Sabtu, 08 Oktober 2011

Filosofi Persahabatan: Sebuah Cerita Tentang Perilaku Manusia


Dunia, jagad raya, bumi dan semua makhluk di dalamnya ada karena diciptakan oleh Tuhan. Kadang aku berpikir, jika Tuhan tidak ada, apa yang akan terjadi dengan dunia ini? Bumi ini? Manusia? Sampai disana, pikiranku blank. Kosong. Tidak terjawab.

Banyak yang berkata, manusia hidup di bumi ini hanya sementara. Kehidupan yang abadi adalah kehidupan setelah kematian. Aku pun berpikir, seperti apa kehidupan yang abadi itu. Apakah kita tidak akan menua? Untuk apa kita hidup abadi? Apakah hanya sebagai balasan dari amalan yang kita lakukan selama hidup di dunia? Lagi-lagi pikiranku blank. Hitam mewarnai benakku saat itu.

Sambil berjalan dengan mendongakkan wajahku ke atas, melihat langit, aku memikirkan banyak hal yang tidak pernah orang lain pikirkan sebelumnya. Aku mempertanyakan arti manusia hidup di dunia ini. Aku mempertanyakan tentang kematian. Aku mempertanyakan tentang hari kiamat dan kehidupan setelah mati.

Aku bukanlah tipe orang yang banyak bicara, melainkan berpikir. Aku menikmati setiap topik yang dibahas di pikiranku.

Kalian pasti bertanya-tanya siapa aku. Aku adalah Aihara. Seorang siswa SMA biasa yang antisosial. Mendengar kata antisosial, kalian pasti berpikiran bahwa aku tidak punya banyak teman. Itu benar. Bukan karena aku tidak pandai bersosialisasi. Tetapi karena trauma yang kualami di masa lalu. Sejak saat itu, aku tidak pernah mau mempercayai orang lain. Yang bisa diandalkan hanya diri sendiri.

Bagiku, yang namanya teman itu tidak ada. Setahuku, teman adalah orang yang selalu mendukung kita disaat susah dan senang, memberi semangat pada kita, tertawa dan menangis bersama, dan yang paling penting, mereka mau menolong kita dengan ikhlas tanpa mengharapkan imbalan. Tapi ternyata itu hanya bualan saja. Kalian sudah melihat sendiri di hadapan kalian yang menjadi korban bualan itu.

-

-

-

Flashback, 3 tahun lalu...

“Eh, Kania. Boleh aku pinjam catatan matematika yang kemarin dipelajari? Kemarin aku tidak masuk karena sakit,” pintaku pada Kania yang duduk di belakangku.

“Oh! Tentu saja Aihara...” jawabnya sambil memberikan buku catatan matematikanya kepadaku.

“Terima kasih, Kania,”

“Sama-sama,” Kania tersenyum.

Selama sepuluh menit aku menyalin catatan matematika dari buku punya Kania. Aku selesai menulis bertepatan dengan masuknya Guru Ben, guru matematika di kelasku.

“Nah, kita akan ulangan hari ini. Materinya yang kita bahas dari awal pertemuan sampai sekarang. Siapkan kertas selembar,” kata Guru Ben tanpa basa-basi yang langsung disambut umpatan dan keluhan beberapa siswa. Kania terlihat panik.

Meskipun siswa-siswi belum siap dengan ulangan yang tiba-tiba, tetapi akhirnya kegiatan dapat berjalan dengan baik, sampai...

“Sst, Ra! Lihat kertas jawabanmu donk! Aku belum belajar nih,” Kania yang duduk dibelakangku mencolek punggungku dan menyampaikan maksudnya memanggilku. Aku bimbang, bolehkah aku memberitahukannya pada Kania?

“Tapi kan...itu nyontek namanya,” jawabku menyanggah.

“Ah, anggap saja itu balas budi padaku. Kau kan sudah meminjam catatanku,” kata Kania yakin.

Aku meringis. Rasanya aku sedikit menyesal meminjam catatan dari Kania.

“Hei! Itu yang di sudut! Jangan kerja sama! Atau saya ambil kertas kalian dan saya beri nilai nol!” tiba-tiba Guru Ben menegur kami. Kami sontak kaget. Kania membenarkan posisi duduknya sementara aku kembali menekuni soal-soal di hadapanku. Aku lega Kania tak jadi meminjam kertas jawabanku.

Esok paginya seluruh siswa dan siswi menyambut kedatanganku di kelas dengan tatapan tak bersahabat. Kudengar samar ada yang menggumamkan, “Dasar sok suci!” atau “Ini dia Tante Aihara yang kikir.” Aku tahu penyebab semua ini. Siapa lagi kalau bukan Cewek Bermulut Ember yang memberitahukan teman sekelas bahwa aku tidak mau dimintai contekan.

“Siapa yang kalian maksud? Aku?” aku tidak sudi namaku dicemarkan.

“Tentu saja. Memangnya siapa lagi! Kami tahu kamu memang selalu mendapat peringkat satu di kelas. Tapi tidak perlu menjadi sombong bukan?” balas salah satu teman sekelasku.

“Aku bukannya sombong. Aku hanya mengingatkan kalau menyontek itu tidak baik. Mendapat nilai kecil karena jujur lebih terasa puas dari pada mendapat nilai besar tetapi hasil menyontek,” jelasku.

“Ah! Di dunia ini sudah tidak ada yang namanya kejujuran! Kita harus menghalalkan segala cara kalau ingin bertahan hidup! Bagimu yang mempunyai IQ tinggi tentu tidak menjadi masalah. Tapi bagi kami yang tidak sepintar dirimu, adalah hal yang sulit! Hanya bagi-bagi ilmu saja apa susahnya sih?!” kali ini teman sekelasku bernama Rosa yang angkat bicara.

“Tapi bagi-bagi ilmu kan tidak harus saat ulangan. Kita bisa membuat kelompok belajar ‘kan?” jawabku terus mempertahankan argumenku karena menurutku itu benar.

“Ternyata Tante Aihara selain Sok Suci dan Kikir, Keras Kepala juga ya?” ejekannya semakin menjadi, aku sudah tidak tahan dengan ejekannya itu.

“HENTIKAN! KALIAN SUDAH KETERLALUAN!” sesorang berteriak sekeras toa masjid di bangku dekat dengan meja guru. “Yang dikatakan Aihara itu benar! Aku juga sama seperti kalian! Tapi aku tidak perlu memakai ritual menyontek untuk membuat nilai ulanganku menjadi besar! Aku puas dengan nilaiku yang pas-pasan karena aku memakai kemampuanku sendiri!” sambung perempuan berambut ikal menyolok yang diketahui bernama Sandella.

“Heh, ternyata yang Sok Suci dan Sombong bertambah satu orang lagi,” salah satu siswa berkaca mata menanggapi kalimat panjang dari Sandella.

“Kalian benar-benar cocok! Menikah saja sana!” tambah seorang siswi entah siapa yang langsung disambut gelak tawa seisi kelas.

Aku terdiam geram sementara Sandella terlihat cuek saja. Tak berapa lama, Guru Biologi memasuki kelas kami. Dengan segera kami menempatkan diri di bangku masing-masing.

Flashback off—

-

-

-

Kakiku berhenti melangkah saat merasakan hembusan angin yang sejuk menerpa wajahku. Aku ingin menikmatinya sesaat.

Kalau diingat-ingat itu adalah kali pertama aku menemukan orang yang sependapat denganku. Sejak kecil aku diajari untuk berbuat jujur dan aku mempraktekkannya selalu. Tapi respon yang mereka beri selalu sama sejak aku duduk di bangku Sekolah Dasar.

Setelah kejadian itu aku dan Sandella dimusuhi teman sekelas. Namun, insiden itu ada manfaatnya, aku menjadi lebih dekat dengan Sandella. Aku merasa nyaman bersama dengannya.

Aku yang telah menghapus kata teman dari kamus hidupku sejak kelas 4 SD. Dan aku semakin tidak menyesal telah menghapusnya berkat insiden itu. Seseorang akan mengaku sebagai teman kalau ada maunya. Kalau tidak ada urusan, mereka akan pergi dan mengacuhkan kita bahkan menganggap kita tidak ada.

Tanpa terasa kami menjadi sepasang sahabat. Tanpa deklarasi, tanpa ucapan janji, semua terjadi begitu saja. Sifat Sandella yang ceria membuatku iri padanya. Tentu aku tidak bisa seperti dia. Dia yang sudah dimusuhi teman sekelas masih dapat tersenyum menghadapi kesehariannya di kelas.

Aku yang belum terbiasa pada awalnya merasa kesepian. Apalagi kalau Sandella tidak masuk sekolah. Tapi aku menetapkan tekad dan berusaha bertahan. Akhirnya aku dapat melupakan perasaan kesepian itu hingga kelulusan tiba. Sebagian besar berkat Sandella yang mengajariku cara tertawa dan berbahagia yang kutahu hanya bisa kudapatkan di rumah bersama keluargaku.

Aku tersenyum mengingat saat-saat membahagiakan bersama Sandella. Aku menulis kembali kata yang pernah kuhapus di kamusku dengan perasaan hangat karena memiliki sebuah ikatan.

-

-

-

Flashback

Kelulusan telah tiba. Perpisahan diadakan di hotel mewah dengan biaya sewa yang mahal. Saat itu Sandella tidak ikut menghadiri acara perpisahan karena tidak diijinkan oleh orang tuanya. Aku kesepian. Aku memilih duduk di bangku yang jauh dari kerumunan teman sekelasku. Aku memang lebih suka menyendiri daripada berbicara dengan banyak orang yang hanya akan membuat bising.

Perintah seorang guru yang berbicara di atas panggung membuatku harus berkumpul dengan teman sekelasku. Tetap dengan tatapan kesal mereka menatapku ketika aku duduk di dekat mereka.

Tanpa basa-basi, aku langsung berlari menuju basement dan pulang dengan mobil ayahku. Aku sudah tidak sudi berada di sana lebih lama lagi. Sedikit banyak aku merasa senang karena akhirnya aku bisa keluar dari sekolah yang menyesakkan ini, sebagian lagi sedih karena akan berpisah dengan Sandella. Ya, aku dan Sandella akan melanjutkan sekolah di SMA yang berbeda. Bisakah aku menjalani kehidupan sekolah tanpa melihat senyum dan keceriaannya?

-

-

-

Dengan semangat, aku menjalani keseharianku sebagai murid baru di sekolah yang baru pula. Begitu banyak orang yang kutemui. Mereka semua berbeda-beda, baik dalam fisik maupun sifat. Aku mulai mengenal banyak orang, terutama teman-teman sekelasku. Tapi ternyata ada seseorang yang aku benci karena insiden waktu SMP dulu, Rosa. Aku terus berharap di tahun ini aku tidak terlibat adu mulut dengan dia. Mari kesampingkan dia. Ada beberapa orang yang aku segani. Teman sebangkuku yang bernama Aryan. Dia baik tetapi banyak bicara. Sebagai teman sebangku yang baik, aku pun harus menjadi pendengar yang baik. Kemudian Elisa, dia duduk di depanku. Dia orang yang dewasa dan bijaksana. Aku suka sifatnya, jarang ada yang seperti dia. Lalu Dhira, teman sebangku Elisa. Dia juga ceria dan banyak bicara. Kalau ngobrol dengan Aryan pasti selalu nyambung.

Diantara tiga teman yang aku segani, Elisa adalah orang yang paling sering kuajak bicara. Bahkan aku sering mengutarakan isi hatiku padanya. Dan dia selalu bisa membantuku dengan saran-sarannya yang bagus. Sesekali dia memberikan kata-kata yang menghiburku ketika aku sedang dalam masalah yang dapat membuatku tenang. Di sisi lain, semua siswi di kelasku tidak ada yang bermutu. Kerjaan mereka hanya menggosip dan membicarakan orang. Sungguh tidak berguna.

-

-

-

Tidak terasa aku sudah menginjak kelas dua. Teman sekelasku di kelas satu dulu tidak ada yang sekelas denganku kecuali bisul yang mengganggu pemandangan. Rosa. Sial sekali aku harus sekelas lagi dengan musuhku itu. Padahal aku berharap dapat sekelas dengan Elisa dan tidak sekelas dengan Rosa. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Sungguh Tuhan tidak mengabulkan permintaanku, mungkin menundanya. Oh, tapi kelas ini tidak akan berubah sampai kelas tiga karena sudah penjurusan. Sial lagi.

Hari-hari yang kujalani cukup terasa menyenangkan sampai terjadi suatu peristiwa...

