Rabu, 26 Januari 2011

Cerpen: Allah yang Maha Mencintai


“Lin, maaf ya…kayaknya kita udah ga cocok lagi…”

Mendengar perkataannya itu jantungku serasa mau meledak. Hanya dengan seutas kalimat pendek yang terlontar dari bibirnya dapat membuat rasa marah, sedih, kecewa, dan terkejut bercampur sempurna di dalam dadaku seperti buah-buahan yang diblender sampai halus tanpa ampas.

Dari sela-sela jariku yang kugunakan untuk menutupi wajahku, kulihat sosoknya berpaling menjauh dariku kemudian menyapa gadis cantik yang baru saja muncul di koridor. Jadi dia pacar barunya, ternyata gosip itu bukan sekedar kabar burung. Seharusnya aku mendengarkan pendapat teman-temanku sejak awal.

Aku bukanlah gadis yang lemah, tapi entah mengapa air asin yang biasanya tidak pernah kukeluarkan kini mengalir begitu saja dengan deras. Aku berlari menghindarinya. Aku harus mencuci mukaku, aku tidak ingin terlihat begitu lemah.

Normal POV

‘Krriiiinggg!’
Bel berbunyi tanda istirahat sudah berakhir. Semua murid memasuki kelas dengan teratur. Mereka sudah siap mengikuti pelajaran selanjutnya. Kecuali satu orang.
Tiga orang yang sedang asyik mengobrol pun menghentikan kegiatan mereka.

“Eh Tika, kenapa tuh soulmatemu. Masuk-masuk kok murung,” kata seorang murid bernama Fina ketika melihat Lina memasuki kelas.
“Iya, kayaknya dia lagi ada masalah,” tambah Silvi, teman sebangku Fina.
“Oh! Coba aku tanyakan dulu,” kata Tika sambil beranjak dari bangkunya lalu menghampiri sahabatnya.
“Hei, Lin! Tadi udah ketemu sama Rei kan? Dia ngajak kamu nonton ya?” Tika menyapa sahabatnya sambil menempati bangku di sebelah Lina.

Lina terdiam, seperti tidak mendengar kata-kata sahabatnya. Tetapi sebenarnya dia mendengarnya, karena reaksi Lina selajutnya sungguh mengejutkan Tika.
“Hei hei, Lina! Kenapa nangis? Haduh! Tenang tenang,” Tika berusaha menenangkan sahabatnya tapi sia-sia, tangisnya semakin menjadi.

Dalam sekejap seluruh penghuni kelas ricuh, mereka berbondong-bondong mengerumuni Lina. Kebiasaan anak sekolah jika ada temannya yang menangis. Tapi keributan itu tidak berlangsung lama. Guru mata pelajaran sudah hadir di kelas. Otomatis semua murid kembali ke tempat duduk masing-masing.

Setelah diberi salam oleh seluruh anggota kelas, Pak Sunaryo -guru matematika- heran melihat salah seorang muridnya.

“Tika, Lina kenapa? Sakit?” Pak Sunaryo bertanya.
“Iya Pak, pusing katanya,” jawab Tika.
“Kalau begitu cepat antar dia ke UKS.”
“Baik Pak.”
Fina dan Silvi saling bertukar pandang, memperkirakan apa yang sudah terjadi dengan teman mereka. Tetapi mereka tidak akan ambil pusing, pasti nanti mereka akan tahu.

-
-
-
Tika mendudukkan Lina di kasur yang tersedia di ruang UKS. Mengambilkan tisu dan minum untuk diberikan kepada sahabatnya. Kemudian Tika kembali mendudukkan diri di sampig sahabatnya.

“Kamu kenapa sih, Lin? Kok tau-tau nangis? Apa ini berhubungan dengan Rei?” tanya Tika penuh perhatian.
Lina tidak menjawab, dia hanya mengangguk.
“Kamu mau cerita? Mungkin bisa aku bantu.”
Wajah yang ditunjukkan Lina benar-benar mencerminkan isi  hatinya. Dia benar-benar terpuruk sampai tidak bisa berpikir. Dengan helaan nafas pendek serta jeda waktu beberapa detik, Lina memulai curhatnya.

“Aku diputusin Rei,” satu kalimat pendek terlontar dari bibirnya.
Mata Tika membelalak, tetapi kembali tenang. Dengan segera dia merangkul sahabatnya. Dia tahu kalau saat selanjutnya, sahabatnya akan kembali menangis.
“Kenapa?! Kenapa aku diputusin?! Aku kurang apa?! Apa aku lebih baik dari pacar barunya?!” Lina berteriak disela tangisnya.
“Kamu tidak kurang apapun kok. Ah, aku punya solusi!” Tika menyemangatinya. Dan berhasil.

Lina meredakan tangisnya, ingin mendengar solusi dari sahabatnya.
“Aku tahu siapa yang bisa jadi pacarmu. Dia ga akan mutusin kamu, Dia ga akan bikin kamu nangis, Dia akan mencintai kamu selamanya,” Tika menjelaskan dengan wajah berbinar-binar.

“Benarkah ada yang seperti itu? Rasanya aku tidak percaya. Apa dia lebih baik dari Rei?,” mendadak Lina kembali murung.

“Tentu saja ada! Dan Dia sangat jauh lebih baik dari Rei!”
“Siapa Dia?”
“Dia itu…ALLAH SWT”

-
-
-
Satu bulan kemudian sejak peristiwa menyakitkan yang dialami Lina.
Sesosok pemuda sedang mencari-cari seseorang. Matanya menyapu pemandangan yang berada 360 derajat di sekelilingnya. Tak lama kemudian dia menemukan orang yang dicarinya.

“Lina!”
Yang bersangkutan menolehkan kepalanya ke sumber suara. Sumber suara tersebut pun menghampiri.

“Rei? Ada apa?” sebenarnya Lina sangat tidak ingin bertemu dengan mantan pacarnya saat ini.
“Ehm, begini, minggu lalu aku dan pacarku sudah putus karena dia tidak suka dengan tabiatku dan aku pikir aku juga tidak terlalu cocok dengannya,” jelas Rei panjang lebar sambil menunduk.

“Jadi, apa hubungannya denganku?”
“Yah…kupikir cuma kamu yang bisa terima aku apa adanya.”
“Ya?”
“Kau mengerti maksudku? Aku ingin kita kembali seperti dulu. Kamu mau kan?” akhirnya Rei mengutarakan maksud sebenarnya.

Lina tersenyum tipis. Sebenarnya dia sudah tahu inti pembicaraan ini, dia hanya menunggu Rei mengatakannya secara gamblang.
“Aku senang kau bilang begitu. Tapi maaf, aku sudah punya yang lain yang sangat mencintaiku. Dan aku tidak akan berhenti mencintainya.”

“Haha, jadi begitu ya? Tentunya banyak yang suka padamu. Jadi aku sudah tidak punya harapan nih?” Rei berkata dengan raut sedih.
“Yah~” Lina hanya memutar bola matanya.

“Baiklah, sepertinya aku akan menyerah saja. Tapi, kalau boleh aku tahu, siapakah cowok beruntung yang jadi pacarmu itu?”

Lina menggelengkan kepalanya.

“Dia bukan cowok…Dia adalah ALLAH YANG MAHA MENCINTAI…”

.Fin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar