Selasa, 20 Juli 2010

Kisah Seorang Penyelam Mutiara


Suatu hari, ada seorang penyelam mutiara yang disewa oleh seorang majikan. Dia diperintahkan untuk menyelam dan mengumpulkan mutiara sebanyak-banyaknya dari dalam laut. Dan setiap mutiara itu akan dibayar sangat mahal oleh majikannya.

Akhirnya dia diperlengkapi dengan segala peralatan menyelam. Baju selam, tabung oksigen, kaki katak, dan senter terpasang di badannya. Dia sudah bertekad untuk hanya mencari dan mengumpulkan mutiara sebanyak mungkin.

Tapi ketika dia mulai menyelam dan akhirnya sampai di dasar laut, dia baru menyadari betapa indahnya dunia bawah laut itu. Bunga karang yang berwrna-warni dan melambai-lambai seakan melambaikan tangan padanya. Berbagai macam ikan-ikan saling berkejaran dengan riang seakan turut mengajaknya untuk bermain. Akhirnya dia lupa pada tujuan semula untuk mencari mutiara.

Begitu sadar kalau oksigen di tabungnya sudah menipis, dia dengan tergesa-gesa mengambil mutiara seadanya dan memasukkannya pada kantung kecil. Dan ketika dia melihat oksigen di tabungnya hanya cukup untuk naik ke permukaan, mau tidak mau dia harus naik.

Tetapi karena dia berenang dengan tergesa-gesa, kantung mutiaranya jatuh karena tersenggol ikan. Akibatnya seluruh mutiara yang jumlahnya tidak seberapa yang sudah dia kumpulkan itu berceceran di dasar laut. Dia tidak bisa kembali lagi, akhirnya dia kembali ke permukaan dengan tangan kosong.

Majikannya yang sudah menunggunya di atas menanyakan dimana mutiaranya. Dia hanya menjawab seadanya dan meminta satu kesempatan lagi untuk kembali menyelam ke dasar laut. Tapi ternyata Sang majikan tidak memberi kesempatan lagi. Di mengatakan kesempatan itu hanya 1 kali.

Cerita di atas sama seperti hidup ini. Kesempatannya hanya sekali. Hidup ini hanya sekali, dan ketika sudah waktunya kita dipanggil pada pemilik tubuh ini, kita tidak bisa meminta kesempatan hidup satu kali lagi.

Ibarat kita menyelupkan jari kita ke dalam samudra, lalu mengangkat jari kita, dan air yang menetes dari ujung jari kita adalah kehidupan dunia, sedangkan air di 7 samudra itu adalah dunia akhirat nanti. Betapa kecil dan singkatnya dunia ini. Tetapi  meskipun singkat, di kehidupan dunia yang singkat inilah yang menentukan kehidupan akhirat kita.

Kehidupan itu seperti gema yang merefleksikan diri kita. Jika kita berbuat baik pada dunia, maka dunia akan baik pada kita. Jangan sekali-kali kita mempunyai sifat sombong di dalam hati kita. Jadilah seperti padi yang seakin berisi semakin merunduk. Karena orang yang masih memiliki kesombongan di hatinya meskipun hanya secuil, diharamkan baginya untuk mencium aroma surga.

Sumber: Pelajaran Agama SMAN 2 Bandung, Selasa, 20 Juli 2010, jam pelajaran ke-9 s/d 10

Tidak ada komentar:

Posting Komentar