“Hei, Aihara! Pinjam HP-mu sebentar donk. Pulsaku habis nih...” pinta teman sekelasku yang bernama Giselle.

“Hn, boleh. Tapi jangan lama-lama,” kataku.

“Iya, cuma mau numpang sms sekali aja kok,” katanya meyakinkanku.

Aku memberikan HP-ku pada Giselle dengan niat ikhlas untuk membantunya. Tetapi aku tidak menduga bahwa itu akan membawa dampak lanjut. Esok harinya ia terus meminjam dan meminjam HP-ku. Aku masih dengan ihklas meminjamkannya. Tetapi semakin lama, ia semakin sering meminjam HP-ku, kadang dengan alasan yang tidak masuk akal. Seperti, “Aku mau online di SH Messenger. Tapi kan adanya di HP kamu, di HP aku ga ada,” atau “Cuma mau lihat siapa saja yang online.”

Aku masih bersabar. Tapi ternyata kesabaranku membuahkan hasil yang lebih besar lagi. Akhir-akhir ini aku mendapati history aplikasi Opera Mini di HP-ku berisi halaman-halaman Facebook-nya. Padahal dia hanya bilang padaku untuk online messenger, dia tidak bilang sekalian buka Facebook. Aku sedikit geram, karena pulsaku sering habis karenanya. Sejak saat itu aku tidak mau meminjamkan HP-ku padanya lagi. Tetapi satu pernyataannya mengejutkanku...

“Ra! Pinjem HP donk! Mau o-el bentar,” Giselle kembali meminta padaku.

“Ngga ah, pulsaku tinggal dikit,” aku sedikit berkelit.

“Cuma bentar aja kok. Lima belas menit juga paling lima ratus,” huh, aku semakin sebal dengannya.

“Nggak ah!” aku tetap menolak. Aku sudah kebal dengan segala alasannya.

“Jangan gitu donk, Ra. Kita kan udah satu tahun temenan,” apa maksud perkataannya itu? Memangnya kalau sudah satu tahun berteman, kamu boleh dengan seenaknya memonopoli HP orang??

“Kok kamu berani jahatin aku, Ra. Kamu ga inget dulu waktu kita pacaran? Dan kamu udah ngambil keperawanan aku?” sambungnya sok sedih. Aku merinding mendengarnya. Membayangkannya saja tidak pernah. Bisa-bisanya anak itu bercanda sambil pasang muka serius.

Perkataannya itu kuanggap angin lalu saja. Aku terlalu pusing memikirkannya.

Tetapi belum selesai masalah yang ini. Datang lagi masalah baru. Aku mengikuti sebuah organisasi di sekolahku, tetapi baru saja kuketahui bahwa oraganisasi itu hanya ajang gosip dan ngobrol. Aku memutuskan untuk keluar dari sana karena menurutku tujuan organisasi itu sudah tidak jelas dan tidak berguna.

“Eh, Ali. Aku mau keluar dari organisasi,” kataku dingin tanpa menatap wajahnya.

“Hah? Kenapa?” tanyanya kaget.

“Aku merasa ga nyaman aja,” jawabku jujur.

“Tidak boleh. Kamu ga boleh keluar dari organisasi. Apa alasannya? Apa karena hal yang pernah kau ceritakan dulu?”

“Ya, itu salah satunya.”

“Hm, beri kami kesempatan sekali lagi. Kami akan membuatmu berubah pikiran,” katanya tetap ngotot mencegahku keluar.

“Tidak. Keputusanku sudah bulat.”

Saat aku berkata seperti itu pada Ali, teman sekelasku yang juga anggota organisasi, aku mengira dia tidak sungguh-sungguh mencegahku. Tapi ternyata aku salah.

Esoknya dia bicara denganku.

“Aihara. Kamu sudah ditetapkan sebagai Pemimpin Redaksi,” Ali memberitahukan sebuah berita mengejutkan padaku.

“Apa? Bagaimana bisa? Kapan kalian menentukan?” tanyaku kaget.

“Di rapat kemarin. Pemimpin Redaksi yang sebelumnya sudah menyerahkan jabatannya padamu,” Ali menjelaskan dengan yakin.

“Sudah kubilang aku mau keluar! Kalian malah memberiku jabatan?!” balasku sedikit geram.

