Minggu, 04 November 2012

Tentang Sebuah Komunitas


Baru kali ini aku merasa nyaman berada seorang diri dalam suatu komunitas. Aku nyaman tidak terlibat dengan orang di dalamnya. Aku nyaman dianggap tak ada padahal mereka melihatku. Itu semua karena aku sedang berada dalam komunitas berisi orang-orang yang melampaui batas. Tak ada rasa ingin berbaur sedikitpun. Aku tak ingin menjadi bagian dari mereka.

Mereka brutal. Mereka tak menerapkan kontrol diri dalam perilaku mereka, seakan mereka bebas sebebas-bebasnya di dalamnya. Mereka mempertunjukkan kegilaan dan kegemaran mereka terhadap sesuatu yang tabu, sesuatu yang semakin lama disukai semakin menghancurkan moral. Di dalamnya tak ada batasan norma-norma yang biasa berlaku dalam masyarakat, seakan mereka telah membentuk masyarakat jahiliyah. Muslim dan non-muslim, laki-laki dan perempuan berinteraksi layaknya tak ada Tuhan yang melihat mereka, setan menguasai mereka. Laki-laki berubah menjadi perempuan, perempuan sengaja mengubah dirinya menjadi laki-laki. Mereka mengakui tak ada perbedaan gender dalam komunitas mereka. Semua diperlakukan sama. Itu artinya, seorang perempuan tak akan dipandang sebagai seorang perempuan. Tak ada batasan sikap maupun kontak fisik. Seorang perempuan di sana mengaku bahwa para laki-laki di sana tak akan berbuat macam-macam pada perempuan-perempuannya karena orientasi seksual mereka telah menyimpang. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Mereka pun berkata mereka memang melakukannya, atas dasar main-main dan seru-seruan, intinya bercanda. Namun, aku tahu meskipun mereka bercanda, mereka memang melakukannya atas dorongan nafsu. Memang ada beberapa orang dalam komunitas tersebut yang kulihat mengetahui batasannya dan menjaga dirinya untuk tetap berada di dalam batasnya. Aku mengagumi mereka dan bertanya mengapa mereka masih bertahan di sini, mereka memang mempunyai tujuan yang ingin mereka capai karena itulah mereka bersabar. Namun, aku kecewa, ternyata waktu dan lingkungan sudah mengubah mereka. Meskipun sedikit, ternyata mereka memang sama dengan yang lainnya. Tak ada yang menahanku untuk berada di sini lagi selain keinginan untuk mengubah dan untuk terus memantau adik kelasku yang dengan malangnya menjadi korban mereka.

Dulu, ketika aku belum tahu tentang eksistensi komunitas ini, aku sedikit seperti mereka karena pengaruh teman masa kecilku. Aku tak tahu bahwa hal tersebut adalah sesuatu yang tabu. Aku bercanda dengan temanku membicarakan hal tesebut dan tertawa-tawa, biasa saja. Namun, setelah mengenal mereka, aku jijik, aku muak mendengar mereka bercanda tentang hal yang dulu pernah kujadikan candaan. Ketika aku baru masuk, mereka berkata, “Lama-kelamaan kau pasti akan menjadi seperti kami”. Sayangnya tidak. Semakin lama aku bersama kalian, melihat kalian, dan berkumpul bersama kalian, semakin aku ingin menutup mata dan telingaku. Berkat kalian, aku menyadari apa yang dulu pernah kuanggap biasa ternyata merupakan bagian dari budaya jahiliyah. Berkat kalian aku benci dengan hal-hal tersebut.

Selama ini aku selalu mencari manfaat berada dalam komunitas ini. Namun, semakin banyak aku tinggal, semakin sadar aku bahwa berada di sini tak ada manfaatnya sedikitpun. Yang ada malah aku yang semakin takut akan berubah melampaui batas seperti mereka. Aku memang sempat berpikir ingin mengubah mereka agar menghindari perbuatan mereka yang melampaui batas. Namun, di sisi lain aku pesimis, bisakah aku seorang diri mengubah mereka semua? Rasa ingin mengubah dan rasa pesimis itu membuatku tak bisa memutuskan dengan tegas untuk tetap berada di dalam komunitas ini atau keluar selamanya. Jika keluar, mungkin aku akan menyesal karena tak dapat mengetahui lagi seluk-beluk mereka. Jika tetap berada di sana aku tak akan merasa nyaman. Aku juga sadar bahwa keluar tak akan mengubah apapun, hanya jiwa kerdilku yang akan merasa puas karena telah keluar dari masalah, tak akan berurusan lagi dengan mereka. Namun, jiwaku yang lainnya, yang menuntut musnahnya kemaksiatan, sangat bergejolak ingin melawan mereka terang-terangan. Aku mengucap alhamdulillah masih diberi hati nurani yang dengan cukup akurat menentukan mana yang hak dan yang bathil. Akhirnya aku memutuskan untuk tak berbaur dengan mereka agar standar hati nuraniku tak semakin menurun dan akan kutentang dengan keras dan tegas mereka.

Sungguh tak dapat dipahami, seseorang mestinya menyembunyikan dan menutupi hal-hal tabu yang menarik hati mereka. Mereka akan malu pernah memikirkannya dan menganggap itu merupakan suatu hal yang bagus. Mereka akan mengucap “astagfirullah” dan memperbaiki pemikiran mereka yang sudah di luar kewajaran itu. Namun mereka melakukan sebaliknya. Mereka senang dan bangga membicarakannya. Tak ada rasa malu dan bersalah sedikitpun dalam diri mereka. Mereka mengucap “alhamdulillah” karena menemukan makhluk yang sejenis. Semua ini terlalu menjijikkan.

Sungguh ngeri manusia di akhir jaman ini. Aku berlindung pada-mu ya Allah dari segala hal yang bathil. Jangan jadikan aku seperti mereka ya Allah, jadikanlah aku dapat memerangi mereka. Aamiin ya robbal ‘alamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar