Selasa, 20 Juli 2010

Jurnal: Guru Seni Rupa

Konnichiwa! Saya mau nulis lagi nih! Kali ini tentang guru Seni Rupa baru di sekolah saya yang entah jenius atau be-e-ge-o, garing abis, becanda dengan muka serius, ngomong pabalieut kemana-mana. Pokonya baca aja deh, happy reading^^

Ceritanya ini waktu setelah istirahat pertama, kira-kira jam 10. Aku dan temenku baru balik dari mesjid, masuk kelas langsung belajar kimia. Waktu itu ga tau kenapa kepalaku tiba-tiba sakit (keanya g nyambung). Ya oke lah, jam pelajaran kimia selesai, langsung masuk jam pelajaran Seni Rupa. Emang sih sebelumnya anak-anak di kelas udah pada bilang kalo guru seni rupa tuh agak-agak gimana gitu. Tapi kirain ga separah ini.

Jadi ceritanya gini, Sang Guru masuk kelas, langsung memperkenalkan diri, lalu bapak bilang,
“Saya jangan dipanggil bapak karena saya masih muda, saya belum menikah. Nah sekarang kawan-kawan…”

Dipotong oleh suara hati saya, ‘Oh, rasanya kita seumuran ya Pak!’ Gara-gara kata ‘kawan-kawan’ itu =.=’

Nah, beliau lanjut lagi, “Kawan-kawan, sekarang kita ngobrol aja, semester ini kita ga usah belajar karena belajar itu ga penting.” Dengan muka serius si bapak ngomong gitu, kontan semua murid langsung ketawa garing. Parahnya lagi si bapak nyambungin, “Eh, saya serius!”

Batin murid-murid XII IPA 7, ‘Appeuu sih Pak??’

XPPPPP

Kelas kan jadi ribut nih, si bapak yang lagi ngejelasin tiba-tiba ngomong, “Sebentar, saya mau nulis apa, tunggu.” Tapi si bapak ngomongnya BUKAN dengan nada bertanya. Kembalilah seisi kelas tertawa garing =.=’

Akhirnya setelah perkenalan yang Gaje itu, si bapak masuk ke materi. Kirain kalau udah masuk materi keadaan bakal jadi lebih baik, tapi ternyata TIDAK. Beginilah cuplikan materinya:

Pak Guru: “Nah, apa kalian tahu apa arti Seni Rupa?

Murid: (geleng2)

Pak Guru: “Seni Rupa itu adalah segala rupa seni.” (sambil nulis di whiteboard)

Murid: (geleng2 ga percaya)

Pak Guru: “Nah, seni rupa itu ada 2. Seni Murni dan Seni Terapan. Apa kalian tahu apa itu Seni Murni?”

Murid: (kembali geleng2)

Pak Guru: “Kalian ga tau? Seni Murni kan ada di Lembang.” (dengan serius menatap mata masing-masing murid)

Murid: “SUSU MURNI ITU MAH PAAAK!” (semua murid sweatdropped)

Pak Guru: “Oh, baik. Jadi seni murni itu adalah seni yang tidak dipengaruhi hal-hal lain. Sekarang apa kalian tahu Seni Terapan?

Murid: (geleng2 entah yang keberapa kali)

Pak Guru: “Nggak tau juga? Seni Terapan tuh Terapan, Sembilan, Sepuluh…” (belum selesai ngomong)

Murid: “DELAPAAAAN!!”

Batin semua murid, termasuk saya, ‘Ya Allah, sumpah ni guru garing abis plus geje!’

Pak Guru: “Kalian untuk mengikuti pelajaran, harus memenuhi 3 syarat ini. Yang pertama kalian harus gaul (nulis di whiteboard). Kenapa harus gaul? Karena kalau kita gaul, maka kita jadi orang yang kreatif. Saya bisa tahu kalian gaul atau tidak dari mata kalian. Saya juga punya tes yang akan menguji apakah kalian gaul atau tidak, tapi saya tidak akan kasih sekarang.”

Murid: (dalam hati) ‘For God’s Sake! Pembicaraan ini sungguh tidak penting, deminya!’

Pak Guru: “Yang kedua, kalian harus sombong.”

Aku: (dalam hati) ‘Ini guru sesat ya? Kok disuruh sombong sih?? =.=’

Pak Guru: “Kalau kalian punya karya seni, jangan malu untuk menunjukkannya. Misalnya kalian ingin mengumpulkan tugas, tugas itu jangan dibungkus, biar orang lain lihat karya kalian. Kalau perlu kalian tulisin nomer hp kalian disana yang besar, saya yakin pasti ada setidaknya satu orang yang miscall kalian. Kalau ga ada yang miscall, telpon saya aja, biar nanti saya yang miscall.”

Murid: *gubraks* (jatoh berjamaah sambil ketawa garing)

Pak Guru: “Saya serius.”

Murid: “Iya paak!” (kata iya yang terucap karena paksaan)

Sebenarnya penjelasan si bapak masih banyak sampe kalo ditulisin satu-satu bakalan ngabisin lima puluh halaman word. Dan yang pasti semua kata-katanya berisi kegajean, kegaringan, dan teman-temannya. Tidak lama kemudian, kita yang udah pada bosen ngedengerin kata-kata gajenya itu jadi ngobrol masing-masing. Lalu tiba-tiba si bapak bilang,

“Indera ke-1100 saya bilang sebenarnya kalian tidak ingin sekolah, belajar, kalian maunya main di rumah. Kalian tidak usah berdebat, akui saja.”

Si bapak bilang gitu meskipun ga ada satu pun diantara kita yang mau menyanggah, semua udah pada capek dengerin si bapak =.=’ Tapi kata-kata ini membuat murid-murid di kelas mendadak bisu. Tapi lagi-lagi dengan tiba-tiba si bapak bilang,

“Kalian harus tau, saya ini guru seni rupa asli, bukan bajakan.” Sejenak kami memperhatikan, si bapak berjalan ke depan papan tulis dan menulis sesuatu. Kami kira penting, tapi ternyata dengan huruf kapital si bapak nulis “SAYA GURU SENI RUPA ASLI, LAIN BAJAKAN.”

Dalam sekejap, suasana kelas langsung kembali ribut dengan seruan-seruan ‘Ya ampun, bapaak!’, ‘Astagfirulloh garingnya’, dan teman-temannya.

Akhirnya si bapak pamit pulang ke penciptanya, eh, pulang ke ruang guru karena jam pelajaran sudah berakhir dengan kalimat penutup, “Baik, hari ini selesai sampai disini. Mohon maaf kalau ada kata-kata yang…” kata-katanya menggantung. Lalu dengan gerakan menikam perut sendiri, si bapak menyambung, “…nusuk…Assalamu’alaikum…”

Dengan serentak seluruh murid menggumamkan ‘Walaikumsalam…’

Beginilah kata suara hatiku, ‘Mungkin sebenarnya bapak ini jenius, cuman gara-gara terlalu banyak pake otak kanan jadi ga nyambung ngobrol sama orang-orang otak kiri.’
OWARI AJA AH =.=’

1 komentar:

  1. bwakakakakakkakakakak!! Gila saye ampe dibuat senyum2 sendiri bacanaaaaaaaaa!! Wakakakakakakak!!
    Guru seni rupa yang aneh dan garing kriuk2 crispy...(?)

    BalasHapus