“Justru karena itu. Aku beri kamu jabatan supaya kamu tidak bisa keluar.”

“Tapi aku hanya anggota yang tidak aktif!”

“Nanana—aku tidak mau dengar alasanmu lagi,” jawab Ali dengan senyum penuh kemenangan.

Aku benar-benar kesal dengan sikapnya. Sungguh baru pertama kali aku mengenal orang yang egois seperti dia. Tapi kau salah Ali. Tindakanmu tadi membuatku tambah yakin untuk keluar dari organisasi.

Aku yang memang dari dulu senang membantu orang lain ternyata salah diterjemahkan oleh teman-temanku. Mereka yang sudah pernah kutolong dengan ikhlas meminta lebih. Dan jika tidak diberi akan melontarkan perkataan-perkataan yang sejenis dengan apa yang Giselle katakan waktu itu.

“Ra, pinjam PR Kimia donk!”

“Aihara, di ulangan Fisika nanti kita kerjasama ya. Kita kan teman.”

“Ra, anterin ke kantin donk!”

“Tolong bawain ini ke ruang guru ya, Aihara. Aku ada janji. Thanks, fren.”

Berbagai permintaan-permintaan egois yang dilontarkan tanpa memikirkan perasaan si penerima terus menghujani telingaku. Dan yang paling memuakkan adalah mereka mengatasnamakan teman sebagai kedok keegoisan mereka semata. Berkat kalian semua, aku kembali menutup diriku.

Flashback off—

-

-

-

Senyum di wajahku perlahan pudar, aku menundukkan kepalaku tetapi aku tidak menatap tanah di bawahku. Memori-memori yang kembali bermunculan membuatku merasakan perasaan yang kurasakan saat itu. Aku memejamkan mataku. Aku sudah memutuskan. Kali ini aku akan benar-benar menghapus kata teman dari kamus hidupku. Aku tak butuh mereka. Aku masih sanggup berusaha sendiri. Aku masih punya teman. Meskipun hanya satu, yang penting berkualitas.

SIlaturahmi antara aku dan Sandella masih tersambung. Aku banyak bercerita tentang keadaan sekolahku, apakah aku senang bersekolah di sana. Dia pun sering menceritakan keadaan sekolahnya, teman-temannya, guru-gurunya. Dia yang bersifat ceria tentu banyak disegani warga sekolahnya. Bahkan dia pernah bercerita bahwa dia juga berteman dengan tukang sapu dan satpam sekolah. Aku sampai tidak percaya.

Setiap kami bertemu, sifat yang tidak pernah kutunjukkan pada siapa pun pasti selalu muncul dihadapannya. Saat berbicara dengannya, kurasakan rasa bahagia yang tidak pernah kudapatkan di sekolah. Aku selalu berharap waktu dapat berhenti ketika aku bersamanya. Aku ingin merasakan kebahagiaan itu lebih lama lagi.

Sandella merupakan sosok sahabat yang sempurna bagiku. Sifatnya yang bertolak belakang denganku menjadi pelengkap kekuranganku. Kami bagaikan dua potongan puzzle yang bersatu. Saat kami bersatu, tidak ada celah diantaranya. Tertutup sempurna.

Sekolah sudah menjadi neraka bagiku. Tapi aku berusaha tidak peduli. Aku belajar membutakan pandanganku dan menulikan telingaku dari mereka. Dan berhasil. Dulu, sebelum aku belajar tidak peduli, aku masih merasa sakit hati dengan perlakuan mereka. Tapi sekarang aku sudah tidak merasakannya lagi. Dan kalau pun iya, aku punya tempat untuk mengadu. Dengannya, aku berbagi. Dengannya, aku tertawa. Dengannya, aku menangis.

Kamus hidupku sudah tidak tercantum kata teman. Tetapi aku sudah tahu kata apa yang bisa menggantikannya. Teman bukanlah tempat berbagi tawa dan tangis. Teman tidak akan memberi dengan ikhlas dan tulus.

Dengan tinta emas kutuliskan dalam kamus hidupku, pengganti kata teman yang dapat menjadi tempat berbagi dan dapat memberi dengan tulus.

SAHABAT

Dan kata itu tak akan pernah terhapus untuk selamanya. Karena tak ada apapun dan siapapun yang dapat menghapusnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar