sangat mengesankan karena dia begitu bersemangat pada apa yang dibicarakan dosen dan dia bertanya untuk meluruskan teori yang sudah ada dalam kepalanya. Baginya, ujian hanya menuliskan lagi apa yang sudah dia mengerti.

Dari perkataan dosen kimia fisik itu, tersirat bahwa beliau mempertanyakan keberadaan mahasiswa jenis kedua tadi di kampus ITB. Beliau yang menempuh S-3 di Perancis tersebut berkata bahwa mahasiswa di kampus beliau dulu dan mahasiswa di kampus ITB sekarang sangat berbeda. Tak ada yang namanya kegiatan yang bejibun di sana, para mahasiswanya itu lebih banyak menghabiskan waktu untuk berdiskusi ataupun berkegiatan di laboratorium, melaksanakan riset, selain itu, hanya ngobrol-ngobrol dan ngopi seperti anak muda pada umumnya. ITB adalah kampus teknik yang harapannya dapat mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi berskala Internasional. Namun, pada kenyataannya, kajian yang diadakan lebih banyak mengenai kemasyarakatan dan hal-hal selain ipteks. Dari manakah paper-paper pengguncang para ilmuwan dunia kalau bukan dari mahasiswa jenis kedua itu? Tanpa mereka, mau dibawa kemanakah ITB?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar